Wednesday, August 28, 2013

INSPIRASI

E - SDMI, 
Victoria Park & Universitas Kehidupan



Victoria Park, Hong Kong ( 25 / 8, 2013 )

Kami sekelompok BMI ( Buruh Migrant Indonesia ) sukses mendeklarasikan E-SDMI, Entrepreneur - Sumber Daya Migrant Indonesia. Transformasi dari BMI yang mempunyai cita-cita bukan hanya sekedar bekerja, menjadi pahlawan keluarga atau penghasil devisa negara saja. Lebih jauh, kami warga E-SDMI bercita-cita untuk mensejajarkan diri  dengan anak bangsa yang lain, yang mempunyai harkat dan martabat yang sama, kesempatan yang sama dalam pengembangan diri, pengembangan ekonomi sejahtera dengan kaki kami sendiri. Bekerja, belajar dan terus meningkatkan kualitas diri agar mampu menjadi Entrepreneur dalam bidang masing-masing.

Tentang E-SDMI bisa diakses linknya disini  : 

Victoria Park, Causewaybe, Hong Kong menjadi saksi upacara merah putih dan deklarasi E-SDMI. Atas bimbingan Bpk Antonius Tanan, direktur UCEC, Universitas Ciputra Entrepreneur Centre, Jakarta maka lahirlah E-SDMI. Alhamdulillah, meski tanpa persiapan akhirnya upacara berjalan dengan khidmat. Lagu Indonesia raya berkumandang, bendera merah putih berkibar meski tanpa tiang, karena memang aturannya tidak boleh bendera negara lain berkibar di sembarang tempat.

Jujur, ini pertama kali aku mengikuti upacara bendera di Hong Kong. Merinding !! Haru menyeruak. Patriotrik tiba-tiba melunjak. Betapa aku cinta Indonesia-ku !!

Walaupun banyak negeri kudatangi,
Yang termashur yang dikata orang...
Namun cintaku dan rumahku,
Disanalah rasa senang....

Tanahku yang kucintai,
Engkau kuhargai....

Dan Victoria Park kembali menjadi saksi perjuangan akan peningkatan kualitas diri, yang bagi kami sebagian BMI amat muskil ditanah pertiwi, ibu kami. Bagi sebagian kami, pendidikan amatlah mahal di bumi yang katanya loh jinawi. Bytw, sekarang itu tak membuat kami berkecil hati. Tengoklah disudut-sudut Victory. Di bawah pohon palem yang hijau ( kami menyebutnya kampus hijau ), di antara rimbunny pohon kemiri dan cemara, wajah-wajah penuh semangat menimba ilmu dari universitas kehidupan.

Ya, kami menamakannya universitas kehidupan yang lebih hebat dari kampus manapun. Bukan gelar akademisi yang didapat dan bukan pula diajar oleh dosen-dosen bergelar yang kami sendiri tak tahu maknanya. Lihatlah calon-calon entrepreneur ada disana, diskusi, merenda asa sekaligus action meski harus kucing-kucingan dengan pakdhe, sebutan polisi imigrasi Hong Kong. Karena memang aturannya BMI tidak boleh berdagang. Peraturan & hukum di Hong Kong berdiri tegak tanpa pandang bulu. 

Warles atau warung lesehan ada ditiap jengkal Victory menyuguhkan beragam khas kuliner nusantara, sedikit mengurangi rasa rindu terhadap makanan khas Indonesia. Dari Victory telah lahir jutawan-jutawan yang mampu mnginspirasi lingkungannya. Menjadi pioner dan mata rantai perubahan di kampung-kampung pelosok negeri. Itulah yang kini banyak dilakukan sebagian besar dari kami. Belajar tak kenal lelah, tak kenal usia diantara padatnya tugas rutin di rumah majikan.

Di sudut-sudut taman Victory ada yang belajar musik, belajar tari, belajar ketrampilan tangan, belajar ngaji, sholawatan, organisasi, volounter, taekwondo, pencak silat, dancer, rias, komputer dan segala macam kursus ketrampilan bisa dijumpai dengan mudah. Bahkan perpustakaan lesehan turut menyumbang bagi berkembangnya budaya baca sehingga bisa menggeser mindset menjadi lebih melek ilmu.

Jujur, awalnya menjadi BMI adalah keterpaksaan hidup atas pilihan yang terakhir. But, aku bersyukur ada di bumi Hong Kong. Bisa belajar berbagai disiplin ilmu. Tentang agama, solidaritas, kekeluargaan, berbagi, empati, bisnis, ketrampilan, komunikasi, entrepreneurship, leadership, organisasi, menulis, literalisasi, tekhnologi, budaya, etos kerja, disiplin, kerja keras dan masih banyak lainnya. Tulisan ini sama sekali bukan bertujuan untuk mengajak pemudi negeri ini untuk datang ke Hong Kong, tetapi jika pilihan hidup mengantar sampai disini, jadilah BMI yang smart. Manfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk bekal ilmu dikemudian hari. Harta tak bisa dibawa mati, tapi ilmu yang diamalkan seperti sungai yang mengalir. Terus memberi cahaya kehidupan bagi sekitarnya.

Percayalah kawan!
Cerita tentang Victory tak ada habisnya. Tentang pengkhianatan baik itu cinta atau persahabatan, pengorbanan, air mata, perjuangan bahkan cinta sejenis. Semua ada di Universitas kehidupan, Victory.

Ini tentang satu sisi Victory, kampung kedua kami BMI di negeri beton, Hong Kong.
Mestinya harus dibuat buku yaa...
Bagaimana pendapatmu, kawan ?



Gladi resik Upacara deklarasi E- SDMI


Liburan di Victory



Tangan-tangan terampil & kreatif


Tari Bali by Mira dkk


Belajar Biola di VBUB

Rebana dlm karnaval

Pray 4 Egypt


Pondok Buku 61

2 comments:

  1. Akan luar biasa sekali bila di film kan!!!
    Sehingga menjadi inspirasi yg tak ternilai harganya buat teman2 sesama BMI. Serta dpt membukakan mata Masyarakat Indonesia yg hanya memandang kita (BMI) dg sebelah mata, memandang rendah BMI dan lain-lainnya.
    Padahal banyak segudang ilmu dan pengalaman/kreatifitas yg dilakukan pr BMI sbg bekal kelak kembali ke Negeri sendiri....
    BMI tidak hanya sekedar Pahlawan Devisa, tapi jg sbg agent of change utk Negeri Tercinta menuju Indonesia yg Makmur dan Sejahtera...
    Kayau.... Mbak Pipiet & Teman Seperjuangan lainnya... :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film pendeknya sdh ada kok.. Janji Sang Pembelajar adalh debut kita yang pertama... nieh link-nya : http://www.youtube.com/watch?v=6ggRL178f8U

      Do'akan kita bisa membuat film full-nya ya non Fasikha.... Dan jika ada yang memandang sebelah mata BMI, sepertinya perlu pake kacamata kuda dech... he he he

      Menjadi Agent of Chance, yes we can !

      Delete