Monday, September 9, 2013

JURNAL # 2

MER Batch 2

BLUSUKAN PASAR
Cara Memahami Perilaku Pelanggan



Area toko grosir mainan anak-anak
Belajar tentang perilaku pelanggan sama saja dengan belajar karakter seseorang. Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa orang-orang di satu daerah tertentu, berlatar pendidikan yang sama akan punya keinginan, kebutuhan dan perilaku yang sama. Padahal setiap orang itu unique, berbeda baik satu sama lainnya. Maka ketika kita ingin terjun dalam dunia ritel, lebih jauh bisnis maka mutlak konsep perilaku pelanggan wajib kita pelajari. Salah satu caranya ya dengan blusukan ke pasar-pasar alias go-to-market strategy untuk mengamati langsung perilaku, keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Perilaku pelanggan itu beragam. Apalagi di era tekhnologi internet seperti ini, dimana orang dengan mudah mengakses informasi, membandingkan harga, mencari distributor, sehingga perlu dipahami apa sieh maunya mereka?  Dalam hal ini sifat, watak, latar belakang pendidikan, pengalaman, demografi dan geografis, suku budaya, dan komunitasnya sangat mempengaruhi dalam pegambilan keputusan nantinya. Perbedaan itu akan terlihat dari bagaimana gaya bicaranya, pemilihan kata, mengemukakan pendapat dan caranya berkomunikasi.

Aku sering blusukan ke pasar tradisional dan modern, pusat-pusat perbelanjaan untuk survei market, hunting sesuatu atau sekedar refreshing. Pada waktu itu aku belum belajar di UCEO, bersama kawanku Danik, aku suka sekali keluar masuk pasar tradisional berburu alat-alat kerajinan, mencari inspirasi desain-desain kerajinan, mencari bahan baku yang murah dan kualitas baik atau sekedar membandingkan isi toko satu dengan toko lainnya. Acara ini kami namakan "nerek" ( dalam bahasa jawa yang artinya blusukan ). Namun sekarang konteksnya berbeda. Kini yang harus kupelajari pada materi minggu ke-2 adalah tentang perilaku pelanggan. Faktor-faktor itu yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan pelanggan terhadap produk yang dibelinya.

Perilaku pelanggan di kelompokkan dalam 4 kelas A, B, C, D, yaitu :
1.  Kelas A = Asyiek
Tipe pelanggan ini sangat menyenangkan, royal dan tidak ribet. Biasanya pelanggan seperti ini sudah mengumpulkan banyak referensi informasi sebelumnya, punya wawasan dan pengetahuan yang cukup sehingga begitu menemukan barangnya pas langsung mengambil keputusan beli tanpa banyak ribet. Menghadapi pelanggan seperti ini tentu saja menyenangkan bukan ?.

2.  Kelas B = Biasa
Tipe pelanggan ini cukup baik. Menanyakan seperlunya atau lebih tepatnya memastikan dan kadang-kadang sedikit komplain. Mungkin masih ada keragu-raguan sehingga butuh masukan informasi untuk pengambilan keputusan. Tugas kita sebagai perital adalh memberikan informasi, alternatif dan gambaran yang diperlukan oleh pelanggan sehingga memudahkan pelanggan mengambil kepiutusan.

3.  Kelas C = Capek Deechhh!
Tipe pelanggan begini tentu saja merepotkan. Banyak hal ditanyakan, kadang membandingkan dengan toko lain, bertanya ini itu tetapi belum tentu beli. Butuh kesabaran lebih untuk menghadapi pelanggan seperti ini. Menguasai bidang kita menjadi salah satu tombak pemecah bagi masalah ini.

4.  Kelas D = Duri dalam daging.
Tipe pelanggan ini seperti ini nyebelin banget. Banyak maunya, suka membanding-bandingkan dengan toko lain, cerewet, disini ngomong begini eh disana sudah lain lagi. Ember / ceriwis banget yang tipe ini. Klo embernya baik, syukur. Berarti promosi bagus untuk toko. Tapi kalo yang jelek-jelek, mampus dech ( meminjam bahasa Pak Teddy  ). Butuh kesabaran extra menghadapi pelanggan seperti ini dan jika tidak memungkinkan karena nantinya bakal jadi duri dalam daging, melepaskannya adalah jalan terbaik.

* Sumber :  http://www.youtube.com/watch?v=5-EnpKxGs2g&feature=youtu.be

Pasar tradisional di China

Sebagai peritel dalam bidang buku dan kerajinan, aku juga tak jarang mendapatkan pelanggan dengan tipe A, B, C dan D. Kadang jika menemui yang tipe D rasanya ingin menjitak kepalanya. Tentu saja ini hanya keinginan dalam hati saja. Nyebelin banget! Tapi setelah mempelajari materi perilaku pelanggan, oh ternyata begitu ya. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Lalu aku mengembalikan pada posisiku sendiri jika aku yang jadi pelanggan  bagaimana ya ? Dengan demikian aku mengerti apa yang di mau oleh pelanggan kita. Bicara dengan nada halus, ramah, menjelaskan apa adanya dan jujur. Itu penting menurutku . Terus belajar dari orang lain yang ahlinya, membaca buku dan belajar dari pengalaman sendiri dalam hal menangani konsumen menjadi referensi yang tak ternilai harganya.

Yang kutangkap dari materi minggu #2 adalah memahami, mempelajari perilaku pelanggan itu penting bagi peritel. Ini akan memberikan informasi tambahan tentang bagaimana menghadapi perilaku pelanggan yang kemudian berakibat dengan cepat atau lambat dalam pengambilan keputusan membeli or not !

(* Dirangkum dari modul 2 MER Batch2 dan berbagai sumber penunjang lainnya )



Pondok Buku 61, pelanggan dan belajar ketrampilan


Pelanggan  Toko Bakery


No comments:

Post a Comment