LOYALITAS PELANGGAN
Vs
LOYALITAS SUPLIYER
Minggu ini masih sama dengan minggu kemrin. Senin sampai minggu, dan ketemu senin lagi. Ritme-ku juga sama. Masih menjalankan tugas negara di negeri beton. 2x minggu tidak libur, sedih tidak bisa ikut kegiatan. Tdak ketemu teman dan sahabat. Tidak bisa nguliner makanan nusantara. Hikkzz... Tetapi aku mendapatkan pelajaran berharga yang melecut semangatku dari kejadian yang lain.
Bukankah pengalaman adalah guru terhebat dalam kehidupan? Ya, beberapa masalah mengharuskan aku mencari titik solusinya. Itu membuatku serasa muda lagi. Semangat lagi. Seperti saat masuk SMA atau dilamar oleh Cinta. Rasa itu bercampur aduk seperti gado-gado di dadaku.
Bukankah pengalaman adalah guru terhebat dalam kehidupan? Ya, beberapa masalah mengharuskan aku mencari titik solusinya. Itu membuatku serasa muda lagi. Semangat lagi. Seperti saat masuk SMA atau dilamar oleh Cinta. Rasa itu bercampur aduk seperti gado-gado di dadaku.
Aku harus bisa!
Aku pasti bisa!
Aku yakin bisa!
Kilas balik....
Loyalitas pelanggan sudah dipelajari di awal MER batch 1. Loyalitas pelanggan akan tercipta jika kita mampu mempelajari, mengerti, memahami, dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan demikian bisa tercipta loyalitas pelanggan terhadap produk atau jasa yang kita tawarkan
Ini tentang supliyer buku di Pondok Buku 61.
Kita memang punya beberapa supliyer. Dari beragam supliyer itu entah kenapa aku langsung jatih hati semenjak transaksi pertama kepada supliyer B. Meskipun di list katalognya tidak selengkap supliyer A, pun kecepatan distribusinya juga kalah. Harga juga tidak semiring supliyer C. Tetapi si B melayani kami dengan hati. Mendengar segala keluh kesah sebagai pelanggannya. Mempertimbangkan masukan-masukan yang sering kita lontarkan. Menjelaskan sedetail-detailnya jika terjadi permasalahan baik di distribusi buku, order, pengiriman atau lain-lain. Mereka ada selama dibutuhkan. Meskipun hanya sekedar ngobrol. Supliyer B sudah seperti keluarga sendiri. Ada kepercayaan yang terjalin dengan baik. Padahal kita belum bertemu mereka. Hanya lewat dunia maya. Kadang kita sengaja telat membayar tagihan, sekedar nge-tes sejauh mana rasa percaya mereka. Buktinya mereka percaya, tetap melayani kami dan memberikan kelonggaran waktu.
Karakter dan sistem dari supliyer memang berbeda-beda. Belajar dari hal tersebut, aku yang berhubungan langsung dengan suplayer tentu belajar banyak hal. Bahwa untuk menjaga loyalitas pelanggan kita juga harus memperlakukan mereka layaknya sahabat atau keluarga. Bukan sekedar 'raja'. Teori bilang demikian, tetapi akan berbeda taste-nya jika kita terjun langsung di medan perang. Jika kita mampu menyentuh sisi emosi mereka, kebutuhan mereka, dan memerikan nilai lebih maka dengan sendirinya loyalitas pelanggan akan tercipta. Begitu pula supliyer. Dengan etika yang baik, bicara dan bertindak jujur maka supliyer akan mempercayai kredibilitas kita. Sehingga tercipta loyalitas supliyer juga. Ada dua arah yang berkaitan.
Ya ya ya....
Aku harus terus belajar. Mengepakkan sayap bersama proses dan optimisme. Masalah demi masalah membuat sudut pandangku berbeda. Bersyukur ada mentor-mentor kehidupan yang tak kenal lelah terus mendukung semangatku. Cinta, Pak Teddy, Mbak Ollie, Mbak Nunik, Mbak Bunga, Mbak Yuni, Wak Haji, terima kasih untuk semua pelajaran indah minggu ini.
Bismillah....
Tak ada yang tak bisa selagi kita berusaha
Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki
Tetap berjalan tegak dan jangan menengok kebelakang
Memperbaiki, menambal yang diperlukan
Perjuangan tak akan lekang oleh panas dan dingin cuaca
Janji sudah terikrar
Niat sudah dilafadzkan
Bismillah...
Man Jadda Wa Jadda!
* Note:
Kepada teman-teman dan pelanggan Pondok Buku 61, terima kasih. Love u all..
bagus artikel nya
ReplyDelete