Wednesday, August 28, 2013

JURNAL # 1

MER BATCH 1

FILOSOFI GELAS KOSONG

Kelas MER Batch 1 (Managemen Entrepreneur Ritel) by UCEO, Universitas Ciputra Entrepreneurship Online telah seminggu resmi berjalan. Materi di buka, maka saya-pun menyiapkan diri seperti gelas kosong. Filosofinya, gelas yang kosong akan mudah di isi oleh air. Berbeda dengan gelas yang sudah terisi air entah sedikit apalagi banyak. Tentu akan cepat penuh, bahkan luber jika di isi berlebihan. Maka saya lebih memilih menjadi gelas kosong setiap kali ada air yang masuk. Setiap ilmu yang masuk diresapi, diamalkan sebaik-baiknya maka gelas itu akan menampung banyak ilmu. Semakin kita membagikan ilmu tersebut, maka semakin banyak pula aliran manfaat-nya, InsyaAllah.

Bismillahirrohmanirrohim.....

Menyiapkan hati disela-sela tugas negara dan belajar wirausaha. Memperdalam ilmu ke level selanjutnya. Jujur, semakin kesini rasanya semakin banyak yang tak kumengerti. But aku tak akan menyerah kalah pada keadaan seperti dimasa lalu. Selagi ada nafas, selagi ada udara di paru-paru dan denyut nadi yang berdetak, selama itu pula semangat ini kan kujaga.

MER memang masih sepi, itu menurutku. Mungkin karena dulu sewaktu di PER2 kelas kami terbiasa banyak tugas, banyak diskusi dan tantangan. Sehingga kami terbiasa untuk update setiap permasalahan. Yaah, lebih baik merefresh otak, membuka kembali materi dasar ritel.

Minggu pertama memang penyegaran terhadap materi dasar ritel. Begitu pula quiz yg wajib di turn in. Sedikit kalang kabut karena materi itu sudah lama sekali. Alhamdulillah, my grup yang baru, mbak Adhyma dan mb Effie cukup kompak. Saling mengingatkan, berdiskusi pada materi yang tidak difahami. Sepertinya materi waralaba agak terlepas dari ingatanku.  Beruntung ada mbah Google yang bisa ditanya kapan saja. Maka, dengan selesainya jurnal ini, selesai juga tugas minggu pertama-ku.

So, welcome MER Batch 1

Kujelang engkau sebelum akhirnya aku pulang, meneruskan mimpi yang tertunda. Aku sudah memulainya dari sini, dari Pondok Buku 61 & Kinarya Pernak-Pernik. Aku sangat yakin dan dengan lantang aku teriakkan, YES, I CAN !



Sham Shui Po,
28 Agustus 2013

YES, I CAN !



INSPIRASI

E - SDMI, 
Victoria Park & Universitas Kehidupan



Victoria Park, Hong Kong ( 25 / 8, 2013 )

Kami sekelompok BMI ( Buruh Migrant Indonesia ) sukses mendeklarasikan E-SDMI, Entrepreneur - Sumber Daya Migrant Indonesia. Transformasi dari BMI yang mempunyai cita-cita bukan hanya sekedar bekerja, menjadi pahlawan keluarga atau penghasil devisa negara saja. Lebih jauh, kami warga E-SDMI bercita-cita untuk mensejajarkan diri  dengan anak bangsa yang lain, yang mempunyai harkat dan martabat yang sama, kesempatan yang sama dalam pengembangan diri, pengembangan ekonomi sejahtera dengan kaki kami sendiri. Bekerja, belajar dan terus meningkatkan kualitas diri agar mampu menjadi Entrepreneur dalam bidang masing-masing.

Tentang E-SDMI bisa diakses linknya disini  : 

Victoria Park, Causewaybe, Hong Kong menjadi saksi upacara merah putih dan deklarasi E-SDMI. Atas bimbingan Bpk Antonius Tanan, direktur UCEC, Universitas Ciputra Entrepreneur Centre, Jakarta maka lahirlah E-SDMI. Alhamdulillah, meski tanpa persiapan akhirnya upacara berjalan dengan khidmat. Lagu Indonesia raya berkumandang, bendera merah putih berkibar meski tanpa tiang, karena memang aturannya tidak boleh bendera negara lain berkibar di sembarang tempat.

Jujur, ini pertama kali aku mengikuti upacara bendera di Hong Kong. Merinding !! Haru menyeruak. Patriotrik tiba-tiba melunjak. Betapa aku cinta Indonesia-ku !!

Walaupun banyak negeri kudatangi,
Yang termashur yang dikata orang...
Namun cintaku dan rumahku,
Disanalah rasa senang....

Tanahku yang kucintai,
Engkau kuhargai....

Dan Victoria Park kembali menjadi saksi perjuangan akan peningkatan kualitas diri, yang bagi kami sebagian BMI amat muskil ditanah pertiwi, ibu kami. Bagi sebagian kami, pendidikan amatlah mahal di bumi yang katanya loh jinawi. Bytw, sekarang itu tak membuat kami berkecil hati. Tengoklah disudut-sudut Victory. Di bawah pohon palem yang hijau ( kami menyebutnya kampus hijau ), di antara rimbunny pohon kemiri dan cemara, wajah-wajah penuh semangat menimba ilmu dari universitas kehidupan.

Ya, kami menamakannya universitas kehidupan yang lebih hebat dari kampus manapun. Bukan gelar akademisi yang didapat dan bukan pula diajar oleh dosen-dosen bergelar yang kami sendiri tak tahu maknanya. Lihatlah calon-calon entrepreneur ada disana, diskusi, merenda asa sekaligus action meski harus kucing-kucingan dengan pakdhe, sebutan polisi imigrasi Hong Kong. Karena memang aturannya BMI tidak boleh berdagang. Peraturan & hukum di Hong Kong berdiri tegak tanpa pandang bulu. 

Warles atau warung lesehan ada ditiap jengkal Victory menyuguhkan beragam khas kuliner nusantara, sedikit mengurangi rasa rindu terhadap makanan khas Indonesia. Dari Victory telah lahir jutawan-jutawan yang mampu mnginspirasi lingkungannya. Menjadi pioner dan mata rantai perubahan di kampung-kampung pelosok negeri. Itulah yang kini banyak dilakukan sebagian besar dari kami. Belajar tak kenal lelah, tak kenal usia diantara padatnya tugas rutin di rumah majikan.

Di sudut-sudut taman Victory ada yang belajar musik, belajar tari, belajar ketrampilan tangan, belajar ngaji, sholawatan, organisasi, volounter, taekwondo, pencak silat, dancer, rias, komputer dan segala macam kursus ketrampilan bisa dijumpai dengan mudah. Bahkan perpustakaan lesehan turut menyumbang bagi berkembangnya budaya baca sehingga bisa menggeser mindset menjadi lebih melek ilmu.

Jujur, awalnya menjadi BMI adalah keterpaksaan hidup atas pilihan yang terakhir. But, aku bersyukur ada di bumi Hong Kong. Bisa belajar berbagai disiplin ilmu. Tentang agama, solidaritas, kekeluargaan, berbagi, empati, bisnis, ketrampilan, komunikasi, entrepreneurship, leadership, organisasi, menulis, literalisasi, tekhnologi, budaya, etos kerja, disiplin, kerja keras dan masih banyak lainnya. Tulisan ini sama sekali bukan bertujuan untuk mengajak pemudi negeri ini untuk datang ke Hong Kong, tetapi jika pilihan hidup mengantar sampai disini, jadilah BMI yang smart. Manfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk bekal ilmu dikemudian hari. Harta tak bisa dibawa mati, tapi ilmu yang diamalkan seperti sungai yang mengalir. Terus memberi cahaya kehidupan bagi sekitarnya.

Percayalah kawan!
Cerita tentang Victory tak ada habisnya. Tentang pengkhianatan baik itu cinta atau persahabatan, pengorbanan, air mata, perjuangan bahkan cinta sejenis. Semua ada di Universitas kehidupan, Victory.

Ini tentang satu sisi Victory, kampung kedua kami BMI di negeri beton, Hong Kong.
Mestinya harus dibuat buku yaa...
Bagaimana pendapatmu, kawan ?



Gladi resik Upacara deklarasi E- SDMI


Liburan di Victory



Tangan-tangan terampil & kreatif


Tari Bali by Mira dkk


Belajar Biola di VBUB

Rebana dlm karnaval

Pray 4 Egypt


Pondok Buku 61

Tuesday, August 20, 2013

PUISI

* JALAN IMPIAN *


Ke arah barat aku pergi
Entah apa yang kucari

Terus dan terus aku berjalan
Lalu berbelok ke selatan
Pada jalan - jalan berbatu
Pada tangis yang tergugu
Entah apa yang kucari
Sampai disini akupun tak mengerti

Langkahku terseok ke Timur
Dengan luka yang tersulur
Kaki yang berdarah
Luka yang bernanah
Terus... terus... dan terus...
Berjalan sampai setengah mampus
Tak jua aku mengerti
Apa sebenarnya yang kucari

Utara-pun kudatangi
Kuharap disana ada yang kucari
Sayang,
seribu sayang...
Tak ada yang peduli
Entah apa yang kucari

4 penjuru angin telah kujejaki
Darah, nanah, keringat dan air mata menemani
Kini aku mengerti
Yang kucari ada di hati
Ya, sedikit aku mengerti
Lelah dan berbagi
Pada setiap insani
Ada harga diri
Nilai lebih seorang manusiawi
Dimana dirimu menjadi berarti

Tiup debu itu
Koyak malas itu
Singsingkan semangat itu
Tegakkan kepalamu
Pada Impian yang terbentang itu
Majulah...
Majulah...
Majulah....
Menjadi Pemenang !

Salam Entrepreneur !

Thursday, August 8, 2013

JURNAL

RAMADHAN 
DI NEGERI BETON

Ngabuburit di lapangan rumput, Victoria Park


** Hong Kong, 9 Juli - 8 Agustus 2013.

 Ini Ramadhanku ke-3 di Negeri Beton !
Alhamdulillah, masih diberi kekuatan, kesehatan untuk menjalankan ibadah puasa tahun ini. Tak jauh beda dengan 2 Ramadhan sebelumnya, ada rasa ngilu menusuk hati jika mengenang masa-mesa mesra di kampung bersama keluarga, suami tercinta. Saat buka dan sahur. Suasana religius yang sangat kental di kampungku, taraweh, takjil, tadarus al-Qur'an di mushola atau masjid bisa nyampai jam 1 atau 2 dini hari. Tradisi megengan di awal puasa, nuzulul qur'an, selikuran dan megeng lebaran adalah ritual selamatan yang bertujuan mengucapkan syukur pada Illahi Robby. Ambengan di atas nampan, leser atau baki beralas daun pisang berisi nasi dan lauk pauk komplet, yakni kering kentang, mie, telur, ayam, tempe dan tahu plus apem dan pisang adalah hal yang selalu ditunggu semua orang. Tua, muda, anak-anak, wanita sah-sah saja. Makan bersama dalam satu wadah, di Mushola atau Masjid setelah taraweh sungguh berkah tak terhingga.

Mendekati lebaran adalah moment yang ditunggu anak-anak dikampungku. Dimana acara ater-ater, yakni tradisi mengantar makanan yang sudah dimasak matang ( sekarang sudah bergeser, bisa berupa sembako, kue-kue atau parcel ) ke saudara atau tetangga kanan kiri. Dan yang ditunggu apalagi jika bukan sangu atau angpao lebaran.

Masihkah tradisi itu ada dikampungmu, kawan ?

Ramadhan di negeri beton tentu saja jauh berbeda dari itu semua.

Hidup diantara masyarakat yang mayoritas non muslim adalah godaan tersendiri. Aneka makanan dan minuman terpampang jelas di depan mata. Belum jika majikan mengajak makan bersama di luar. Udara di musim summer ( musim panas) yang berkisar 32' C - 34' C membuat tenggorokan serasa terbakar. Oh ya, tradisis orang Hong Kong adalah jalan kaki kemana - mana. Jadi kompletlah godaan puasa itu.

Puji syukur alhamdulillah, aku mendapatkan majikan yang meskipun cerewet tetapi demokratis. Sehingga acara ibadahku bisa berjalan apa adanya. Termasuk sholat dan puasa. Dengan catatan pekerjaan-ku beres dengan baik. Jadi aktivitas buka dan sahur juga biasa saja. Bahasa Hong Kongnya si mbok bos emlei lei ( tidak perduli - red ) asal semua perintahnya beres.

Awalnya si mbok Bos kaget seperti kebanyakan majikan lainnya, ketika aku minta izin untuk menunaikan puasa Ramadhan. Mereka takut, jika tidak makan bagaimana punya tenaga, bekerja dan urusi anak-anak? Bagaimana jika mati? Seharian tidak makan? Cisin! Itu reaksi para majikan pada umumnya, begitu pula si mbok bos. Dan aku meyakinkan bahwa tidak ada yang berubah dari pekerjaanku meski aku puasa. It's so simple! Dan begitulah adanya. Aku mengantongi izin itu. Alhamdulillah yaakk...

But, tidak bisa dipungkiri sedih itu mendera kala buka, tarawih dan sahur. Biasanya menyediakan buka dan sahur untuk suami dan keluarga, ngabuburit atau safari ramadhan dari masjid ke masjid. Tadurusan dan kebiasaan lari pagi atau jalan santai setelah subuh. Uppffttt! Semua itu menyesakkan. Sementara disisni, di Hong Kong terpenjara oleh ruang dan waktu. Pun ketika hari libur tiba, hari minggu juga tidak bisa menikmati buka puasa bersama kawan karena kewajiban pulang yang harus ikut aturan mbok bosku. Jam 19.30 nyampe rumah padahal buka puasa pasti jam tujuh lebih. Begitu pula dengan liburku yang mafan, jarang di hari minggu dan kebetulan selama ramadhan malah ga libur kecuali diakhir ramadhan. Jadi tidak bisa mengikuti kajian-kajian selama ramadhan.

Ini kisahku. Salah satu kisah menjalankan ibadah puasa di negeri beton ( Hong Kong ), diantara kisah suka dan duka temen-temen BMI lainnya. Ada yang sembunyi-sembunyi puasanya, begitupun pas sahur makanan yang sudah pasti beli sendiri harus di sembunyikan dibawah bantal. Supaya tidak ketahuab majikan. Ada yang dipaksa ga boleh puasa sampai diinterminit ( di PHK ). Namun tidak sedikit majikan yang baik dan houkanjong ( memperhatikan ) melebihi sang ibu.

Apapun itu kisahnya, bersyukur itu wajib!
Semoga dipertemukan lagi dengan ramadhan mubarrokh tahun depan, dengan lebih berwarna,  dimanapun kita berada.
Allohumma aamiien !


* Foto sebagian dari Bunda Mega, terima kasih.


Makanan berbuka, Victoria park

Ngabuburit, sisi lain Victoria park

Kajian & Kultum

Saturday, August 3, 2013

Dunia Buku

Centhini 1
( 40 Malam Mengintip Sang Pengantin )





Saya tidak tahu, bagaimana perjalanan ini dikenang.
Tetapi saya merasa, ketidaktahuan itu justru mengundang saya dalam perjalanan-perjalanan menantang. Pada masa kini, hingga kelak ajal menjemput.

********

Gila !
Itulah koment pertama ketika baca buku ini. Mungkin aku terlambat membacanya, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bahkan niat saja tidak?  Terlepas dari itu, budaya baca di negeriku tercinta sangat rendah bila di bandingkan dengan budaya baca di negara tetangga. Atau karena akses bacanya yang tidak merata? Ah, itu sudah menjadi rahasia umum. Jempol dinosaurus ( mengutip kebiasaan temen di Fb ), salut sedalam-dalamnya kepada orang-orang yang intens dan secara sadar, seikhlas-ikhlasnya menuliskan segala literatur, membangun komunitas-komunitas buku, perpustakaan, taman bacaan, kajian literasi dan seterusnya yang dengan demikian generasi semacam aku bisa menikmati hasil mahakarya masa lalu, menjadi rujukan berbagai generasi bahkan lintas negara. Serat Centhini memang luar biasa! Penuturannya gandes luwes, bisa dijabarkan dalam segala aspek kehidupan secara luas.

Membuka halaman pertama, bertemu dengan kata pengantar seperti umumnya buku lain. Justru ini yang paling aku suka. Dari kata pengantar aku jadi tau wajah buku, apakah bagus ( menurut versiku ) atau gitu-gitu aja. Membaca pengantar dari penulisnya, Sunardian Widono menjabarkan secara gamblang sejarah penulisan Serat Centhini yang pada awalnya bernama Suluk Tembangraras, ditulis oleh tiga pujangga keraton Surakarta th 1815, yakni Ki Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara dan ki Ngabehi Sastradipura atas ide dan gagasan Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja dari Keraton Surakarta.

Novel ini hanya salah satu dari sekian karya yang diunduh dari Serat Centhini. Jadi jangan kaget jika ada beberapa versi, namun semua dirujuk dari karya yang sama, Suluk Tambangraras yang lebih dikenal dengan Serat Centhini.

Kenapa kok Centhini ?
( Baca terus ya... )

Cacala
* Pembuka

Cerita dibuka dengan kedigjayaan dan kekuasaan Sultan Agung Anyakrakusuma, penguasa Kerajaan Mataram yang mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, meliputi hampir seluruh pulau jawa,  memerintahkan Pangeran Pekik, iparnya yang tak lain suami dari adik perempuannya, Ratu Pandansari untuk menaklukkan Kasunanan Giri. Disinilah cerita itu bermula, Kasunan Giri hancur, tidak sepadan dengan pasukan Mataram yang gagah berani dan berjumlah ribuan. Sunan Giri melarikan diri, pun ketiga putranya, Jayengresmi, Jayengsari, Rancangkapti lari kontrang-kantring (tunggang langgang - red) menjadi buron kerajaan Mataram. Dalam pelariannya, ketiga putra Sunan Giri berpencar dan Jayengresmi yang menjadi tokoh central dalam cerita ini ngangsu kawruh ke berbagai penjuru angin. Setelah pengembaraannya dan mengalami pergulatan spiritual ( islam ) berganti nama menjadi Syekh Amongraga. Dalam pencariannya akan kedua adiknya yang terpisah, akhirnya bertemulah dengan Tembangraras, putri Ki Bayi Panutra, sesepuh dan tokoh panutan di Wanamarta.

Inilah Ceritaya...

Novel bercerita tentang pertemuan Syekh Amongraga dengan Tambangraras yang kemudian karena cinta pada pandangan pertama Tembangraras pun menjadi istrinya. Centhini, sang pembantu, dayang, batur  kinasih  Tambangraras ditugasi untuk menunggui sang pengantin  selama 40 hari, 40 malam. Menurut kepercayaan orang jawa, jika selama 40 hari masa pingitan sebelum akhirnya pindah kerumah sendiri tidak terjadi keburukan maka kedepannya juga akan baik - baik saja rumah tangganya. Disini-lah peran Centhini sebagai spionase, telik sandi atau mata-mata yang menjadi sumber informasi bagi sekitarnya. Pada masa itu, harga sebuah keperawanan adalah mutlak yang jika sudah terenggut membuktikan sejatining perempuan dan harus diruwat dengan berbagai upacara. Dipercaya supaya calon jabang nayi nantinya selamat dan tidak ada kekurangan apapun. Inilah tugas Centhini, apalagi jika bukan tentang menemani pengantin yang menjadi pusat perhatian seluruh Wanamarta kemanapun pergi, kecuali tidur tentu saja. Apa saja yang dilakukan pada malam-malam pengantin, terutama erat kaitannya dengan pecah telor sang pengantin wanita ( istilahku sendiri ), saresmi kata orang jawa atau lepasnya keperawanan seorang perempuan setelah menikah.

Jujur, aku terkejut dengan pola pikir Centhini pada masa itu. Tengoklah perang batinnya soal keperawanan.
Aku tidak mempercayai omongan itu. Terlalu naif dan sederhana. Betapa menyedihkannya, bahwa dalam perkawinan perempuan hanyalah sebagaimana barang. Keaslian barang, kesucian barang, kemulusan barang, keperawanan barang. Barang atau benda yang dipakai oleh pemakainya, yakni lelaki. 
Sekiranya perempuan tidak mengeluarkan darah, sudah tidak perawan lantas apa yang terjadi? Dikembalikan ke orang tua ? Dicerai ? Mengapa hanya  diukur dari sudut lelaki? Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya? Mengapa tidak ada pertanyaan, apakah lelaki juga masih suci? Belum pernah memakainya sebelum hari perkawinan? * ( Centhini 1, hal 244 )

Oh, da yang lupa. Wanamarta adalah sebuah daerah di Bang Wetan ( sekarang Jawa Timur ) dimana digambarkan masyarakatnya gemah ripah loh jinawi, murah sandang pangan, hidup rukun, gotong royong dalam lingkup ajaran islam tetapi juga memegang adat budaya jawa yang kental. Disini digambarkan bagaimana kehidupan penduduk pada masa itu. Bagaimana cara berpakaian, kendaraan, rumah, perabotan dijadikan sebagai tolak ukur status seseorang. Belum lagi kekayaan kuliner yang sepertinya tak pernah kehabisan bahan dan cara penyajian, dibakar, dikukus, digoreng dst. Selama 40 hari pengantin tak habisnya berpesta pora, ada saja makanan aneka rupa tersaji. 

Tidak hanya itu...

Soal falsafat hidup, urip manunggaling gusti, hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya, tentang kesabaran, keikhlasan serta ajaran agama islam yang kental tetapi masih tercampur baur kebudayaan dan adat jawa. Sesajen, kenduri, ngalap berkah, weton, perhitungan hari baik dan buruk dan jika kusebutkan semuanya tak kan habis kita belajar darinya.

Karena kesabaran itu tiada batas, maka mestilah karena keikhlasan. Ikhlas, bahwa semuanya pastilah Allah yang berkehendak. Allah yang mengatur semuanya. Manusia hanya melakoninya, menjalaninya. Manusia diwajibkan untuk berikhtiar, namun fitrahnya itu harus berpulang pada yang Kuasa. Kita hanya pasrah mengenai hasilnya, bukan pasrah akan kehidupan ini. Hidup harus diperjuangkan, karena sebagai khalifah, manusia menyandang amanat. Untuk menegakkan kebenaran dan keindahan Allah dimuka bumi.  * ( Centhini 1, hal 113 )

Akhirnya,
Hanya berucap puji syukur alhamdulillah! Aku masih diberikan kesempatan membaca buku Centini dalam versi novel ini, buku tentang khasanah budaya jawa, adat negeriku yang agung. Terlepas dari Serat Centhini yang disebut-sebut sebagai kamasutra-nya jawa, karena memang memaparkan secara lugas tentang seksualitas, hubungan suami istri, hedonisme bahkan sampai posisi dituturkan tanpa tabu. Ini pula alasannya kenapa orang-orang luar negeri banyak mengkajinya. Ada serat centini versi perancis, ditulis oleh Elizabeth D. Inandiak dengan judul Les Chants de l'ile a dormir debout le Livre de Chentini ( 2002 ).

Terlepas dari itu semua, entah kenapa aku pingin menulis dan menulis. Meninggalkan warisan literatur untuk anak cucu kita. Mungkin saja tulisanku pada saat ini tidak dianggap oleh siapa-siapa. Tetapi bayangkan jika 50 th mendatang, 100 tahun kemudian, bukankah akan menjadi catatan sejarah peradaban ?

So, lets go writing !