Wednesday, April 16, 2014

KISAHKU, KISAH SI CEMPLOK & PARENTING ANAK

Tiba-tiba saja aku ingin menuliskan sesuatu. Pengalamanku setelah 4 tahun meninggalkan kampung halaman, meninggalkan Cemplok dan merajut impian di negeri beton, Hong Kong. Hmmm, semua terasa indah ketika masih di Hong Kong. Rasa-rasanya tak akan ada masalah tentang semuanya.

Tereteng-tengggg...
Ada yang kita lupa bahwa Indonesia, terutama kampungku jauh dari mana-mana. Akses publiknya juga lumayan jauh. Yang lebih parah, aku lupa bahwa Cemplok yang ku tinggalkan selama 4 tahun butuh perhatian super extra untuk menyelaminya. Meski komunikasi tak pernah putus, dan cerita ini dan itu menjadi bekal informasi bagiku untuk memahami Cemplokku. But, ternyata itu semua tak cukup sodara-sodara. 

Begitu aku pulang, Cemplok langsung nempel kayak perangko. Tak seperti anak-anak pada umumnya yang di tinggal ibunya kemudian butuh waktu sekian hari, bahkan minggu untuk meraih kembali simpati. Aku tak memerlukan itu. Ini karena komunikasi yang kita bangun cukup baik selama long distance relationship (LDR). Padahal Cemplok aku tinggal ketika umur 15 bulan dan selama 4 tahun belum pernah ketemu fisik.

Kata-kata pertama yang membuatku terharu adalah "ini ibukku" katanya sambil memeluk erat. Aku punya ayah dan ibu, begitu pengumuman yang ia sampaikan ke seluruh kampung. Jika saja Cemplok bisa mengatakan dengan lugas, ia ingin mengatakan bahwa ia punya orang tua lengkap. Sama seperti teman-teman lainnya. 

"Ibu jangan pergi-pergi lagi ya?" pintanya dengan berkaca-kaca. Aku memeluknya erat, menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi dan membuat Cemplok terkekeh-kekeh senang.

Jetlak itu tentu ada. Oh my God! Jujur, aku sedikit shock mendapati kenyataan yang berbeda. Keseharian Cemplok yang amburadul, di luar kenyataan bahwa dia memang cerdas di atas rata-rata. Cemplok yang manja dan super kolokan, suka ngambeg, ngeyelan dan tak mandiri adalah sifat Cemplok yang jauh dari bayanganku. Membuatku harus belajar banyak hal tentang parenting anak. Kubuka laman-laman parenting di dunia maya, membacanya ayat demi ayat. Butuh kesabaran extra untuk merubah semua kebiasaan negatifnya menjadi positif. Menanamkan karakter baik sejak dini, sebelum semua terlanjur menjadi kebiasaan.

Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh riset dan fokus, fokus plus sabar luar biasa. Butuh pendekatan intens dan keteladanan yang terus menerus. Huuffttt.. Kadang aku juga suka lepas kontrol. Namun ayah Cemplok dengan sabarnya memberi penjelasan secara gamblang serta alasan kepada Cemplok, kenapa kadang aku marah-marah. Atau kenapa ini tidak boleh dan itu boleh. Mulai memberlakukan aturan step by step. Dukungan ayah Cemplok membuatku lebih mudah menanamkan karakter positif pada diri Cemplok yang sudah terbiasa dimanja kakek dan neneknya.

Sebelum aku pulang, faktanya Cemplok itu :
1. Super kolokan dan manja. Apa-apa harus di turuti, jika tidak nangis teriak-teriak. Oh la la laa...
2. Jika sekolah harus di tunggui neneknya yang biasa di panggil Uti, sampai pulang plus jajan yang tak sedikit. Gubrakkks!
3. Jika main tak kenal waktu dan biangnya kotor. 
4. Susah mengerjakan PR dan ngeyelan.
5. Susah makan sayur dan maunya cuma mi instan, bakso atau minum susu sehari 7-8 botol.
6. Tak bisa duduk diam dan ngomongnya suka seenaknya sendiri alias super ceriwis.
7. Masih ngompolan. Alamak!

Yaaahh, namanya juga anak-anak kata tetangga sebelah. Setujukah anda sodara?

Menurutku, anak itu ibarat kertas putih. Dia akan menjadi hitam, putih, hijau atau ungu tergantung yang memberi warna. Yaitu pertama orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Anak akan meniru apa yang dilihat matanya, didengar telinganya. Jadi untuk menanamkan kebiasaan baik harus ada keteladanan yang baik pula. Sering aku mendengar dan membaca kalimat itu. Kini aku benar-benar mempraktekkannya. Yup, anak akan lebih mudah memahami dengan contoh daripada teriak-teriak dengan nada perintah keras. 



Alhamdulillah, setelah 1,5 bulan waktu bersamanya, kini Cemplok sudah jauh berubah. Makan dan mandi sudah bisa sendiri. Ke sekolah tak perlu diantar jemput karena jaraknya memang dekat. Dulunya wajib dan nungguin loh. Sudah bisa memahami aturan-aturan yang memang step by step kita terapkan. Makan sudah tak milih-milih lagi. Waktu main, belajar, ngaji, tidur dan makan mulai teratur. Gosok gigi secara teratur. Pokoknya sudah mulai bisa mandiri dan tidak ngompol lagi.

Sebagai orang tua tentu aku senang sekali. Melihat perkembangan anaknya menuju ke hal yang positif. Peran serta orang tua memang mutlak. Bukankah anak adalah amanat bagi orang tuanya? Meski impian usaha belum bisa di jalankan sesuai rencana, tetapi kemajuan perkembangan Cemplok membuatku bahagia luar biasa. Tak ternilai oleh apa pun. Maklum, Cemplok aku tinggal saat umur 15 bulan, dalam pengasuhan nenek dan kakeknya. Sementara ayahnya juga jarang di rumah karena kerja. Praktis keseharian dengan nenek kakeknya plus di manja pake banget. So, jadilah Cemplok seperti diatas.

Masalah Cemplok sudah bisa membuatku tersenyum lega. Tinggal bagaimana mengarahkan kecerdasannya, membimbingnya menuju impiannya. Bersama-sama mengasah jiwa entrepreneur sejak dini dengan melibatkannya dalam proyek home industri yang mulai kurintis lagi. Aih, Cemplok i love you, honey! Ayahnya juga, miss u! Di sinilah tempatku. Disamping keluarga tercinta. I' love i'nt!

Bytw, PR masih segunung yang menunggu untuk dituntaskan. Bismillah.. Segala niat yang baik akan dapat jalan yang baik pula. Kepada para orang tua yang budiman, yang bermasalah dengan anaknya, keep spirit ya. La tahzan! Pokoknya, jangan menyerah atuh yaak...

Note: 
Tahun ini Cemplok genap umur 6 th. TK nol kecil karena sebelumnya ngambek ga mau sekolah. Go, go, go Cemplok. Kayauuuuu!


Brumband Babussalam Competition 2014


Cemplok & friend at School


Cemplok, Ayah & the Bunny


Di Pusat Pengembangan Ikan, Nambangan, Madiun


Liburan at Ngebel lake


Mancing Mania