Saturday, October 26, 2013

Hand Craft

Membuat Kerajinan Tangan itu Mudah!


Bros Akrilic

Jujur, aku tak pernah menyangka bisa membuat kerajinan tangan seperti sekarang. Kalau senang ya, dari dulu memang senang, sebatas senang melihatnya. Membelinya sebatas untuk koleksi karena pada dasarnya aku tidak suka dandan yang neko-neko. Di tambah setelah lulus SMA aku mengikrarkan diri untuk berjilbab. So, biasanya ya sebatas seneng mengkoleksi pernak-pernik itu saja.

Apakah aku tak ingin membuatnya? 
Jawabnya sangat ingin sekali. Ketika masih di kampungku tercinta aku suka membuat pernak-pernik kerajinan, namun ga da yang jadi dan bisa dilihat dengan indah. Alih-alih dipakai atau dijual sebagai usaha. Semua mentok di lemari ja. Kok bisa? Yah, karena jika menemui kesulitan aku langsung nyerah dan terbelengkailah itu bahan-bahan. Menyedihkan bukan ?

But, Hong Kong memberi warna berbeda pada kehidupanku. Bukan hanya pada materi yang cukup tetapi juga mind set serta wawasanku. Yuup, Hong Kong adalah tempat belajar yang top markotop. Semua serba ada dan sangat terjangkau, begitu pula fasilitas yang menunjang yang mungkin tidak pernah terlintas di mimpi kita sekalipun sewaktu masih di kampung. Termasuk kesukaanku akan kerajinan. Ketika aku menemukan komunitas kerajinan, berinteraksi dan belajar dengan mereka, keinginan yang menggumpal didada itu segera menemukan ruangnya.

Pada awalnya sangat sulit, sama seperti yang lainnya. Aku hanya seneng tapi tidak ada bakat atau kemampuan. Hampir aku menyerah ketika pertama kali membuat boneka hello kitty dari bahan monte 5 hari ga jadi karena kepalanya peyang terus. Beruntung ada cintaku yang selalu mendukungku, menyemangatiku.

" Neng pasti bisa! Ga ada yang ga bisa dipelajari. So, pelajari segala sesuatunya sampai tuntas. Jangan setengah-setengah atau akan percuma saja. Hanya buang-buang waktu tiada guna", pesan cinta malam itu ketika aku patah dan hampir menyerah.

Sejak itu aku mentasbihkan diri untuk tidak menyerah ketika belajar apapun sebelum bisa. Ternyata ga sesulit yang kubayangkan pada awalnya. Hanya butuh sedikit kesabaran , ketelatetan maka jadilah kerajinan itu.

Aneka Jepit Rambut
Beberapa tips untuk memulai belajar kerajianan tangan, semoga bisa bermanfaat :
1.  Niat 
Niat yang kuat itu penting. Jika niatnya simelekete alias hanya sekedar bisa ya jadinya sekedar bisa juga. Ga lebih ga kurang. So, Man Jadda wa Jadda!
2.  Belajar, Action & Explore
Belajar bisa melalui temen, kursus, buku, internet dll. Yang lebih penting, setelah belajar do it & action. Jangan udah bisa terus wah aku pinter. No, masih da langit diatas langit. Jadi terus kembangkanlah, explore secara terus menerus. Caranya dengan mencari banyak referensi entah jalan-jalan di mall, pusat-pusat kerajinan, buku , internet, mendatangi guru ketrampilan dan ikut bazar kerajinan. Selain akan menambah wawasan juga menambah networking sesama penyuka dan penghobby kerajinan.
3. Inovasi
Selalu dan selalu kembangakan. Jadilah yang terdepan dengan menghadirkan karya-karya yang selalu up to date dan segar. 
4. Istiqomah
Jangan pernah menyerah meski menemui kendala sesulit apapun. Karena setiap masalah sesungguhnya ada jalan pemecahannya. Teruslah bergerak dan lakukan dengan hati.
3. Continuitas
Continuitas artinya terus menerus. Ilmu yang sudah didapat jika tidak diamalkan secara terus menerus akan mengendap dan hilang. Maka teruslah berkarya dan jadilah pemenangnya!

Setelah membaca ini, ternyata tidak susah bukan belajar ketrampilan? 
Aku sendiri juga terus belajar, mengasah kemampuan yang baru seiprit ini bersama kawan-kawanku tercinta, mbak Ina Arini dan Jeng Danik Hendriyani. Bersama mereka aku bisa berkembang sejauh ini. So, carilah komunitas sesuai dengan hobby kamu dan temukan semangat beserta kemajuan yang signifikan.

Selamat berkarya!

Sham Shui Po, 27 Oktober 2013
( Sebagian karyaku..................... )


Bros Beads Wire


Bros beads clay


Bando renda ceria

 

Monday, October 21, 2013

DONGENG ANAK

SEMUT MERAH DAN SEMUT HITAM


Di sebuah hutan belantara yang rimbun, dimana aneka binatang hidup rukun dan saling mengasihi, hiduplah 2 semut yang berteman baik sejak kecil. Kedua anak semut itu tinggal bertetangga di sebuah pohon hutan yang besar. Disamping dua semut itu, tinggal juga keluarga semut-semut yang lain. Kedua semut itu adalah semut merah dan semut hitam. Ayah dan ibu semut merah dan semut hitam juga berteman. Mereka hidup rukun tak pernah kekurangan bahan pangan.

"Kata ibuku, semut merah adalah sejatinya semut", kata semut merah memulai percakapan pagi itu. Matahari pagi bersinar menerobos melalui daun-daun yang rimbun dan hijau.

"Ibuku bilang, semut hitam-lah sebenar-benarnya semut", balas semut hitam tidak mau kalah. Kemudian kedua semut itu bertengkar soal siapa sebenarnya semut. Masing-masing saling ngotot dan tidak ada yang mau mengalah.

"Itu daun juga ga da gunanya, menutupi sinar matahari pagi", semut merah masih ngedumel panjang lebar.

"Ini pohon juga sudah tua. Banyak lubang dimana-mana. Mending roboh saja, ga ada manfaatnya", sahut semut hitam tak mau kalah.

Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kedua semut kecil itu segera berlari untuk berteduh, menghindari curahan hujan yang semakin deras. Tak sadar mereka bergandengan tangan.

"Merah, sini. Di bawah daun ini gak kena hujan. Daunnya cukup lebar untuk menutupi badan kita yang kecil", semut merah menarik tangan semut hitam ke balik daun besar yang menjuntai.

"Sini aja, hitam. Di lubang ini jauh lebih aman", sahut merah sambil berlari ke lubang pohon terdekat.

Semut hitam segera menyusul karena hujan semakin deras dan daun itu tak mampu menjadi payung baginya. sampai didalam lubang kedua semut itu saling berpandangan. Kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang kau tertawakan hitam?", semut merah merasa heran.
"Lalu apa yang kau tertawakan merah?", semut hitam malah balik bertanya.
"Ternyata tak ada yang tidak berguna didunia ini. Coba, jika tak ada daun tadi kita pasti kehujanan. Jika tidak ada lubang pohon ini, malah lebih gawat lagi", semut merah menjelaskan.
"Betul itu. Coba jika ga da daun, sinar matahari langsung kena kita, bisa bayangkan betapa panasnya kan ?, sahut semut hitam.
"Nah! Dan kenapa kita meributkan hal yang gak penting? Padahal itu semua diciptakan oleh Tuhan pasti dengan tujuan yang baik. Kita saja yang suka suudhon alias berprasangka buruk. Jadi sipakah sebenar-benarnya semut itu?", suara semut merah sengaja dilunakkan.
"Ga da. Mau semut hitam, semut merah, semut ijo, semuanya istimewa dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing", duh bijaknya kata-kata semut hitam.
"Mensyukuri karunia dan nikmatnya", sahut semut merah.
"Betul. Kita semua bangsa semut adalah saudara", cepat semut hitam menyahut.

Kemudian kedua semut itu berpelukan. Hujan pun berhenti. Perlahan-lahan awan menyibak gelapnya. matahari kembali menyinari bumi. Dan sinarnya yang hangat menerobos lewat dedaunan. Hewan-hewan keluar dari sarangnya masing-masing. Berbaur dengan alam. Hidup rukun, damai sentosa.

( Sham Shui Po, 22 Oktober 2013)

TAMAT

Sunday, October 20, 2013

CURHAT

SOMETHING NEW,
Kenapa Tidak?




*Causeway Bay, 20 Oktober 2013

Liburku masih sama seperti libur-libur sebelumnya, menjadi loper buku. Mengantarkan buku-buku ke berbagai penjuru kota yang ada di Hong Kong. Tidak ada yang menyenangkan selain melihat senyum mereka ( costumer ) dan berkata, "ini buku yang saya cari mbak, untuk bekal sebelum pulang kampung nanti". Atau, "saya punya lahan tiba-tiba pingin mengembangkan sayuran organik, peternakan, jadi ibu rumah tangga yang smart". Kemudian mengalirlah obrolan kami, tentang rencana, mimpi dan harapan sepulang dari Hong Kong nanti. Berbagai cerita tak terduga kutemukan disini, ketika ngobrol dengan mereka. Alhamdulillah, BMI Hong Kong masa kini semakin open minded, menyadari betul bahwa membaca dan membeli buku itu sudah menjadi budaya yang tak susah dilakukan. Hong Kong memberikan kemudahan akan akses informasi yang jarang bisa didapat saat di kampung dengan himpitan ekonomi dan sekolah itu mahal! Dan, seringkali hal ini membuatku lupa makan saat kejar tayang dihari libur. Eh, tau-tau waktu sudah merambat sore. Oh, sungguh waktu berlalu begitu cepat.

Pada awalnya terasa berat sekali harus menyeret koper kesana kemari, tetapi lambat laun menjadi biasa dan aku mulai menikmatinya. Pepatah jawa bilang, "sing obah yo mamah" artinya siapa yang bergerak yang mendapatkan hasil terasa begitu pas maknanya.

Back to laptop...
Mas Dinar memberikan materi
At something New!

Minggu ini aku ikut workshop kepenulisan sekaligus perekrutan anggota baru FLP Hong Kong. Acara yang didukung full BRI Hong Kong, di gedung Ramayana KJRI bersama Dinar Apriayanto, penulis buku Black Berry dan Belajar Cepat berlangsung antusias, kocak dan haru. Keinginan menjadi penulis itu sudah sejak lama terpendam. Sejak masih sekolah menengah umum ( SMU ) aku suka sekali korespondensi atau berkirim surat dengan kawan hampir di seluruh nusantara, menulis cerpen yang tak pernah bisa rampung endingnya, ha ha ha... Entah kenapa aku tak mampu mengembangkan tulisan-tulisan itu. Hanya jadi cerita yang tak berending, selalu seperti itu. Dan belakangan ini aku merasa keinginan menulis itu begitu meledak-ledak dalam dadaku.

Kata mas Dinar Apriyanto yang kocak, jika ingin menjadi penulis sukses itu harus mempunyai 3 kuncinya :

1.  VISION  
Tulisan itu tujuannya apa? Buat siapa ? dan untuk apa? Alasan-alasan itu yang membuat tulisan kita punya arah dan tujuan yang jelas. Tujuannya supaya bermanfaat bagi orang lain, sebagai dokumentasi literalisasi, menjadi terkenal dengan menjadi penulis dan banyak tujuan lainnya kenapa kita menulis.

2.  MOTIVASION 
Motivasi atau semangat menulis kita bagaimana? Supaya terkenal? Menyalurkan hobby? Ikut teman karena teman sukses menjadi penulis atau apa?.

3.  ACTION
Jika kedua kunci diatas sudah ditemukan, do it! In action! Tanpa itu imposibble tulisannya akan jadi atau sukses. Bisa jadi malah memenuhi tong sampah akibat tulisan yang ga jadi-jadi, he he he...

Okeeyy...
Tak ada seseuatu yang tak bisa dimulai. Mungkin lebih lambat dari teman kita, tetapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali dan cukup puas di bangku penonton saja?. 

So, kembali aku berjanji pada diriku sendiri, yang harus aku lakukan untuk menjadi orang yang sukses adalah terus belajar, memperbaiki diri dan wawasan guna meraih prestasi terbaik dalam hidupku, menuju impian mulia, aamiien!

Bismillah tawakkalu 'ala Allah...



Bersama Pengurus FLP Hong Kong


Diantara Konjen RI Hong Kong

Tuesday, October 15, 2013

Agrowisata

BISNIS AGROWISATA, WHY NOT ?


Welcome to Flower Garden


Senin, 14 Oktober 2013
Dipaksa seorang sahabat untuk menemaninya jalan-jalan karena rencananya dengan para sahabat yang lain untuk jalan-jalan ke kebun strawberry di Yuen Loeng gatot alias gagal total. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya aku memutuskan untuk menemani sahabatku ini, jeng Danik Hendriyani namanya. Setelah sebelumnya aku tekankan dan memastikan urusan antar mengantar buku beres.

Akhirnya, jam 11.30 aku meluncur ke Taiwo, dimana jeng Danik sudah menungguku dari pukul 10.00 pagi. Beberapa kali menelponku ini itu dan memastikan posisiku ada dimana. Okeey, aku ga tahu tempat seperti apa yang aku kunjungi jadi bekalku cukup camera karena perbekalan makan sudah disiapkan jeng Danik. Dan aku berterima kasih padanya karena aku memang belum sempat sarapan.

Sepanjang jalan, setelah tadi ketemu di KCR Taiwo dan oper naik bis arah Yuen Long, jeng Danik bercerita tentang keinginannya yang tak tertahan untuk jalan-jalan ke kebun. Dia sendiri juga belum tahu tempat yang dituju seperti apa. Hanya dengar dari majikan laki-laki dan foto-fotonya. Tak sampai 15 menit, cukup merogoh kocek $ 5,50 sudah sampai tempat tujuan.

KADOORIE FARM & BOTANIC GARDEN.
Begitu papan nama yang tertulis besar-besar. Cukup membayar $ 20 saja kita sudah bisa masuk dan di sambut peta besar yang menjelaskan isi seluruh kawasan Kadoorie Farm & Botanic Garden. Disana sini terpampang poster dan baliho yang menjelaskan banyak hal dalm 2 bahasa, bahasa China dan Inggris. Waahh kerenn nieh, pikirku! Di tambah ada payung2 cantik dan kursi melingkar, ada kantin yang menyediakan makanan berbahan dasar organik. Di setiap pertigaan selalu ada papan pancang yang menjelaskan tentang apa saja yg ada di wilayah tersebut. Misalnya Flower Garden, disini wilayah semua bunga-bunga beraneka ragam dan jenis lengkap dengan bahasa latinnya plus penjelasan pada bunga2 tertentu. Begitu pula dengan bergam hewan yang ada. Namyanya juga farm & botanic, jadi berbagai tumbuhan, bunga, hewan bisa kita jumpai, mulai ayam, babi, unggas dst.  Beberapa hewan langka seperti Kancil, Tapir, jenis burung Flamingo, kakaktua, beo  ( maaf tidak hafal satu-satu ) dirawat dengan baik dan lengkap dengan penjelasan secara ilmiahnya.

Si Kancil

Perlu diketahui, tempat ini luas sekali. Hampir 1 bukit dan setiap wilayah dibagi menurut kategorinya. Seperti Flower Garden, Herbal Garden, Fruit, Farm Garden, Reptilia, Butterfly Garden, Bird dst. Setengah hari, aku hanya mampu menjelajahi separo tempatnya saja. Ingin meneruskan sampai pucak, seperti apakah disana, tetapi waktu sudah sore dan kawan-kawan kita yang lain menunggu di Sham Shui Po untuk tapinlo ( makan malam yang hanya di rebus, salah satu kuliner khas orang China ) dan berkali-kali sudah menelpon pula. Jadi mau tak mau harus pulang.

Ada hikmahnya aku dipaksa Jeng Danik untuk menemani perjalanannya. Selain happy karena udara gunung yang segar, wawasan tentang agrowisata juga bertambah. Sepanjang jalan pulang aku terus berfikir. Pun malamnya aku juga browsing internet untuk memenuhi rasa ingin tahuku tentang agrowisata, agropreneur dan sejenisnya. Yang terlintas dikepalaku, seandainya saja aku dan temen2 BMI yang berasal dari kampung, pelosok pegunungan sedikit open mind tentang Agrowisata seperti di Kadoorie Farm ini, atau agrowisata yang juga lagi trend di Indonesia ( coba browsing Internet, pasti berjibun ) tentu tak ada lagi kebingungan pulang kampung mau ngapain dan usaha apa?. Kenapa tidak mencoba memaksimalkan kekayaan alam di kampung yang melimpah ruah dan murah. Memang hal seperti ini butuh perjuangan dan dana yang tidak sedikit. Tapi untuk sesuatu yang besar, bukankah harus dimulai dari yang kecil ? Dan yang berproses terus meneruslah yang akan memenangkan pasar.

Maka tekadku semakin bulat untuk mimpi2 yang menggelora didada. Tentang kelinci, buku dan craft menjadi Wisata Edupreneur! Adakah yang punya mimpi yang sama dengan-ku?

Let's go to grow up!
Think Out of the box!
Yes, You Can !


Catatan : 
Sayang memory camera full, jadi ga bisa ambil foto lebih banyak.... Duh, klo tau bgtu banyak potensi yang  bisa dipelajari, maka akan kusiapkan camera blank memory dan catatan kecil. Semoga next time bisa kesana lagi. Like it!


Orchid Kondominium


Flamingo


Sisi lain Kadoorie Farm

Rosella in Herbal Garden



Pembibitan Anggrek

Monday, October 14, 2013

Jurnal # 4

MER Batch 1

MANAGEMEN  SUMBER DAYA MANUSIA

---------------

Hong Kong, 15 Oktober 2013

Yang menyebalkan dalam MER Batch 1 bagiku adalah tiap awal minggu dan ganti topik bahasan, rasa malas itu datang tanpa bisa kucegah. Akibatnya tak satupun materi yang nyantol di otak. Baru jika mendekati masa deadline, dan kepala ini dipaksa untuk berfikir keras barulah konect. Kadang Sinkronisasi antara otak dan perasaan ga bisa diprediksi, huuffttt! Meski pun sudah membuat skala prioritas dan berusaha komitmen sekali pun, toh kenyataannya lebih banyak ngeles-nya, he he he... Tak mudah memang. Alhamd, terus berusaha untuk menepati komitmen yang kubuat sendiri, meskipun berat!

Kebetulan lagi banyak masalah di Pondok Buku 61. Banyak hal- hal kecil yang aku abaikan sehingga membuat temen-temenku di team merasa jenuh. Meski maksudku tidak begitu. Mungkin aku terlalu fokus pada satu dan dua hal, dan mengabaikan hal remeh temeh. Akibatnya terjadi ketidak-seimbangan karena komunikasi yang juga tersendat. Wah, ga bisa dibiarkan nieh! Bisa-bisa usaha yang baru kita rintis bersama teman-temanku  layu sebelum berkembang. Ini ga boleh terjadi!

Penjelasan Pak Nur tentang sumber daya manusia sungguh mengusikku. Begitupula penjabaran bu Poedjiati Tan tentang pembagian job discription dan sisitem yang kuat dalam suatu badan usaha atau perusahaan membuatku makin penasaran. Rasanya penjelasan demi penjelasan tidak membuatku puas. Terus aku mencari dimana letak kesalahan dari manajemen Pondok Buku 61. Sumber daya manusianya-kah? Manajemen keuangan? Perilaku konsumen? Manajemen pemasaran? Atau apanya?

Berbagai referensi aku lahap. Mulai dari browser net, buku, diskusi dengan para pelaku usaha dan praktisi aku telusuri. Alhamdulillah, ketika tulisan ini saya buat, masalah di Pondok Buku 61 ( bisa dilihat link : https://www.facebook.com/PondokBuku61 ) sudah mulai terurai satu per-satu. Dari sini aku belajar banyak hal, tentang menata manajemen dan sisitem. Dimulai dari manajemen sumber daya manusia, keuangan, administrasi, pemasaran, pelanggan dst. Ini menjadi evaluasi penting bagi Pondok buku 61 jika mau terus maju, tumbuh dan berkembang.

Untuk semua kawan di team Pondok Buku 61, costumer, reseller dan siapa pun yang terlibat, pak Nur, bu Poedji dan pak Teddy, terima kasih untuk semua masukan, ide dan sharingnya.

Yang lebih penting dari itu, aku menyadari bahwa tak ada yang besar tanpa proses. Jadi keep stay cool with process, kawan. Dan jangan pernah menyerah pada setiap masalah. Karena ditiap masalah yang terpecahkan, disitulah letak pintu sukses berikutnya. Bersiaplah! Karena hanya orang-orang yang siap yang akan menerima setiap keberuntungan yang menghampiri.

Salam Entrepreneur!


Pondok Buku 61 & Lovely Costumer ( Victoria Park )



Saturday, October 5, 2013

INSPIRASI

MOMPRENEUR !
********



Andai saja aku tidak tercebur dalam dunia "perbabuan" Hong Kong, yang lebih dikenal dengan BMI (Buruh Migrant Indonesia ) mungkin aku tak akan mengenal kata entrepreneurship. Pertama mendengarnya di training Mandiri Sahabatku yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri bekerja sama dengan Universitas Ciputra Entrepreneur Centre, Jakarta 2 tahun lalu. Keren banget kayaknya.

Merubah kotoran menjadi emas, itulah jiwa entrepreneur yang selanjutnya selalu tertanam dibenakku. Membuatku seolah mendapatkan energi baru untuk menuju impian yang terkatung-katung, pada masa depan yg buram menuju masa depan gemilang. Sejak itu aku mulai percaya dan berani menuliskan mimpiku dg tegas, membuat target-terget dan berusaha komitmen dengan target-target tersebut. Sempitnya waktu, keadaan yang tak sebebas merpati justru membuatku makin semangat untuk mengalahkan kemalasan. Memutus mata rantai tidak mungkin menjadi kenapa tidak bisa?

Inilah yang kutargetkan selama  6 bulan terakhir di Hong Kong adalah :
1.  Memaksimalkan belajar dalam segala hal dengan sepenuh hati.
Man Jadda wa jadda!

2. Fokus pd usaha sampingan yang mulai kurintis bersama kawan-kawanku, Pondok Buku 61 ( https://www.facebook.com/PondokBuku61 ) dan Kinarya Pernak-Pernik. Terus berproses menuju my Big Dream menjadi mompreneur dan dekat dengan orang-orang yang kucintai, anak dan suami.

3.  Nulis buku.
Tawaran ini begitu menantang. Aku tidak ada basic jurnalistik tetapi tidak ada salahnya dicoba kan? Orang lain bisa, kenapa aku tidak?

Menjadi Mompreneur adalah gabungan dari seluruh impianku. Menjadi pengusaha yang tetap bisa menjalankan aktivitas usahanya dirumah, dan dekat dengan keluarga. Memaksimalkan semua potensi yang ada dan menjadikan rumah sebagai point of value entrepreneur. Hal ini yang membuatku makin semangat, seolah mendapatkan energi yang berlipat-lipat. Kelinci, buku, kerajinan, kuliner bisakah aku kerjakan bersama dalam satu atap?

Jawabannya adalah PR besar bagiku!
Its my dream....
So, apa mimpimu kawan ??
Tulis, targetkan, berusaha, berdo'a, belajar!
Do it...
YES, YOU CAN!



Entrepreneurship


Self Management,
Mengoptimalkan Prime Time Diri Sendiri



Ngerasa gak waktu kita kayaknya kurang?
Belum mengerjakan apa-apa, eh tau tau udah malam lagi. Belum mengerjakan tugas tapi kok sudah deadline. Terus dimana letak salahnya?.

Jawabannya adalah karena kita kurang mengoptimalkan waktu yang kita punya. Bahasa kerennya self management, mengoptimalkan prime time diri sendiri. Artinya adalah manajemen diri sendiri atas waktu yang ada. Kita semua sama kok, punya waktu 24 jam setiap harinya. Tapi kenapa mereka bisa dan kita tidak?

Dulunya aku juga iya, dan sekarang pun masih kesulitan untuk membagi waktu se-efisien mungkin. Meski demikian aku terus berusaha meningkatkan kualitas waktu yang kupunya. Ada beberapa hal yang coba kulakukan sehubungan dengan management waktu tersebut, yaitu :

1.  Memprioritaskan hal-hal penting hari ini dan membuat jadwal khusus. Berusaha untuk komitmen pada prioritas dan jadwal akan sangat membantu memangement waktu lebih efisien.

2. Mengindari hal-hal yang membuat waktu kita boros dan terbuang sia-sia, seperti ngegosip, berkicau di media sosial untuk hal-hal gak penting, ngobrol di telepon tanpa mengenal waktu dsb.

3.  Membuat target-target kecil. Misalnya hari ini harus nulis blog 3 paragraf. Nah, target-target ini akan sangat membantu untuk tetap fokus dan terbiasa mengerjakan target-target besar berikutnya.

4.  Memberi penghargaan kepada diri sendiri jika sudah mampu melampaui point-point dan target tertentu. Seperti makan es cream atau cokelat. Hal sepele seperti ini akan menjaga mood kita jauh dari rasa malas.


5.  Memberi ruang untuk membaca dan mengerjakan tugas pada jam prime time, dimana kualitas otak sedang dalam keadaan prima. Setiap orang tidak sama kemampuan menerima sesuatau yang baru, maka dimana jam tertentu paling efektif, disitu akan lebih optimal. Misalnya, aku paling cepet jika belajar pada malam dini hari atau pagi-pagi sekali. Maka pada jam itu kemampuan otakku bisa merespon dengan sangat cepat.

 6.  Mengingat visi, misi dan tujuan!
Ini sangat penting jika sedang dalam kondisi jenuh dan malas melanda.

Tips sederhana ini kelihatannya ribet pada awalnya, tetapi akan mudah jika kita berusaha komitmen pada setiap hal yang kita tetapkan. Ketika menulis ini, beberapa sudah aku lakukan dan berhasil meningkatkan kualitas waktu yang kupunya. Beberapa sedang berusaha aku jalankan.

Semoga tips ini bermanfaat, lets go to opend mind. Yes, do it! 


**  ( Dirangkum dari berbagai sumber )