Monday, December 23, 2013

Surat untuk Emak

I LOVE U, EMAK!


Dear, Emak...

Kini usiaku telah lewat kepala 3. Menjadi ibu dari seorang Cemplok yang hampir 4 tahun tanpa belai tanganku dan dekap mesra tubuhku. Dalam hati aku menangis setiap saat. Manakala potongan-potongan kenangan tiba-tiba menyergap sukma. Di setiap canda yang hadir via telepon dan Watsapp, saat itu juga dadaku seperti di hantam palu. Antara bahagia dan perih tiada terkira. Ditambah nelangsa. Kau tahu rasa itu kan Emak?

Emak, kau mengerti perasaan seperti ini bukan? Karena engkau menjadi emak lebih dahulu dari aku. Tentu asam garam kehidupan jauh lebih banyak engkau makan. Selama itu pula pengorbanan demi pengorbanan telah kau berikan ikhlas. Tanpa pamrih dan balas jasa. Hanya do'a yang terpanjat, semoga anakmu kelak sukses dan bahagia. Itu lantunmu dalam setiap munajat do'a bukan, Emak?

Kadang mulutmu terlalu bawel dan kita jadi sering berantem. Ah, mungkin aku yang terlalu sensitif. Atau maksudmu hanya mengingatkan, tapi aku menangkapnya berbeda. Entahlah. Waktu itu aku masih sangat muda, belum bisa mencerna maksudmu dengan sempurna. Sekarang, di usiaku yang kepala tiga dan telah menjadi emak pula, baru aku mengerti. Bawelmu, cerewetmu adalah untuk kebaikan kami anak-anakmu. Itu tanda sayangmu. Rasa khawatirmu yang kadang terlalu berlebihan. Bukankah perempuan itu perasa, ya kan Emak?

Kini...
Setelah aku juga menjadi seorang ibu, aku mengerti semuanya. Aku faham kenapa Emak dulu begitu pada kami. Hal yang dulu kita benci, Emak yang bawel, cerewet... Ah, Emak! Pun ketika kau meninggalkan kami dalam waktu yang lama. Aku membencinya, Emak. Bahkan aku sempat merutuki keadaan kita yang tak seberuntung teman-temanku yang lain. Tahukah kau tentang itu, Emak?

Sudahlah, Emak..
Itu adalah masa lalu. Aku juga menjadi seorang Emak yang meninggalkan Cemplok di rumah bersamamu. Jadi aku sangat mengerti rasamu juga rasa Cemplok. Aku mengalami keduanya di masa yang berbeda. Apakah engkau bahagia, Emak? Aku berharap dan mendengar ceritamu, engkau menikmati peranmu menjadi seorang Embah.

I Love U, Emak!
Belakangan kau selalu mengharapkan aku membenahi istanaku. Percayalah Emak, suatu hari itu akan terlaksana. Tetapi tidak sekarang Emak. Banyak hal yang masih harus aku lakukan bersama Cintaku. Percayalah, kami mampu melewati ini semua. Bersama do'a restu dan kasih sayangmu.

Terima kasih, Emak!
Atas semua pengorbanan tanpa pamrihmu. Atas segala kasih sayang, cerewet dan bawelmu. Ini adalah satu paket tentang seorang Emak. Sekarang aku sangat mengerti Emak. Meski kita sering berantem, but I love u, Emak! Maafkan atas segala salah dan khilaf anakmu. Maafkan atas kekurang-ajaran yang kadang memburaikan air matamu. Membuatmu sedih, namun kau kulum sendiri. Tak kau lihatkan kepada kami, meski derita melanda. Senyummu tetap merekah memberikan pengharapan. "Semua akan baik-baik saja, nak" selalu itu katamu. Maafkan jika kami belum mampu membahagiakanmu. Maafkan jika kami belum mampu membalas jasamu, meski kau tak pernah mengharapkan balas jasa. Kasihmu bernama ikhlas, sayangmu bernama tulus. 

Syurga ada di telapak kakimu, Emak..
Janji Tuhan tak kan ingkar. Ridholah atas kami, Emak. Biarkan kami melangkah. Jangan segan meluruskan lngkah kami jika kami bengkok. Jangan sungkan menggandeng tangan kami yanng masih hijau tentang makrifat kehidupan. Bimbinglah dengan luas samudera kasihmu.

Emak..
I Love U, Emak!
Selamat hari Emak ya...


Bapak, Cemplok, Emak, Mbok, Om Ganteng

Cerpen



*DREAMLAND BOX*
By : Pipiet Kinarya

Ines berlari tergesa menuju stasiun MTR, Causeway Bay. Setengah berlari menuruni anak tangga eskalator. Tak peduli nafasnya yang ngos-ngosan. Tak peduli peluh berleleran di dahi dan tengkuknya. Menyibak kerumunan orang-orang yang berjejal. Ada yang menatapnya aneh, tak sedikit yang acuh tak acuh. Ines tak peduli. Terus mempercepat langkah kakinya.

“Pokoknya jangan sampai telat. Titik nggak pakai koma” teringat pesan Mbok bos tadi malam menjelang tidur. Jika telat, sudah pasti Mbok bos akan mengomel panjang kali lebar. Arggghhhhh!

Ines melirik jam mungil di tangan kirinya. Jam monumental yang dibeli dengan gaji pertama Ines, saat masih harus membayar potongan agensi selama 7 bulan. Jam persahabatan, Indri menyebutnya. Sayang, jam persahabatan itu kini sama sekali tak bersahabat. Jarumnya sudah bertengger angkuh diangka 18.45. Padahal Ines harus masuk rumah jam 19.00 tepat. Sementara waktu tempuh yang dibutuhkan dari Causeway Bay ke rumahnya di Sham Shui Po sekitar 20 menit. Ditambah jalan kaki 5 menit dari MTR station untuk sampai rumahnya. 

“Alamat si mbok bos nyanyi Indonesia Raya nieh” batin Ines nelangsa.

Seperti biasa pula, jam 7 malam kondisi MTR selalu penuh sesak. Harum minyak wangi bercampur bau keringat, mengoar di udara. Membuat Ines hampir sesak nafas dibuatnya. Dengan tisyu Ines menyumpat hidungnya. Dan orang-orang masih saja berdesak-desakan di dalam kereta, berjejal-jejal seolah tak akan ada kereta edisi berikutnya. 
******

Ingatan Ines berputar pada kelas entrepreneurship atau wirausaha yang baru saja berakhir 45 menit yang lalu. Masih tergambar jelas di memory Ines. Menelisik ruang kosong di otak Ines. Masih juga melekat hangat kata-kata pak Anton, mentor yang di datangkan oleh salah satu bank ternama dari Jakarta. Semua terpukau. Semua terpesona oleh semangat perubahan yang dibawanya, untuk masa depan lebih baik. Dada Ines bergolak, begitu pula peserta lainnya.

“Merubah rongsokan jadi emas. Itulah inti dari entrepreneur. Menciptakan peluang, berani mengambil resiko terukur dan terus berinovasi. Jika saya bertanya kepada teman-teman disini, mau jadi apakah saya 5 tahun dari sekarang? Kira-kira jawabannya apa ya?” suara pak Anton tegas menggelegar.

Seketika ruangan menjadi hiruk pikuk layaknya pasar kaget. Dengungan lebah memenuhi udara di ruangan yang bisa menampung 1000 orang tersebut. Saling berbisik, saling lempar senyum. “Siapa yang ingin sukses? Siapa yang ingin jadi pengusaha? Siapa yang ingin jadi pengusaha sukses? Ayo tunjuk jari” Suara pak Anton beruntun, kembali cetar membahana. Semua, satu ruangan full mengangkat jarinya tanpa terkecuali. “ Dan yang bermasalah dengan BB, bau badan cukup diam saja ya. Nanti teman disampingnya jadi pingsan, repot kan ?”

GeeerrrR! Wakwakwak! 
Seluruh peserta workshop yang ada di hall room hotel Olympia tertawa. Ines jadi merinding sendiri. “Pengusaha sukses. Bisa dipelajari” gumamnya sendiri menirukan ucapan pak Anton di kelas tadi. Satu pemahaman Ines yang keliru tentang entreprenurship. Satu kalimat pendek, namun mampu mengusik hatinya yang terasa kosong selama ini. Ines mulai berani mereka-reka masa depannya. Menuliskannya dalam buku, menjadi deretan catatan impian yang panjang. Menurut Pak Anton, setiap orang berhak punya mimpi. Jangan takut untuk bermimpi. Sama dengan setiap orang berhak untuk sukses. Caranya dengan menggali potensimu, kemampuan, bakat, lingkungan dan tuliskan sebanyak-banyaknya. Setelah itu pilah mana yang paling dekat dengan dirimu. Fokus dan berproses-lah untuk meraihnya. Jangan pernah takut gagal. Jangan menyerah. Gagal 10 kali, bangkit 11 kali. Itulah jiwa Entrepreneur!

Ines memejamkan mata setelah mendapatkan tempat duduk. Mengurai kembali mimpi-mimpi yang tadi ditulisnya di workshop wirausaha. Menjadi ajimat yang luar biasa. Menggedor sisi hatinya sampai merinding disko. Pokoknya sesuatu banget deh!

******           

“Mbak Ines, kelas bahasa Inggris besok kosong loh. Mbak Ima minta izin tidak bisa mengajar karena ada les tambahan di sekolahnya. Maklum menjelang Unas jadi banyak les tambahan.”  Mas Aris mengatakan itu sambil membereskan buku-buku di Pondok Buku. Rumah baca yang Ines rintis atas kontribusi bersama 6 sahabatnya, Dara di Taiwan, Rere di Singapura, Boy di Malaysia, Indri, Laras, dan Sri di Hong Kong. Mereka semua adalah sahabat maya Ines yang kemudian menjadi se-visi karena buku.

“Bagaimana jika besok kelas bahasa inggris kita gabung kelas mendongeng, mbak Ines?” usul mas Aris sebelum Ines sempat menjawabnya.

“God! Jika Mas Aris bisa mengaturnya, kenapa tidak. Terima kasih ya, Mas. Karena besok ada kunjungan ibu-ibu PKK dari kabupaten untuk kelas kerajinan, jadi saya bakal repot seharian.”

“Okey, ggak masalah Mbak Ines.”

Ines tersenyum lebar. Inilah salah satu impian Ines yang dulu ditulis dikelas entreprenership sewaktu masih di Hong Kong 2 tahun lalu. Mempunyai rumah baca, belajar bersama anak-anak di kampungnya. Kampung terpencil di lereng gunung Wilis. Kampung yang jauh dari akses pendidikan dan pengembangan diri. 

Ternyata bukan daya baca anak-anak dan warga yang rendah, tetapi karena tidak adanya akses yang memadai untuk hal itu. Bersama 6 sahabat Ines yang masih merantau, yang selalu mensuportnya, bersama anak-anak muda penuh semangat dikelilingnya seperti Mas Aris, Mbak Ima, Mbak Ririn dan Mas Najib maka Pondok Buku bisa melakukan aktifitasnya. Menjembatani anak-anak di kampung Sejahtera untuk lebih maju. Merekalah roda penggerak yang mambantu Ines mengembangkan Pondok Buku dan Pondok Kreatif.  Pondok buku bergerak dalam bidang pengembangan diri, maka ada kelas menggambar, kelas mewarnai, kelas tari, kelas mendongeng, kelas bahasa inggris dan kelas teater. Pondok  Kreatif sendiri bergerak di bidang kerajinan yang langsung di pegang Ines sebagai instrukturnya. Tujuannya untuk memberdayakan ibu-ibu supaya lebih produktif. Mampu menghasilkan sesuatu dari lingkungannya dan menjadikan nilai ekonomis. Dua dari impian Ines sudah mulai berjalan. Menuju impian-impian berikutnya. Wisata Edupreneur! Suatu tempat wisata sekaligus tempat belajar.

******           

“Mbak, sudah sampai Tsuen Wan. Ayo turun” seseorang mengguncang tubuh Ines. Tergeragap Ines dibuatnya. Fikirannya belum memasuki ranah kesadaran penuh. Pandangannya menyapu ruangan yang lengang. Sekali lagi mbak berkerudung biru itu mengguncang tubuh Ines.

“Mbak tertidur rupanya” katanya dengan senyum yang manis. “Yuk turun. Semua orang sudah turun kok, tinggal kita aja” katanya halus.

Bagai kerbau dicocok hidungnya, Ines mengikuti langkah mbak berkerudung biru itu keluar kereta. Perlahan kesadarannya mulai merayap. Ketika sudah pada titik penuh, Ines melirik jam dipergelangan kirinya. My God! Sudah pukul 19.20 menit. Bukan terlambat lagi tetapi… Ines merogoh sakunya, mengambil handphone bututnya. Tak peduli dengan tatapan mbak berkerudung biru di sampingnya. Mungkin dalam hati mbak berkerudung biru berkecamuk berbagai praduga. Ah, biarlah. Itu tidak penting. Ada hal penting yang harus Ines lakukan. Menelpon Mbok bos sekarang juga.

“Dhai-dhai, tu emci. Maaf, saya pulang telat. Ketiduran di kereta sampai Tsuen Wan. Ini saya sedang balik arah. Maafkan saya.”

“Kem lon jon keh? Kok bisa? Ya sudah, kamu pulang, mandi dan beresi rumah. Kita sedang makan di luar. Lain kali jangan di ulangai ya” perkataan Mbok bos otomatis mengendurkan seluruh urat saraf Ines yang menegang sejak tadi.

“Ya, Nyonya. Terima kasih.” Alhamdulillah! Ines mengusap wajahnya penuh syukur. Lega. Urusan sama Mbok bos tidak ada masalah. Tak ada nyanyian merdu malam ini. Tetapi kok  rasanya ada hal lain yang masih mengganjal dihati Ines ya. Apa ya?

Mbak berkerudung biru itu, mahsyaAllah! Mbak yang tadi membangunkannya saat tertidur di dalam kereta. Ines lupa mengucapkan terima kasih padanya. Mata Ines segera berputar menyapu ruangan disekitarnya. Celingak-celinguk. Berlari menaiki eskalator menuju lantai atas, mencoba mencarinya dari ujung ke ujung, pada semua pintu keluar dan masuk MTR. Namun sekeras apapun usaha Ines, bayangan mbak berkerudung biru itu tak didapatinya jua.

Kembali Ines menuruni tangga eskalator tetapi tidak dengan kecemasan seperti beberapa menit yang lalu. Mendung kelabu itu sudah berlalu bersama pernyataan si Mbok bos yang tidak marah atas keterlambatan pulangnya.

“Hai, Ndri... Kamu harus dengar ini. Duh, sayang kamu nggak ikut kelas entrepreneur tadi.”

“Apaan sieh, Nes. Aku nggak ngerti maksudmu?” sahut suara di ujung telepon. Ines sedang menelepon sahabatnya, Indri.

“Ini tentang impian, Indri-ku sayang. My dreamland box. Kotak mimpimu juga. Bahwa setiap manusia itu punya potensi sukses. Mewujudkan impian menuju kesuksesan. Orang lain makan nasi, kita juga. Orang lain bisa sukses kita juga bisa!”

“Inesssssssssssssssss! Kamu nggak lagi mabok kan?” teriak Indri histeris yang disambut tawa berderai-nya Ines.  *( Sham Shui Po, 2/12/2013)



Note : 
Cerpen di atas telah dimuat di Apakabar Plus, Edisi #20 Thn VIII * 21 Desember 2013 - 10 Januari 2014.

Satu hal yang bisa ku katakan, ternyata aku bisa! Mematahkan bahwa menulis itu ternyata tidak sulit kok. Hanya butuh keberanian yang cukup. Berani menulis, mengeluarkan ide, gagasan dan fikiran. berani untuk mempublikasikan. Berani untuk belajar dan dan di kritik. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa tulisanku masih jauh dari bagus. Meski begitu aku siap untuk terus belajar dari berbagai sumber literatur, buku, mentor, komunitas dan ahlinya. Terus move on dan do the best!

Yuuukkk, tarikan penamu, kawan..
Ikatlah ilmu dengan penamu, teman..
InsyaAllah sukses, mulia di gengganman...
Amiienn yaa Robbal 'alamin..

Saturday, December 14, 2013

Jurnalistik

TIPS MENULIS,
MENEMUKAN IDE/GAGASAN


Pertanyaan yang sering muncul dari penulis pemula adalah darimana harus mulai menulis? 

Jawabnya adalah dengan menemukan ide/gagasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ide/gagasan adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan cita-cita. Lebih jauh, ide adalah rancangan yang tersusun di pikiran dan di olah secara kreatif sehingga menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Pertanyaan berikutnya, darimana ide itu datang?

Ide bisa datang darimana saja, kapan saja. Dari sekeliling kita, saat teman curhat, saat mengalami kejadian tertentu, saat duduk termenung ide bisa saja muncul tanpa kita duga. Tanpa kita sadari, kadang kita menemukan sebuah ide hebat. Tetapi, apa arti ide hebat dan cemerlang jika anda tidak segera menangkapnya dan menuangkan dalam bentuk tulisan.

Supaya bisa menangkap ide hebat, ada 3 tips sederhana yang bisa anda lakukakan. Yaitu :
  • Membawa buku catatan dan buku bacaan. Kemanapun anda pergi sebaiknya membawa 2 buku tersebut. Buku kecil berfungsi untuk mencatat ide-ide yang muncul tiba-tiba. Ingat bahwa memori manusia terbatas. Jangan sampai ide yang hebat tadi menguap hilang gara-gara lupa. Sementara buku bacaan akan memperkaya ide-ide yang ada di kepala kita.
  • Rajin membaca buku. Bagi penulis baik pemula atau sudah mahir sekalipun membaca buku wajib hukumnya. Kebiasaan membaca buku akan merangsang daya imajinatif. Membaca juga menambah wawasan dan perbendaharaan kosakata baru. Jadi biasakan untuk membawa buku ringan kemana pun anda pergi. Siapa tahu ide segar akan muncul setelah membaca buku.
  • Buka mata, pasang telinga. Tangkaplah ide-ide yang bersliweran di sekitar anda sebanyak-banyaknya. Catatlah hal yang menurut anda menarik, istilah-istilah baru, trend baru. Siapa tahu catatan anda akan berguna suatu hari.
Ide bagi penulis ibarat sebuah nyawa. Tanpa ide, tulisan tak akan berkembang. Ide yang yang hebat juga tidak akan menjadi hebat jika tidak dituangkan ke dalam bentuk tulisan yang runtut.  Sekarang ide apa yang melintas di kepala anda setelah membaca tulisan ini?

Let's write...
Jangan takut salah. Keep learning...
Tulis... tulis... tulis!
Dan jangan ditunda ya...
Happy writer!

* Sumber :
2.  7 Jurus menulis buku best seller, dra. Eni Setiani, Penerbit ANDI, Yogyakarta 2008

Entreprenurship

LOYALITAS PELANGGAN 
Vs 
LOYALITAS SUPLIYER

Minggu ini masih sama dengan minggu kemrin. Senin sampai minggu, dan ketemu senin lagi. Ritme-ku juga sama. Masih menjalankan tugas negara di negeri beton. 2x minggu tidak libur, sedih  tidak bisa ikut kegiatan. Tdak ketemu teman dan sahabat. Tidak bisa nguliner makanan nusantara. Hikkzz... Tetapi aku mendapatkan pelajaran berharga yang melecut semangatku dari kejadian yang lain.

Bukankah pengalaman adalah guru terhebat dalam kehidupan? Ya, beberapa masalah mengharuskan aku mencari titik solusinya. Itu membuatku serasa muda lagi. Semangat lagi. Seperti saat masuk SMA atau dilamar oleh Cinta. Rasa itu bercampur aduk seperti gado-gado di dadaku. 

Aku harus bisa!
Aku pasti bisa!
Aku yakin bisa!

Kilas balik....
Loyalitas pelanggan sudah dipelajari di awal MER batch 1. Loyalitas pelanggan akan tercipta jika kita mampu mempelajari, mengerti, memahami, dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan demikian bisa tercipta loyalitas pelanggan terhadap produk atau jasa yang kita tawarkan


Ini tentang supliyer buku di Pondok Buku 61.
Kita memang punya beberapa supliyer. Dari beragam supliyer itu entah kenapa aku langsung jatih hati semenjak transaksi pertama kepada supliyer B. Meskipun di list katalognya tidak selengkap supliyer A, pun kecepatan distribusinya juga kalah. Harga juga tidak semiring supliyer C. Tetapi si B melayani kami dengan hati. Mendengar segala keluh kesah sebagai pelanggannya. Mempertimbangkan masukan-masukan yang sering kita lontarkan. Menjelaskan sedetail-detailnya jika terjadi permasalahan baik di distribusi buku, order, pengiriman atau lain-lain. Mereka ada selama dibutuhkan. Meskipun hanya sekedar ngobrol. Supliyer B sudah seperti keluarga sendiri. Ada kepercayaan yang terjalin dengan baik. Padahal kita belum bertemu mereka. Hanya lewat dunia maya. Kadang kita sengaja telat membayar tagihan, sekedar nge-tes sejauh mana rasa percaya mereka. Buktinya mereka percaya, tetap melayani kami dan memberikan kelonggaran waktu.

Karakter dan sistem dari supliyer memang berbeda-beda. Belajar dari hal tersebut, aku yang berhubungan langsung dengan suplayer tentu belajar banyak hal. Bahwa untuk menjaga loyalitas pelanggan kita juga harus memperlakukan mereka layaknya sahabat atau keluarga. Bukan sekedar 'raja'. Teori bilang demikian, tetapi akan berbeda taste-nya jika kita terjun langsung di medan perang. Jika kita mampu menyentuh sisi emosi mereka, kebutuhan mereka, dan memerikan nilai lebih maka dengan sendirinya loyalitas pelanggan akan tercipta. Begitu pula supliyer. Dengan etika yang baik, bicara dan bertindak jujur maka supliyer akan mempercayai kredibilitas kita. Sehingga tercipta loyalitas supliyer juga. Ada dua arah yang berkaitan.

Ya ya ya....
Aku harus terus belajar. Mengepakkan sayap bersama proses dan optimisme. Masalah demi masalah membuat sudut pandangku berbeda. Bersyukur ada mentor-mentor kehidupan yang tak kenal lelah terus mendukung semangatku. Cinta, Pak Teddy, Mbak Ollie, Mbak Nunik, Mbak Bunga, Mbak Yuni, Wak Haji, terima kasih untuk semua pelajaran indah minggu ini.

Bismillah....
Tak ada yang tak bisa selagi kita berusaha
Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki
Tetap berjalan tegak dan jangan menengok kebelakang
Memperbaiki, menambal yang diperlukan
Perjuangan tak akan lekang oleh panas dan dingin cuaca
Janji sudah terikrar
Niat sudah dilafadzkan
Bismillah...
Man Jadda Wa Jadda!

* Note:
Kepada teman-teman dan pelanggan Pondok Buku 61, terima kasih. Love u all..





Monday, December 2, 2013

Jurnal # 6

PEMILIHAN LOKASI RITEL


Sewaktu di PER dulu kita sudah mempelajari tentang lokasi usaha, dan di ulang lebih detail di MER batch 1. Tentang PER disarankan untuk membaca jurnalku diawal-awal tahun, mulai bulan Januari, Februari dst. Awal perjalanan merajut mimpi secara fokus, fokus dan fokus. Diulang 3x biar mantap ya...

Menurut lokasinya,  ritel dikelompokkan sbb :
  1. Shooping Centre ( Pusat Perbelanjaan ), merupakan lokasi yang menyediakan tempat parkir kusus untuk pengunjungnya, terdapat sekumpulan ritel dan toko ritel berhadap-hadapan.
  2. City or Town Location ( Ritel di Kota Besar), merupakan lokasi yang terkumpul disuatu tempat di kota-kota besar yang di hubungkan dengan jalan, lalu lintas pejalan kaki yang padat dan mudah di jangkau transportasi umum.
  3. Freestanding Location, merupakan lokasi yang tidak terhubung dengan ritel lainnya sekalipun banyak yang lokasinya dekat dengan mall.
Selain 3 hal diatas masih ada lokasi lain yang bisa dipilih, yaitu :
  1. Airport
  2. Resort
  3. Rumah Sakit
  4. Toko dalam toko
  5. Area serbaguna 
Tentang Pemilihan lokasi ritel kita akan bahas sedikit tentang lokasi Galaxi Mall, Surabaya sebagai contohnya. Biar ada sambungannya dengan tulisan di postingan sebelumnya. Untuk mengenali Galaxi Mall, Surabaya bisa intip link : http://www.galaxymallsurabaya.com/

Galaxi Mall berlokasi di Jl. Dharma Husada No. 35-37 Surabaya, Indonesia merupakan family mall yang berkonsep untuk menyediakan seluruh kebutuhan keluarga dalam satu tempat.. Terletak di kawasan Surabaya Timur yng merupakan kumpulan pertokoan elit . Dengan demikian Galaxi Mall termasuk dalam kategori pusat perbelanjaan atau shooping centre, dimana dalam satu lokasi terdapat lebih atau sekumpulan toko retail, saling berhadapan dan mempunyai tempat parkir yang terpisah dari toko.

Pemilihan lokasi sangatlah penting. Hal ini akan mempengaruhi laju pertumbuhan usaha. Tidak mungkin menjual baju-baju sekelas butik, ber-merek terkenal di dekat pasar tradisional. Tidak akan terjangkau daya beli masyarakatnya. Namun seiring perkembangan tekhnologi masalah pemilihan lokasi tidak menjadi hal yang penting jika kita menggunakan chanel internet atau online shop. Karena online shop tidak memerlukan tempat atau ruangan khusus. Cukup dengan mempunyai komputer, jaringan internet sudah bisa membuat lapak atau toko online melalui media-media yang disedikan di dalam internet, baik itu website, media sosial seperti faceebook, twitter, watshapp, dll. Yang terakhir ini selain efisien, murah dan bisa diakses 24 jam dari belahan dunia mana pun. Syaratnya ada akses internet. Cling!

So, dimanakah lokasi ritelmu? Catat, survei da  analisis dengan teliti. Jangan sampai salah lokasi yang berakibat salah sasaran ya.

Salam entrepreneur!