Centhini 1
( 40 Malam Mengintip Sang Pengantin )
Saya tidak tahu, bagaimana perjalanan ini dikenang.
Tetapi saya merasa, ketidaktahuan itu justru mengundang saya dalam perjalanan-perjalanan menantang. Pada masa kini, hingga kelak ajal menjemput.
********
Gila !
Itulah koment pertama ketika baca buku ini. Mungkin aku terlambat membacanya, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bahkan niat saja tidak? Terlepas dari itu, budaya baca di negeriku tercinta sangat rendah bila di bandingkan dengan budaya baca di negara tetangga. Atau karena akses bacanya yang tidak merata? Ah, itu sudah menjadi rahasia umum. Jempol dinosaurus ( mengutip kebiasaan temen di Fb ), salut sedalam-dalamnya kepada orang-orang yang intens dan secara sadar, seikhlas-ikhlasnya menuliskan segala literatur, membangun komunitas-komunitas buku, perpustakaan, taman bacaan, kajian literasi dan seterusnya yang dengan demikian generasi semacam aku bisa menikmati hasil mahakarya masa lalu, menjadi rujukan berbagai generasi bahkan lintas negara. Serat Centhini memang luar biasa! Penuturannya gandes luwes, bisa dijabarkan dalam segala aspek kehidupan secara luas.
Membuka halaman pertama, bertemu dengan kata pengantar seperti umumnya buku lain. Justru ini yang paling aku suka. Dari kata pengantar aku jadi tau wajah buku, apakah bagus ( menurut versiku ) atau gitu-gitu aja. Membaca pengantar dari penulisnya, Sunardian Widono menjabarkan secara gamblang sejarah penulisan Serat Centhini yang pada awalnya bernama Suluk Tembangraras, ditulis oleh tiga pujangga keraton Surakarta th 1815, yakni Ki Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara dan ki Ngabehi Sastradipura atas ide dan gagasan Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja dari Keraton Surakarta.
Novel ini hanya salah satu dari sekian karya yang diunduh dari Serat Centhini. Jadi jangan kaget jika ada beberapa versi, namun semua dirujuk dari karya yang sama, Suluk Tambangraras yang lebih dikenal dengan Serat Centhini.
Kenapa kok Centhini ?
( Baca terus ya... )
Cacala
* Pembuka
Cerita dibuka dengan kedigjayaan dan kekuasaan Sultan Agung Anyakrakusuma, penguasa Kerajaan Mataram yang mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, meliputi hampir seluruh pulau jawa, memerintahkan Pangeran Pekik, iparnya yang tak lain suami dari adik perempuannya, Ratu Pandansari untuk menaklukkan Kasunanan Giri. Disinilah cerita itu bermula, Kasunan Giri hancur, tidak sepadan dengan pasukan Mataram yang gagah berani dan berjumlah ribuan. Sunan Giri melarikan diri, pun ketiga putranya, Jayengresmi, Jayengsari, Rancangkapti lari kontrang-kantring (tunggang langgang - red) menjadi buron kerajaan Mataram. Dalam pelariannya, ketiga putra Sunan Giri berpencar dan Jayengresmi yang menjadi tokoh central dalam cerita ini ngangsu kawruh ke berbagai penjuru angin. Setelah pengembaraannya dan mengalami pergulatan spiritual ( islam ) berganti nama menjadi Syekh Amongraga. Dalam pencariannya akan kedua adiknya yang terpisah, akhirnya bertemulah dengan Tembangraras, putri Ki Bayi Panutra, sesepuh dan tokoh panutan di Wanamarta.
Inilah Ceritaya...
Novel bercerita tentang pertemuan Syekh Amongraga dengan Tambangraras yang kemudian karena cinta pada pandangan pertama Tembangraras pun menjadi istrinya. Centhini, sang pembantu, dayang, batur kinasih Tambangraras ditugasi untuk menunggui sang pengantin selama 40 hari, 40 malam. Menurut kepercayaan orang jawa, jika selama 40 hari masa pingitan sebelum akhirnya pindah kerumah sendiri tidak terjadi keburukan maka kedepannya juga akan baik - baik saja rumah tangganya. Disini-lah peran Centhini sebagai spionase, telik sandi atau mata-mata yang menjadi sumber informasi bagi sekitarnya. Pada masa itu, harga sebuah keperawanan adalah mutlak yang jika sudah terenggut membuktikan sejatining perempuan dan harus diruwat dengan berbagai upacara. Dipercaya supaya calon jabang nayi nantinya selamat dan tidak ada kekurangan apapun. Inilah tugas Centhini, apalagi jika bukan tentang menemani pengantin yang menjadi pusat perhatian seluruh Wanamarta kemanapun pergi, kecuali tidur tentu saja. Apa saja yang dilakukan pada malam-malam pengantin, terutama erat kaitannya dengan pecah telor sang pengantin wanita ( istilahku sendiri ), saresmi kata orang jawa atau lepasnya keperawanan seorang perempuan setelah menikah.
Jujur, aku terkejut dengan pola pikir Centhini pada masa itu. Tengoklah perang batinnya soal keperawanan.
Aku tidak mempercayai omongan itu. Terlalu naif dan sederhana. Betapa menyedihkannya, bahwa dalam perkawinan perempuan hanyalah sebagaimana barang. Keaslian barang, kesucian barang, kemulusan barang, keperawanan barang. Barang atau benda yang dipakai oleh pemakainya, yakni lelaki.
Sekiranya perempuan tidak mengeluarkan darah, sudah tidak perawan lantas apa yang terjadi? Dikembalikan ke orang tua ? Dicerai ? Mengapa hanya diukur dari sudut lelaki? Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya? Mengapa tidak ada pertanyaan, apakah lelaki juga masih suci? Belum pernah memakainya sebelum hari perkawinan? * ( Centhini 1, hal 244 )
Oh, da yang lupa. Wanamarta adalah sebuah daerah di Bang Wetan ( sekarang Jawa Timur ) dimana digambarkan masyarakatnya gemah ripah loh jinawi, murah sandang pangan, hidup rukun, gotong royong dalam lingkup ajaran islam tetapi juga memegang adat budaya jawa yang kental. Disini digambarkan bagaimana kehidupan penduduk pada masa itu. Bagaimana cara berpakaian, kendaraan, rumah, perabotan dijadikan sebagai tolak ukur status seseorang. Belum lagi kekayaan kuliner yang sepertinya tak pernah kehabisan bahan dan cara penyajian, dibakar, dikukus, digoreng dst. Selama 40 hari pengantin tak habisnya berpesta pora, ada saja makanan aneka rupa tersaji.
Tidak hanya itu...
Soal falsafat hidup, urip manunggaling gusti, hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya, tentang kesabaran, keikhlasan serta ajaran agama islam yang kental tetapi masih tercampur baur kebudayaan dan adat jawa. Sesajen, kenduri, ngalap berkah, weton, perhitungan hari baik dan buruk dan jika kusebutkan semuanya tak kan habis kita belajar darinya.
Karena kesabaran itu tiada batas, maka mestilah karena keikhlasan. Ikhlas, bahwa semuanya pastilah Allah yang berkehendak. Allah yang mengatur semuanya. Manusia hanya melakoninya, menjalaninya. Manusia diwajibkan untuk berikhtiar, namun fitrahnya itu harus berpulang pada yang Kuasa. Kita hanya pasrah mengenai hasilnya, bukan pasrah akan kehidupan ini. Hidup harus diperjuangkan, karena sebagai khalifah, manusia menyandang amanat. Untuk menegakkan kebenaran dan keindahan Allah dimuka bumi. * ( Centhini 1, hal 113 )
Akhirnya,
Hanya berucap puji syukur alhamdulillah! Aku masih diberikan kesempatan membaca buku Centini dalam versi novel ini, buku tentang khasanah budaya jawa, adat negeriku yang agung. Terlepas dari Serat Centhini yang disebut-sebut sebagai kamasutra-nya jawa, karena memang memaparkan secara lugas tentang seksualitas, hubungan suami istri, hedonisme bahkan sampai posisi dituturkan tanpa tabu. Ini pula alasannya kenapa orang-orang luar negeri banyak mengkajinya. Ada serat centini versi perancis, ditulis oleh Elizabeth D. Inandiak dengan judul Les Chants de l'ile a dormir debout le Livre de Chentini ( 2002 ).
Terlepas dari itu semua, entah kenapa aku pingin menulis dan menulis. Meninggalkan warisan literatur untuk anak cucu kita. Mungkin saja tulisanku pada saat ini tidak dianggap oleh siapa-siapa. Tetapi bayangkan jika 50 th mendatang, 100 tahun kemudian, bukankah akan menjadi catatan sejarah peradaban ?
So, lets go writing !