Saturday, March 16, 2013

JR # 6,7,8

ANGKA TIDAK PERNAH BOHONG



Materi minggu ke 6 tentang Cash flow / keuangan. Materi yang paling aku tunggu. Tanya kenapa... ?? Karena aku mempunyai pengalaman usaha dan setelah aku cek ricek, usahaku itu mengalami kegagalan disebabkan oleh gagalnya manajemen keuangan. Aku juga gagal pada pengadaan barang ( stock habis dan tidak bisa re-stock, kurang akurasi pada kartu stock, selanjutnya akan di bahas berikutnya ) yang menjadi materi minggu ke-7. Tidak terlepas pada materi minggu ke-8 tentang pemasaran. Prinsip 3 P yaitu people, proses dan promotion tidak berjalan sebagaimana mestinya. Maklum, waktu itu pengetahuan minim sekali tentang dunia wirausaha. Bisa dikatakan aji mumpung. Mumpung punya modal. Karena ada modal, orang jawa bilang " hantam kromo saja " alias ada peluang, sikat dan hantam. Tidak memperhitungkan berbagai resiko yang bisa saja datang setiap saat, siap atau tidak siap. Maka di perlukan modal cadangan yang sewaktu-waktu bisa digunakan jika ada masalah pada keuangan, tak terpikirkan sama sekali. Semua itu memberi pelajaran berarti dan setelah belajar ritel di UCDE, barulah aku mengerti.

Ini analisa 2 usahaku :
  • Usaha Persewaan Buku ( Rumah Baca Sahabat ).

Pada awal usaha, aku sudah membuat pembukuan sederhana. Alur kas keluar dan masuk tercatat pada posnya masing-masing. Begitu pula dengan pencatatan katalog buku, peminjaman dan pengembalian. Kartu anggota dan data anggota peminjam ( membership ).Bulan pertama tidak ada masalah alias lancar. Pemasukan lebih besar dariada pengeluaran. Artinya usaha memperoleh keuntungan. 

Bulan kedua pergerakan arus kas juga mengalami peningkatan. Tetapi stock buku mulai menipis dalam arti karena peminatnya luar biasa, maka sebentar saja buku-buku habis di pinjam. Banyak yang bertanya, adakah buku baru, mbak ?? Maka awal bulan ketiga aku re-stock buku baru. Alhamdulillah, rumah baca kembali ramai.

Bulan ke 5 aku mendapat tawaran untuk siaran di salah satu radio station lokal, di Magetan kesibukan baruku di penyiaran radio membuatku tidak fokus terhadap usaha yang baru saja aku rintis. Aku lebih banyak di studio radio atau jalan dengan teman-teman baru di radio. Manajemen aku percayakan kepada adik. Sejak saat itu muncullah berbagai masalah. Catatan pemasukan ada tetapi jumlah uangnya tidak sama. Buku-buku yang dipinjam banyak yang tidak kembali. Pelanggan komplain, minta buku untuk update lagi karena perputaran buku memang cepat. Stock sudah harus ditambah, tetapi kenyataannya tidak bisa re-stock buku. Kenapa ?? Karena uang usaha yang seharusnya untuk pengadaan barang ( buku ) tidak ada, tercampur dan terpakai untuk kebutuhan pribadi ( sekarang aku baru tahu dan usaha yang dijalani di Hong Kong lebih hati-hati soal cash flow ). Otomatis usaha jalan ditempat. Pelanggan makin sepi dan akhirnya usaha aku tutup dalam waktu tidak sampai 1 th.

Management Keuangan  bulan 1:
Kas Masuk
1. Modal awal                                                                        Rp.  12. 000.000,-
2. Pendapatan                                                                        Rp.    3.000.000,-
                                                                                               _______________  +
                                                                                                                         
                                                                                               Rp.  15.000.000,-

Kas Keluar
1. Sewa tempat / 1 th                           Rp. 4.000.000,-
2. Belanja buku                                    Rp. 4.000.000,-
3. Peralatan tulis  dll                            Rp.    200.000,-
4. Rak buku                                          Rp. 1.500.000,-
5. Transportasi dan akomodasi            Rp.    500.000,-
6. Telepon dan listrik                           Rp.    100.000,-
                                                            ______________  +

                                                                                                Rp.   11.300.000,-
                                                                                              _______________  -

                                                                                                Rp.    3.700.000,-

***Pemasukan lebih besar daripada pengeluaran = keuntungan.


Setelah bulan ke5 seharusnya tidak terjadi kemunduran usaha jika saya : 
-   Fokus pada pengelolan keuangan, uang usaha tidak tercampur / terpakai untuk kebutuhan pribadi
-   Memperhatikan stock barang, jangan sampai kosong dan mengecewakan pelanggan. 
-  Prinsip 3 P seharusnya di terapkan secara lebih baik, dimana people ( dalam hal ini sumberdaya pengelola diberi bekal / kemampuan mengelola usaha), proses dari usaha itu di pantau dari waktu ke waktu dan promotion ( dalam hal promosi menggunakan sistem getok tular yang berjalan efektif ).
-  Membuat kartu stock / membership untuk memudah melacak peminjam buku, dan memberikan denda jika buku hilang atau tidak kembali, bisa juga dengan jaminan KTP sehingga resiko buku tidak kembali lebih kecil.
-   Memperhatikan perputaran barang ( buku ), jeli melihat buku-buku apa saja yang disukai, dicari dan diminati pelanggan ( ini luput dari pengamatan ).

  • Budidaya Kelinci 
Pengalaman pertama memberiku pelajaran yang berarti. Bahwa usaha bukan main-main tetapi harus fokus dan belajar banyak hal, terutama menguasai medan pertempuran. Maka aku bersama suami berbenah diri. Belajar pada internet, buku dan peternak langsung dilapangan. Arus Kas sdh sebagaimana mestinya. Tidak lagi tercampur dengan kebutuhan pribadi. Laju pertumbuhan kas dari bulan ke bulan mengalami kenaikan. Dari modal Rp. 400.000,- + Rp. 700.000,- ( 3 induk kelinci dan kandang ) = Rp 1.100.000,- menjadi puluhan ekor. Kandang yang hanya 1 blok berisi 4 ekor induk kelinci bertambah satu demi satu, blok isi 8 x = 16 / 1 blok.

Namanya pohon, semakin tinggi semakin kencang pula anginnya. Bermaksud menambah dan memperbesar usaha, aku pinjam dana kepada saudara. Namun malang tak dapat di tolak. Kelinci yang baru datang satu persatu mati tanpa sebab yang jelas. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam waktu singkat, kelinci semakin berkurang. Termasuk kelinci yang ada di kandang sebelumnya. Saya tidak memperhitungkan kemungkinan ini dan menggunakan uang pinjaman secara serentak. Kecerobohan akibat ketidaktahuan akan resiko.

Maka setelah saya belajar materi cash flow, beberapa hal harus saya pertimbangkan jika memutuskan untuk meminjam uang guna menambah kas, yaitu :
-  Pinjaman di atur berlapis untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, sehingga masih ada dana cadangan untuk laju usaha berikutnya.
-   Menghitung sejauh mana kemungkinan sampai pada jatuh tempo dengan secermat-cermatnya.


Dalam hal pengadaan barang memang agak sedikit terkendala. Karena stock Bibit kelinci terbatas dan hanya ada di sentra daerah tertentu. Ini menyebabkan jika kelinci indukan mati akan sedikit susah mencari indukan atau harus menunggu sekian waktu. Tantangannya ada disini sekaligus menjadi peluangnya.

Kedua usaha tersebut tidak mengalami masalah dalam promosi. Pertama, aku seorang penyiar radio. Jadi dengan mudah bisa menyelipkan dalam setiap obrolan di radio sekaligus iklan yang efektif. Akhirnya dari situ "getok tular"  dengan sangat cepat. Kedua, aku juga sering ikut pameran peternakan di Ponorogo yang memang sering ada event dan tergabung dalam komunitas paguyuban peternak kelinci. Dengan demikian para peternak pemula menjadi sasaran uasaha ini. Dengan sendirinya mereka akan menyampaikan kepada temannya karena penasaran. Budidaya kelinci punyaku paling komplit jenisnya untuk wilayah Karesidenan Madiun.


Angka tidak pernah bohong, kata pak Anton.

Ya, itu betul. Dengan pencatatan yang sistematis kita akan mengetahui gerak keuangan kita, apakah mengalami kenaikan ( artinya untung ), stagnan ( diam di tempat ) atau justru malah turun ( artinya merugi ). Jika Untung, apa yang harus kita lakukan dengan keuntungan tersebut ? Membiarkan begitu saja atau mengembangkannya menjadi lebih besar. Atau jika merugi apakah diperlukan dana tambahan, baik dari pinjaman / utang, hibah, kerjasama atau barter ??

Setelah di Hong Kong dan belajar di UCDE baik dalam kelas ritel maupun Mandiri Sahabatku, wawasan usahaku menjadi lebih luas. Lebih sering memperhatikan lingkungan sekitar terutama peritel seperti toko2/ rumah makan, bgaimana pengelolaannya, dekorasi dan pelayanannya. Mencoba menerapkan segala aspek materi yang didapat dari pembelajaran selama 8 minggu pada usaha sampingan yang kini kujalani. Semua berawal dari iseng, membuat aneka kerajianan berbahan monte. Kemudian berkembang menjadi  grosir acessories dan jilbab ( yang terakhir berhenti karena kendala libur yang tidak pasti ). Meski usaha kecil, karena manajemen mulai rapi, grafik profitnya pelan tapi pasti mengalami kenaikan. Promosi utama melalui sarana jejaring sosial, yaitu Faceebook dan buku katalog. Sering ikut pameran dan bazar menurutku sangat membantu untuk menambah wawasan juga membina jaringan usaha. Jadi mengerti tren pasar yang disukai oleh target market. Mencoba mengaplikasikan ilmu yang kudapat, itulah yang kulakukan kini. Sempat berhenti juga usaha grosir  acessories karena masalah libur yang tidak pasti tersebut, tetapi aku bangkit lagi setelah pelajaran boostrap. Aku tidak mau menyerah dan mencoba berfikir keras. Mencari cara, celah dan berbagai kemungkinan. Yupp, bootstrap bagiku mengatasi masalah tanpa masalah !!!!. Aku lebih berani membangun mimpi, memulai dari apa yang ada, apa yang aku bisa ( teori efektuasi ). istilah kerennya go action, gitu loh kawan-kawan..... heheheehe.

Pengalaman menjadi guru yang paling indah. Resiko memang selalu ada disetiap usaha, tapi bagaimana meminimalisasi resiko, itu pointnya. Belajar dari pengalaman ditambah ilmu dari para dosen UCDE membuat langkah-langkahku makin mantap, kawan !!! Bagaimana dengan-mu, kawan ??.

Selamat tinggal masa lalu, selamat datang masa depan gemilang. Kayaaaauuuuuuu......... !!!!


Asesories hasil karyaku
Buku Kas Harian





Nota2 pembayaran / bukti transfer



Katalog, salah satu bentuk promosi


Bros Juntai

No comments:

Post a Comment