MOVE
ON,
Putuskan
Mata Rantainya!
By
: Pipiet Kinarya
Atau
pikiran seperti ini, kok ada ya orang yang terlahir ke dunia dalam keadaan yang
lebih makmur, bahkan sangat makmur, serta memiliki peran dan pengaruh yang
besar bagi sekitarnya, bahkan bangsa ini? Kita juga merasa betapa beruntungnya
mereka. Hidup berkecukupan, mau apa tinggal gesek, tinggal pencet, tinggal
minta sudah ada yang melayani. Kemana-mana ada yang mengantar. Hidup seperti dalam
negeri dongeng. Sim salabim maka adalah dia. Enak banget ya hidup seperti itu?
Barangkali kita lupa bahwa ada hukum sebab akibat yang sangat kuat berlaku di muka bumi ini. Termasuk hukum sebab akibat dalam hal kemakmuran secara ekonomi. Ketika kita melihat keluarga yang sukses seperti sekarang bahkan sangat sukses, sangat makmur dan berpengaruh, maka kondisi ini merupakan suatu akibat. Jika kita telusuri penyebabnya, ternyata dalam sejarah keluarga itu pasti akan ditemukan salah seorang dari generasinya mengambil alih tanggung jawab dan bekerja keras untuk memutuskan mata rantai ketidakmakmuran atau kondisi tidak baik yang diwariskan generasi sebelumnya, dan mereka berhasil. Maka generasi berikutnya bisa menikmati hasilnya dan tinggal melanjutkannya.
Jika anda berfikir demikian, idem. Semakin kesini, semakin saya tidak mengerti. Sampai
akhirnya saya bersinggungan dengan kelas Mandiri Sahabatku th 2011 (bukan
bermaksud promosi) yang akhirnya mengenalkan saya pada dunia entrepreneurship / wirausaha. Disini titik
kesadaran saya seperti disentak dari mimpi tidur yang panjang. Mimpi yang tak pernah
berujung pangkal pada awalnya. Yang hanya berani saya lukiskan pada
langit-langit kamar, dipanjatkan dalam setiap do’a tanpa tahu harus darimana memulainya. Seketika
itu juga saya sadar. Harus ada yang dirubah. Mimpi harus diwujudkan. Bukan
sekedar direncanakan, ditulis, diangan-angan dan jadi bunga tidur saja. Mulai
darimana? Ya dari diri sendiri. Niat yang kuat. Sangat kuat. Harus move on nieh, dan memutuskan mata rantainya.
Mata rantai tidak mungkin menjadi kenapa tidak? Tidak bisa, masak sieh? Sulit,
ternyata tidak juga!
Senang rasanya ketika satu persatu sahabat saya menemukan
dunianya, kemudian move on, dan belajar memutuskan mata rantai yang selama ini
membelit hidupnya. Membelenggu begitu kuat sehingga menutup pintu sukses itu
sendiri. Catatlah mbak Atik,37 th (nama samaran) asal dari Madiun. Dahulu setiap
kali libur hanya duduk di taman, ngobrol, shooping,
karaoke dan begitu saja selama 6 tahun bekerja di Hong Kong. Alhamdulillah, tahun ini
memutuskan untuk berubah dengan belajar make
up disalah satu tempat kursus tata rias lesehan di Victoria Park. Impiannya
setelah pulang nanti adalah mempunyai salon rias manten dan usaha yang
menyertai bidang itu. Mbak Atik berhasil keluar dari zona nyaman-nya dan rela waktu liburnya yang biasa have fun menjadi libur yang diisi dengan
belajar tata rias. Capek, pastinya. Pengorbanan waktu, materi, fikiran sudah
tak dihitung lagi. Mbak Atik yang sekarang jauh berbeda, mempunyai tujuan yang
jelas, menata masa depan penuh optimisme. Sehingga, setelah pulang nanti mampu mengembangkan
ketrampilan meriasnya menjadi ladang usaha. Bahasa entrepreneurnya dari hobby
menjadi hoki. Why not?
Itu hanya salah satu contoh dari teman-teman BMI yang
berani move on. Masih banyak yang lainnya, sejak workshop, training wirausaha
menyerbu Hong Kong beberapa tahun terakhir ini. Sejak perpustakaan lesehan
menjamur dan memberikan kontribusi yang tidak sedikit pada budaya baca dan perubahan
mind set kita semua. Sejak ada
sekolah kejar paket setara SMP dan SMU, lembaga kursus formal dan non formal.
Kuliah dan paket-paket pembelajaran lainnya. Berbagai media cetak berbahasa
Indonesia yang juga menyediakan kolom khusus wirausaha. Pemanfaatan internet
dan media social pun menyumbang
aktif. Sejak itu BMI Hong Kong menjadi pembelajar yang aktif, cerdas dan
mandiri. Maka, jika kita berjalan dari taman ke taman, jembatan demi jembatan,
selalu kita temui komunitas pembelajar di tiap sudutnya. Ada geliat perubahan
disana.
Sekarang
tergantung kita sendiri, jika selama ini masih begini-begini saja maka harus
ada yang dirubah. Apakah kita akan mengambil tanggung jawab, belajar lebih
keras, bekerja dengan cerdas, keep move
on dan memutus mata rantainya, dan go
to success. Atau hanya puas dengan duduk di kursi penonton sambil bertepuk
tangan?
Break
the chain! Go success as a great entrepreneur! Yes, You Can!
( * Sham Shui Po, 8 Okt
2013)
Note : Opini dimuat di Tabloid Apa Kabar Plus, Hong Kong edisi # 18 Thn VIII * 23 November - 6 Desember 2013.Tulisan pertamaku yang di muat oleh media. Ya, yang pertama itu selalu spesial. Thank's To Allah atas segala kekuatan dan keberanian yang akhirnya mematahkan lagi mata rantai tidak bisa. Mbak Yuni Tze, Bu boss yang cantik, terima kasih atas sharing-sharingnya yang tak kenal waktu dan selalu menjawabnya dengan sangat gamblang. Teman-teman FLP HKG tanpa terkecuali yang memberikan energi 'nulis'-ku semakin kuat, my love & my friends, thank's all.
** Note-nya lebay. Membuatku terharu biru, hu hu hu hu...


