Tuesday, November 26, 2013

OPINI



MOVE ON,
Putuskan Mata Rantainya!
By :  Pipiet Kinarya


       Pernahkah anda berfikir mengapa orang lain bisa sukses dan kita masih begini? Berdiri di tempat  yang sama dan membosankan? Boleh jadi kita pintar, cerdas, sudah berusaha keras tetapi kok ya tetap tidak berubah. Masih saja jadi BMI (maaf, tidak bermaksud menyinggung siapapun), sementara Sri (nama hanya fiktif) yang biasa saja, yang di sekolah suka nyontek, si biang gosip malah hidupnya lebih mapan, lebih sukses. Lalu dimana letak masalahnya?

Atau pikiran seperti ini, kok ada ya orang yang terlahir ke dunia dalam keadaan yang lebih makmur, bahkan sangat makmur, serta memiliki peran dan pengaruh yang besar bagi sekitarnya, bahkan bangsa ini? Kita juga merasa betapa beruntungnya mereka. Hidup berkecukupan, mau apa tinggal gesek, tinggal pencet, tinggal minta sudah ada yang melayani. Kemana-mana ada yang mengantar. Hidup seperti dalam negeri dongeng. Sim salabim maka adalah dia. Enak banget ya hidup seperti itu?

Barangkali kita lupa bahwa ada hukum sebab akibat yang sangat kuat berlaku di muka bumi ini. Termasuk  hukum sebab akibat dalam hal kemakmuran secara ekonomi. Ketika kita melihat keluarga yang sukses seperti sekarang bahkan sangat sukses, sangat makmur dan berpengaruh, maka kondisi ini merupakan suatu akibat. Jika kita telusuri penyebabnya, ternyata dalam sejarah keluarga itu pasti akan ditemukan salah seorang dari generasinya mengambil alih tanggung jawab dan bekerja keras untuk memutuskan mata rantai ketidakmakmuran atau kondisi tidak baik yang diwariskan generasi sebelumnya, dan mereka berhasil. Maka generasi berikutnya bisa menikmati hasilnya dan tinggal melanjutkannya.

            Jika anda berfikir demikian, idem. Semakin kesini, semakin saya tidak mengerti. Sampai akhirnya saya bersinggungan dengan kelas Mandiri Sahabatku th 2011 (bukan bermaksud promosi) yang akhirnya mengenalkan saya pada dunia entrepreneurship / wirausaha. Disini titik kesadaran saya seperti disentak dari mimpi  tidur yang panjang. Mimpi yang tak pernah berujung pangkal pada awalnya. Yang hanya berani saya lukiskan pada langit-langit kamar, dipanjatkan dalam setiap do’a  tanpa tahu harus darimana memulainya. Seketika itu juga saya sadar. Harus ada yang dirubah. Mimpi harus diwujudkan. Bukan sekedar direncanakan, ditulis, diangan-angan dan jadi bunga tidur saja. Mulai darimana? Ya dari diri sendiri. Niat yang kuat. Sangat kuat. Harus move on nieh, dan memutuskan mata rantainya. Mata rantai tidak mungkin menjadi kenapa tidak? Tidak bisa, masak sieh? Sulit, ternyata tidak juga! 

            Senang rasanya ketika satu persatu sahabat saya menemukan dunianya, kemudian move on, dan belajar memutuskan mata rantai yang selama ini membelit hidupnya. Membelenggu begitu kuat sehingga menutup pintu sukses itu sendiri. Catatlah mbak Atik,37 th (nama samaran) asal dari Madiun. Dahulu setiap kali libur hanya duduk di taman, ngobrol, shooping, karaoke dan begitu saja  selama 6 tahun  bekerja di Hong Kong. Alhamdulillah, tahun ini memutuskan untuk berubah dengan belajar make up disalah satu tempat kursus tata rias lesehan di Victoria Park. Impiannya setelah pulang nanti adalah mempunyai salon rias manten dan usaha yang menyertai bidang itu. Mbak Atik berhasil keluar dari zona nyaman-nya dan rela waktu liburnya yang biasa have fun menjadi libur yang diisi dengan belajar tata rias. Capek, pastinya. Pengorbanan waktu, materi, fikiran sudah tak dihitung lagi. Mbak Atik yang sekarang jauh berbeda, mempunyai tujuan yang jelas, menata masa depan penuh optimisme. Sehingga, setelah pulang nanti mampu mengembangkan ketrampilan meriasnya menjadi ladang usaha. Bahasa entrepreneurnya dari hobby menjadi hoki. Why not?

            Itu hanya salah satu contoh dari teman-teman BMI yang berani move on. Masih banyak yang lainnya, sejak workshop, training wirausaha menyerbu Hong Kong beberapa tahun terakhir ini. Sejak perpustakaan lesehan menjamur dan memberikan kontribusi yang tidak sedikit pada budaya baca dan perubahan mind set kita semua. Sejak ada sekolah kejar paket setara SMP dan SMU, lembaga kursus formal dan non formal. Kuliah dan paket-paket pembelajaran lainnya. Berbagai media cetak berbahasa Indonesia yang juga menyediakan kolom khusus wirausaha. Pemanfaatan internet dan media social pun menyumbang aktif. Sejak itu BMI Hong Kong menjadi pembelajar yang aktif, cerdas dan mandiri. Maka, jika kita berjalan dari taman ke taman, jembatan demi jembatan, selalu kita temui komunitas pembelajar di tiap sudutnya. Ada geliat perubahan disana.   
      
Sekarang tergantung kita sendiri, jika selama ini masih begini-begini saja maka harus ada yang dirubah. Apakah kita akan mengambil tanggung jawab, belajar lebih keras, bekerja dengan cerdas, keep move on dan memutus mata rantainya, dan go to success. Atau hanya puas dengan duduk di kursi penonton sambil bertepuk tangan? 

Break the chain! Go success as a great entrepreneur! Yes, You Can!

( * Sham Shui Po, 8 Okt 2013)

Note : Opini dimuat di Tabloid Apa Kabar Plus, Hong Kong edisi # 18 Thn VIII * 23 November - 6 Desember 2013.Tulisan pertamaku yang di muat oleh media. Ya, yang pertama itu selalu spesial. Thank's To Allah atas segala kekuatan dan keberanian yang akhirnya mematahkan lagi mata rantai tidak bisa. Mbak Yuni Tze, Bu boss yang cantik, terima kasih atas sharing-sharingnya yang tak kenal waktu dan selalu menjawabnya dengan sangat gamblang. Teman-teman FLP HKG tanpa terkecuali yang memberikan energi 'nulis'-ku semakin kuat, my love & my friends, thank's all.

** Note-nya lebay. Membuatku terharu biru, hu hu hu hu...

2 comments: