Monday, September 23, 2013

JURNAL # 3

MER BATCH 1

LOYALITAS
&
STRATEGI PEMASARAN



Minggu ke-3, entah kenapa kepalaku blenk. Tak satupun materi yang nyantol dikepala meski sudah dibaca berulang-ulang. Sampai akhirnya aku biarin saja, tanpa menyentuh materi dan tugas beberapa hari. Malah aku sibuk sendiri dengan monte, flanel, kain dan rutinitas di Pondok Buku 61. Namun, tak bosan-bosannya my group KEJORA with Nick Manggo, Adhyma Rahardjo dan Effie Azza mendongkrak semangat belajarku yang drop. Saling menguatkan, berdiskusi, saling isi, bedah kasus sampai hunting foto ritel.

Alhamdulillah, akhirnya cairan diotakku mulai encer. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa mencerna materi strategi pemasaran, termasuk loyalitas didalamnya. Nick Manggo membedah Starbuck Coffe. Effie Azza mencoba mengamati Welcome supermaket. Adhyma Rahardjo tertarik pada Genki Shusi, dan aku memilih KFC sebagai sasaran analisa strategi pemasaran. Menarik nieh...!

Strategi Pemasaran Ritel  meliputi kegiatan bagaimana menentukan target pasar , seperti apakah format / strategi yang direncanakan untuk memenuhi target pasar, bagaimana perencanaan tersebut dapat memenuhi keuntungan yng bersaing dan dapat dipertahankan. Dasar-dasr inilah yang harus di pelajari supaya pasar yang kita bidik tepat sasaran.

7 Strategi Pemasaran itu meliputi :
1. Loyalitas
Loyalitas artinya kesetiaan. Pemasaran tidak akan berkembang tanpa loyalitas dari konsumen maupun peritel. Kok gtu ya? Mnurutku ya. Kebetulan kemarin aku mendengarkan Swaragama FM, Jogja. Kebetulan pembahasannya mengenai strategi pemasaran juga. Harusnya yang setia itu bukan hanya konsumen atau pelanggan saja, tetapi peritel juga harus loyal kepada konsumennya dengan memberikan kemudahan-kemudahan jasa atau transaksi, diskon, bonus dan penawaran-penawaran menarik lainnya. Tentu harus diimbangi dengan kualitas produk atau jasa yang bagus. Dengan demikian konsumen tak akan pindah kelain hati karena apa yang dibutuhkannya di dapat bahkan lebih.

2. Lokasi
Lokasi menentukan strategi. Ehmmm, masih inget komentnya bu Julia Koh di blog PER Batch2 tentang lokasi. Sengaja aku copas untuk bisa kita pelajari bersama, "Lokasi bukan segalanya, dan memang lokasi menentukan kesuksesan suatu toko. Letak strategis tidak selalu berarti di pinggir jalan dan banyak orang berlalu-lalang. Sebab yang penting adalah siapa yang berlalu lalang di sana? Jika mereka tergesa-gesa ke tempat kerja, ke pasar untuk belanja sayuran, mereka tidak akan berhenti di toko sepatu (toko yang bukan menjual apa yang sedang mereka butuhkan)".

Waktu itu yang ku amati adalah toko sepatu yang baru satu bulan buka tapi sudah caplap alias gulung tikar. Jadi menurut bu Julia lokasi memang penting tetapi tidak mutlak. Melihat sarana apa yang digunakan untuk proses transaksi penjualan. Apalagi di era internet seperti sekarang, dimana toko secara fisik tidak wajib ada. Ritel di dumay lebih praktis dan ekonomis dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dan ini memutus mata rantai bahwa lokasi fisik itu penting. 

3. Sumber Daya Manusia   
Sumber Daya Manusia ( SDM ) berhubungan dengan manajemen manusia pengelola ritel secara keseluruhan. Entah itu pimpinan, karyawan, divisi, office boy atau satpam sekalipun. Bagaimana meningkatkan kinerja mereka ? Ada banyak hal yang bisa dilakukan, yaitu dengan mengikuti workshop atau pelatihan, sarasehan dan kegiatan bersama untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan. Memperlakukan karyawan seperti keluarga, memperhatikan hal-hal kecil tentang mereka. Hari ulang tahun, keluarganya, anaknya, piknik bersama pada saat tertentu akan menimbulkan keakraban antar sesama. Bonus bagi yang berprestasi, penghargaan atas kerja kerasnya. Ini penting guna menumbuhkn suasana dan semangat kerja, karena karyawan merasa memiliki, bertanggung jawab atas pekerjaannya. Memberikan yang terbaik pula.

4. Sistem distribusi dan informasi
Sistem pendistribusian dan informasi memudahkan pelanggan mengetahui semua informasi tentang produk kita. Poster, iklan, baliho, pamflet, internet, media sosial, media cetak dan elektronik adalah alat-alat penunjang informasi yang banyak digunakan. Tinggal disesuaikan segment mana yang dibidik. Begitu pula dengan sisitem pendistribusian. Semakin pendek jalur distribusi semakin memudahkan jalur berikutnya, penjualan/pemasaran.

5. Barang dagangan yang menarik. 
Seperti halnya KFC, kenapa cepat sekali menjadi waralaba hampir di seluruh negara di dunia? Karena KFC mempunyai menu-menu yang menarik. Tiap negara mempunyai taste yang berbeda, meski menu utamanya sama, ayam. Racikan ayam goreng menyesuaikan lidah masing-masing lokal negara. Makanya cepat diterima dihati pelanggannya. Mewaralaba begitu cepat.

6. Hubungan dengan pedagang.
Supaya ritel mampu berkembang, maka hubungan dengan pedagang penting untuk diperhatikan. Bayangkan, jika hubungan KFC dengan pedagang tidak baik ( dalam hal ini pemasok bahan baku ) seperti ayam, rempah-rempah, tepung, sayuran fresh sudah tentu produksi akan terhenti. Dengan hubungan yang baik dengan pedagang maka KFC mendapatkan bahan berkualitas, fresh secara kontinuitas.

7. Layanan Konsumen
Bayangkan jika suatu perusahaan tanpa ada line layanan konsumen? Pasti usaha itu tidak akan bertahan lama karena dianggap abal-abal, tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya alias usaha palsu. Layanan konsumen yang biasa via telpon bebas pulsa, pusat pengaduan, website atau email tentu akan memudahkan pelanggan untuk cek-ricek order jika ada masalah sekecil apapun. Akan menjadi bahan cek ricek perusahaan untuk pembenahan lebih baik.

7 pilar strategi pemasaran ini penting untuk diperhatikan secara detail. Aku sendiri terus mengembangkan diri dalam rangka mengelola Pondok Buku 61 secara lebih serius dan fokus. Kadang belajar materi membosankan, tetapi ketika bosan itu bertemu dengan realita dan menjadi bahan renungan, sesuatu banget rasanya. Tak ada sesuatu yang besar tanpa dimulai dari yang kecil. Terus bergerak, karena dengan berproses maka kita akan terbiasa menyikapi banyak hal tentang bisnis, belajar dari pengalaman. Mari terus belajar, membangun diri, meningkatkan kualitas diri!

Tetap semangat kawan...
Salam Entrepreneur!


Menu yang menarik


WeChat, promo via media sosial sekaligus sebagai kartu diskon paket goceng setiap belanja minimal Rp.22ribu


KFC drive-thru


KEJORA, my groupies





Tuesday, September 17, 2013

INSPIRASI

LANGKAH SEDERHANA 
MENUJU BISNIS IMPIAN

************


Seringkali aku mendapati curhatan begini, "bosan rasanya kerja di Hong Kong. Pingin ngumpul bersama anak dan suami. Tapi nanti di kampung ngapain?"
"Gak pingin usaha tha mbak? jualan apa kek?"
"Ga punya keahlian apa-apa, mbak. Sekolah saja cuma SD. Pingin ternak ayam, tapi takut nanti bangkrut. Maklum ayam kan riskan. Belum bau tahi-nya, byuuhhh...".
Curhatan yang lain yang senada, "Saya punya lahan luas. Mau bikin kolam pemancingan ikan. Tapi gimana pemasarannya ya?"
"Saya pingin punya toko, tapi takut di utangi terus. Maklum di kampung".

Kawan!
Aku juga mengalami hal yang sama. Meski konteksnya berbeda. Maka waktu libur aku gunakan untuk belajar berbagai hal untuk menambah bekal pulkam dalam rangka menjemput impian. Mulai dari training dan workshop entreprenurship atau wirausaha, belajar ketrampilan dan berkomunitas. Tiap libur aku berlelah-lelah untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan. Buku salah satu tempat belajar dan menjadi guruku, disamping mbah google, mentor di Mandiri Sahabatku dan dosen-dosen di UCEO, Universitas Ciputra Entrepreneur Online tempatku menimba ilmu sekarang. ya, buku adalah jendela ilmu. Dengan buku kita bisa membuka cakrawala dunia. Meraih mimpi dalam genggaman. Asal meyakininya, pasti bisa!

Buku ini salah satu faforitku. "Sederhana tapi Dahsyat", karya Mustofa Romdloni. Membaca lembar demi lembar, membuatku jadi merinding disco. Pada bagian tertentu aku baca berulang-ulang, memastikan yang kubaca benar-benar meresap ke otak dan hati. GILA! Ini buku sederhana banget bahasanya. Buku Entrepreneurship yang simple, jauh dari kata-kata yang berbau intelek, yang kadang susah dipahami orang awam seperti aku. Berbagai buku entrepreneurship telah aku lahap. Beberapa diantaranya telah mengubah mind set-ku tentang entrepreneur, seperti buku-buku pak Ciputra, Sandiago Uno dan buku wirausaha lainnya. Dan buku ini salah satunya yang aku cari selama ini. Sederhana dan komplet!

Mengintipkan sedikit isi bukunya yuuk. Tentang langkah sederhana menuju bisnis impian!
MEMULAI USAHA
Masih bingung mau memulai usaha? Simak tipsnya ya :
1.  Memulai dengan Sederhana
Kenapa harus menunda untuk memulai bisnis? Berpikirlah besar dan mulailah meski dengan sederhana. "Just do it !"..... "Lakukan Saja!".
2.  Alasan kuat, Impian atau Cita-Cita
Renungkan dan temukan hal yang penting untuk kita perjuangkan untuk menuju pengusaha sukses. Sesudah itu tambahkan lagi dan tambahkan lagi, bahkan untuk hal yang paling mustahil sekalipun.
3.  Pengusaha adalah Penjual
Latihlah kemampuan menjual, cobalah dari peluang kecil di sekitar kita! Dengan kemampuan yang terus diasah, niscaya kita akan menguasai salah satu kemampuan terpenting yang harus dipunya seorang pengusaha. Karena tanpa bisa menjual, perusahaan sebesar apapun pasti kolep.
4.  Modal Utama ternyata bukan uang
Temukan idenya, percaya dirilah dengan ide itu dan kemampuan kita, serta bermimpilah yang besar!
5.  Lebih Mudah membangau usaha yang kita kuasai
Jadikan bisnis bidang yang kita kuasai atau juga hobi yang menarik minat kita menjadi bisnis impian.
6.  Jika tak sanggup sendiri, bermitralah
Jika kita memiliki kekuarangan, carilah mitra yang sevisi untuk melengkapinya.

BERPROSES
Jika usaha sudah dimulai, saatnya untuk berproses. Mulai harus lebih fokus. Tahapan-tahapannya :
1.  Bisnis kecil itu bisa berarti besar
Terus bertindak meski dengan langkah kecil, tetapi iringilah tindakan itu dengan berpikir besar.
2.  Membangun kredibilitas dari hari ke hari
Jadilah pribadi yang bisa dipercaya dari hari ke hari, melalui sikap jujur, amanah dalam mengemban tanggung jawab sebaik-baiknya.
3.  Berkompetisi adalah hal biasa
Berkompetisi itu biasa. Temukan perbedaan dan kelebihan dari bisnis kita, lalu komunikasikan dengan pelanggan dengan baik.
4.  Kegagalan itu biasa
Terimalah kegagalan, belajarlah dari kegagalan, bangkitlah dan hasilkan kesuksesan lebih besar!
5.  Belajar dan bertumbuh
Jangan mudah puas dengan apa yang sudah anda capai. Teruslah belajar dan bertumbuh.
6.  Banyak jalan tak terduga
Keberuntungan = bertemunya kesempatan dalam kesiapan. Jadi tugas kita adalah mempersiapkan diri dengan memulai usaha, berproses membangunnya sehingga ketika muncul titik-titik kesempatan, kita siap menghubungkannya menjadi garis kesuksesan.

NAIK KELAS DAN MENJADI BESAR
Usaha sudah berjalan. Ibarat pesawat terbang ada yang harus dipersiapkan sebelum, saat dan akan take off. Ini bagiannya :
1.  Kencangkan sabuk pengaman, kita akan lepas landas
Bisnis sudah mulai lepas landas atau berjalan, perlu keseriusan, fokus, dan kerjasama tim akan memperingan pekerjaan.
2.  Kepemimmpinan
Sebagai pemimpin atau leader, tentukan visi atau tujuan usaha jangka panjang, buat target-target yang lebih kecil untuk mencapainya.
3. Membentuk tim yang kuatTemukan anggota tim yang kuat, delegasikan pekerjaan, bangun kerjasama anggota tim dan tingkatkan kemampuan tim.
4.  Perlindungan Hukum
Membuat usaha berbadan hukum, daftarkan merk produk dan patenkan penemuan-penemuan kita.
5.  Buat Produk yang cukup bagus, lalu sempurnakan
6.  Penjualan yang mencukupi
Komunikasikan produk kita kepada calon pelanggan sebanyak mungkin dan tingkatkan penjuaanuntuk meraih keuntungan yang mencukupi.
7.  Mengatur arus kas
Lakukan pembukuan keuangan, buatlah daftar prioritas dalam penggunaan kas, dan tingkatkan arus kas masuk.
8.  Sistem yang mengatur semua proses
Buatlah sistem sehingga sisitemlah yang menjalankan bisnis dan biarkan orang-orang menjalankan sistem tsb.

Jika Pak Ciputra, om Bob Sadino, Sandiago Uno, Dahlan Iskan, Choiril Tanjung dan pengusaha-pengusaha lain bisa, kenapa kita tidak? Mereka makan nasi, kita juga kok. Banyak dari pengusaha nasional dan dunia memulai usaha dari modal minim bahkan tanpa modal. Hanya dengan impian yang kuat, terus berproses tanpa lelah mereka mampu menuju impiannya. Kita juga bisa!

Langkah sederhana menuju impian. Bismillahi tawakkaltu 'alallah... La khaula wala kuwwata illa billah... Mari menuju impian kita, kawan. YES, YOU CAN!

Monday, September 9, 2013

JURNAL # 2

MER Batch 2

BLUSUKAN PASAR
Cara Memahami Perilaku Pelanggan



Area toko grosir mainan anak-anak
Belajar tentang perilaku pelanggan sama saja dengan belajar karakter seseorang. Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa orang-orang di satu daerah tertentu, berlatar pendidikan yang sama akan punya keinginan, kebutuhan dan perilaku yang sama. Padahal setiap orang itu unique, berbeda baik satu sama lainnya. Maka ketika kita ingin terjun dalam dunia ritel, lebih jauh bisnis maka mutlak konsep perilaku pelanggan wajib kita pelajari. Salah satu caranya ya dengan blusukan ke pasar-pasar alias go-to-market strategy untuk mengamati langsung perilaku, keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Perilaku pelanggan itu beragam. Apalagi di era tekhnologi internet seperti ini, dimana orang dengan mudah mengakses informasi, membandingkan harga, mencari distributor, sehingga perlu dipahami apa sieh maunya mereka?  Dalam hal ini sifat, watak, latar belakang pendidikan, pengalaman, demografi dan geografis, suku budaya, dan komunitasnya sangat mempengaruhi dalam pegambilan keputusan nantinya. Perbedaan itu akan terlihat dari bagaimana gaya bicaranya, pemilihan kata, mengemukakan pendapat dan caranya berkomunikasi.

Aku sering blusukan ke pasar tradisional dan modern, pusat-pusat perbelanjaan untuk survei market, hunting sesuatu atau sekedar refreshing. Pada waktu itu aku belum belajar di UCEO, bersama kawanku Danik, aku suka sekali keluar masuk pasar tradisional berburu alat-alat kerajinan, mencari inspirasi desain-desain kerajinan, mencari bahan baku yang murah dan kualitas baik atau sekedar membandingkan isi toko satu dengan toko lainnya. Acara ini kami namakan "nerek" ( dalam bahasa jawa yang artinya blusukan ). Namun sekarang konteksnya berbeda. Kini yang harus kupelajari pada materi minggu ke-2 adalah tentang perilaku pelanggan. Faktor-faktor itu yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan pelanggan terhadap produk yang dibelinya.

Perilaku pelanggan di kelompokkan dalam 4 kelas A, B, C, D, yaitu :
1.  Kelas A = Asyiek
Tipe pelanggan ini sangat menyenangkan, royal dan tidak ribet. Biasanya pelanggan seperti ini sudah mengumpulkan banyak referensi informasi sebelumnya, punya wawasan dan pengetahuan yang cukup sehingga begitu menemukan barangnya pas langsung mengambil keputusan beli tanpa banyak ribet. Menghadapi pelanggan seperti ini tentu saja menyenangkan bukan ?.

2.  Kelas B = Biasa
Tipe pelanggan ini cukup baik. Menanyakan seperlunya atau lebih tepatnya memastikan dan kadang-kadang sedikit komplain. Mungkin masih ada keragu-raguan sehingga butuh masukan informasi untuk pengambilan keputusan. Tugas kita sebagai perital adalh memberikan informasi, alternatif dan gambaran yang diperlukan oleh pelanggan sehingga memudahkan pelanggan mengambil kepiutusan.

3.  Kelas C = Capek Deechhh!
Tipe pelanggan begini tentu saja merepotkan. Banyak hal ditanyakan, kadang membandingkan dengan toko lain, bertanya ini itu tetapi belum tentu beli. Butuh kesabaran lebih untuk menghadapi pelanggan seperti ini. Menguasai bidang kita menjadi salah satu tombak pemecah bagi masalah ini.

4.  Kelas D = Duri dalam daging.
Tipe pelanggan ini seperti ini nyebelin banget. Banyak maunya, suka membanding-bandingkan dengan toko lain, cerewet, disini ngomong begini eh disana sudah lain lagi. Ember / ceriwis banget yang tipe ini. Klo embernya baik, syukur. Berarti promosi bagus untuk toko. Tapi kalo yang jelek-jelek, mampus dech ( meminjam bahasa Pak Teddy  ). Butuh kesabaran extra menghadapi pelanggan seperti ini dan jika tidak memungkinkan karena nantinya bakal jadi duri dalam daging, melepaskannya adalah jalan terbaik.

* Sumber :  http://www.youtube.com/watch?v=5-EnpKxGs2g&feature=youtu.be

Pasar tradisional di China

Sebagai peritel dalam bidang buku dan kerajinan, aku juga tak jarang mendapatkan pelanggan dengan tipe A, B, C dan D. Kadang jika menemui yang tipe D rasanya ingin menjitak kepalanya. Tentu saja ini hanya keinginan dalam hati saja. Nyebelin banget! Tapi setelah mempelajari materi perilaku pelanggan, oh ternyata begitu ya. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Lalu aku mengembalikan pada posisiku sendiri jika aku yang jadi pelanggan  bagaimana ya ? Dengan demikian aku mengerti apa yang di mau oleh pelanggan kita. Bicara dengan nada halus, ramah, menjelaskan apa adanya dan jujur. Itu penting menurutku . Terus belajar dari orang lain yang ahlinya, membaca buku dan belajar dari pengalaman sendiri dalam hal menangani konsumen menjadi referensi yang tak ternilai harganya.

Yang kutangkap dari materi minggu #2 adalah memahami, mempelajari perilaku pelanggan itu penting bagi peritel. Ini akan memberikan informasi tambahan tentang bagaimana menghadapi perilaku pelanggan yang kemudian berakibat dengan cepat atau lambat dalam pengambilan keputusan membeli or not !

(* Dirangkum dari modul 2 MER Batch2 dan berbagai sumber penunjang lainnya )



Pondok Buku 61, pelanggan dan belajar ketrampilan


Pelanggan  Toko Bakery