Monday, December 23, 2013

Cerpen



*DREAMLAND BOX*
By : Pipiet Kinarya

Ines berlari tergesa menuju stasiun MTR, Causeway Bay. Setengah berlari menuruni anak tangga eskalator. Tak peduli nafasnya yang ngos-ngosan. Tak peduli peluh berleleran di dahi dan tengkuknya. Menyibak kerumunan orang-orang yang berjejal. Ada yang menatapnya aneh, tak sedikit yang acuh tak acuh. Ines tak peduli. Terus mempercepat langkah kakinya.

“Pokoknya jangan sampai telat. Titik nggak pakai koma” teringat pesan Mbok bos tadi malam menjelang tidur. Jika telat, sudah pasti Mbok bos akan mengomel panjang kali lebar. Arggghhhhh!

Ines melirik jam mungil di tangan kirinya. Jam monumental yang dibeli dengan gaji pertama Ines, saat masih harus membayar potongan agensi selama 7 bulan. Jam persahabatan, Indri menyebutnya. Sayang, jam persahabatan itu kini sama sekali tak bersahabat. Jarumnya sudah bertengger angkuh diangka 18.45. Padahal Ines harus masuk rumah jam 19.00 tepat. Sementara waktu tempuh yang dibutuhkan dari Causeway Bay ke rumahnya di Sham Shui Po sekitar 20 menit. Ditambah jalan kaki 5 menit dari MTR station untuk sampai rumahnya. 

“Alamat si mbok bos nyanyi Indonesia Raya nieh” batin Ines nelangsa.

Seperti biasa pula, jam 7 malam kondisi MTR selalu penuh sesak. Harum minyak wangi bercampur bau keringat, mengoar di udara. Membuat Ines hampir sesak nafas dibuatnya. Dengan tisyu Ines menyumpat hidungnya. Dan orang-orang masih saja berdesak-desakan di dalam kereta, berjejal-jejal seolah tak akan ada kereta edisi berikutnya. 
******

Ingatan Ines berputar pada kelas entrepreneurship atau wirausaha yang baru saja berakhir 45 menit yang lalu. Masih tergambar jelas di memory Ines. Menelisik ruang kosong di otak Ines. Masih juga melekat hangat kata-kata pak Anton, mentor yang di datangkan oleh salah satu bank ternama dari Jakarta. Semua terpukau. Semua terpesona oleh semangat perubahan yang dibawanya, untuk masa depan lebih baik. Dada Ines bergolak, begitu pula peserta lainnya.

“Merubah rongsokan jadi emas. Itulah inti dari entrepreneur. Menciptakan peluang, berani mengambil resiko terukur dan terus berinovasi. Jika saya bertanya kepada teman-teman disini, mau jadi apakah saya 5 tahun dari sekarang? Kira-kira jawabannya apa ya?” suara pak Anton tegas menggelegar.

Seketika ruangan menjadi hiruk pikuk layaknya pasar kaget. Dengungan lebah memenuhi udara di ruangan yang bisa menampung 1000 orang tersebut. Saling berbisik, saling lempar senyum. “Siapa yang ingin sukses? Siapa yang ingin jadi pengusaha? Siapa yang ingin jadi pengusaha sukses? Ayo tunjuk jari” Suara pak Anton beruntun, kembali cetar membahana. Semua, satu ruangan full mengangkat jarinya tanpa terkecuali. “ Dan yang bermasalah dengan BB, bau badan cukup diam saja ya. Nanti teman disampingnya jadi pingsan, repot kan ?”

GeeerrrR! Wakwakwak! 
Seluruh peserta workshop yang ada di hall room hotel Olympia tertawa. Ines jadi merinding sendiri. “Pengusaha sukses. Bisa dipelajari” gumamnya sendiri menirukan ucapan pak Anton di kelas tadi. Satu pemahaman Ines yang keliru tentang entreprenurship. Satu kalimat pendek, namun mampu mengusik hatinya yang terasa kosong selama ini. Ines mulai berani mereka-reka masa depannya. Menuliskannya dalam buku, menjadi deretan catatan impian yang panjang. Menurut Pak Anton, setiap orang berhak punya mimpi. Jangan takut untuk bermimpi. Sama dengan setiap orang berhak untuk sukses. Caranya dengan menggali potensimu, kemampuan, bakat, lingkungan dan tuliskan sebanyak-banyaknya. Setelah itu pilah mana yang paling dekat dengan dirimu. Fokus dan berproses-lah untuk meraihnya. Jangan pernah takut gagal. Jangan menyerah. Gagal 10 kali, bangkit 11 kali. Itulah jiwa Entrepreneur!

Ines memejamkan mata setelah mendapatkan tempat duduk. Mengurai kembali mimpi-mimpi yang tadi ditulisnya di workshop wirausaha. Menjadi ajimat yang luar biasa. Menggedor sisi hatinya sampai merinding disko. Pokoknya sesuatu banget deh!

******           

“Mbak Ines, kelas bahasa Inggris besok kosong loh. Mbak Ima minta izin tidak bisa mengajar karena ada les tambahan di sekolahnya. Maklum menjelang Unas jadi banyak les tambahan.”  Mas Aris mengatakan itu sambil membereskan buku-buku di Pondok Buku. Rumah baca yang Ines rintis atas kontribusi bersama 6 sahabatnya, Dara di Taiwan, Rere di Singapura, Boy di Malaysia, Indri, Laras, dan Sri di Hong Kong. Mereka semua adalah sahabat maya Ines yang kemudian menjadi se-visi karena buku.

“Bagaimana jika besok kelas bahasa inggris kita gabung kelas mendongeng, mbak Ines?” usul mas Aris sebelum Ines sempat menjawabnya.

“God! Jika Mas Aris bisa mengaturnya, kenapa tidak. Terima kasih ya, Mas. Karena besok ada kunjungan ibu-ibu PKK dari kabupaten untuk kelas kerajinan, jadi saya bakal repot seharian.”

“Okey, ggak masalah Mbak Ines.”

Ines tersenyum lebar. Inilah salah satu impian Ines yang dulu ditulis dikelas entreprenership sewaktu masih di Hong Kong 2 tahun lalu. Mempunyai rumah baca, belajar bersama anak-anak di kampungnya. Kampung terpencil di lereng gunung Wilis. Kampung yang jauh dari akses pendidikan dan pengembangan diri. 

Ternyata bukan daya baca anak-anak dan warga yang rendah, tetapi karena tidak adanya akses yang memadai untuk hal itu. Bersama 6 sahabat Ines yang masih merantau, yang selalu mensuportnya, bersama anak-anak muda penuh semangat dikelilingnya seperti Mas Aris, Mbak Ima, Mbak Ririn dan Mas Najib maka Pondok Buku bisa melakukan aktifitasnya. Menjembatani anak-anak di kampung Sejahtera untuk lebih maju. Merekalah roda penggerak yang mambantu Ines mengembangkan Pondok Buku dan Pondok Kreatif.  Pondok buku bergerak dalam bidang pengembangan diri, maka ada kelas menggambar, kelas mewarnai, kelas tari, kelas mendongeng, kelas bahasa inggris dan kelas teater. Pondok  Kreatif sendiri bergerak di bidang kerajinan yang langsung di pegang Ines sebagai instrukturnya. Tujuannya untuk memberdayakan ibu-ibu supaya lebih produktif. Mampu menghasilkan sesuatu dari lingkungannya dan menjadikan nilai ekonomis. Dua dari impian Ines sudah mulai berjalan. Menuju impian-impian berikutnya. Wisata Edupreneur! Suatu tempat wisata sekaligus tempat belajar.

******           

“Mbak, sudah sampai Tsuen Wan. Ayo turun” seseorang mengguncang tubuh Ines. Tergeragap Ines dibuatnya. Fikirannya belum memasuki ranah kesadaran penuh. Pandangannya menyapu ruangan yang lengang. Sekali lagi mbak berkerudung biru itu mengguncang tubuh Ines.

“Mbak tertidur rupanya” katanya dengan senyum yang manis. “Yuk turun. Semua orang sudah turun kok, tinggal kita aja” katanya halus.

Bagai kerbau dicocok hidungnya, Ines mengikuti langkah mbak berkerudung biru itu keluar kereta. Perlahan kesadarannya mulai merayap. Ketika sudah pada titik penuh, Ines melirik jam dipergelangan kirinya. My God! Sudah pukul 19.20 menit. Bukan terlambat lagi tetapi… Ines merogoh sakunya, mengambil handphone bututnya. Tak peduli dengan tatapan mbak berkerudung biru di sampingnya. Mungkin dalam hati mbak berkerudung biru berkecamuk berbagai praduga. Ah, biarlah. Itu tidak penting. Ada hal penting yang harus Ines lakukan. Menelpon Mbok bos sekarang juga.

“Dhai-dhai, tu emci. Maaf, saya pulang telat. Ketiduran di kereta sampai Tsuen Wan. Ini saya sedang balik arah. Maafkan saya.”

“Kem lon jon keh? Kok bisa? Ya sudah, kamu pulang, mandi dan beresi rumah. Kita sedang makan di luar. Lain kali jangan di ulangai ya” perkataan Mbok bos otomatis mengendurkan seluruh urat saraf Ines yang menegang sejak tadi.

“Ya, Nyonya. Terima kasih.” Alhamdulillah! Ines mengusap wajahnya penuh syukur. Lega. Urusan sama Mbok bos tidak ada masalah. Tak ada nyanyian merdu malam ini. Tetapi kok  rasanya ada hal lain yang masih mengganjal dihati Ines ya. Apa ya?

Mbak berkerudung biru itu, mahsyaAllah! Mbak yang tadi membangunkannya saat tertidur di dalam kereta. Ines lupa mengucapkan terima kasih padanya. Mata Ines segera berputar menyapu ruangan disekitarnya. Celingak-celinguk. Berlari menaiki eskalator menuju lantai atas, mencoba mencarinya dari ujung ke ujung, pada semua pintu keluar dan masuk MTR. Namun sekeras apapun usaha Ines, bayangan mbak berkerudung biru itu tak didapatinya jua.

Kembali Ines menuruni tangga eskalator tetapi tidak dengan kecemasan seperti beberapa menit yang lalu. Mendung kelabu itu sudah berlalu bersama pernyataan si Mbok bos yang tidak marah atas keterlambatan pulangnya.

“Hai, Ndri... Kamu harus dengar ini. Duh, sayang kamu nggak ikut kelas entrepreneur tadi.”

“Apaan sieh, Nes. Aku nggak ngerti maksudmu?” sahut suara di ujung telepon. Ines sedang menelepon sahabatnya, Indri.

“Ini tentang impian, Indri-ku sayang. My dreamland box. Kotak mimpimu juga. Bahwa setiap manusia itu punya potensi sukses. Mewujudkan impian menuju kesuksesan. Orang lain makan nasi, kita juga. Orang lain bisa sukses kita juga bisa!”

“Inesssssssssssssssss! Kamu nggak lagi mabok kan?” teriak Indri histeris yang disambut tawa berderai-nya Ines.  *( Sham Shui Po, 2/12/2013)



Note : 
Cerpen di atas telah dimuat di Apakabar Plus, Edisi #20 Thn VIII * 21 Desember 2013 - 10 Januari 2014.

Satu hal yang bisa ku katakan, ternyata aku bisa! Mematahkan bahwa menulis itu ternyata tidak sulit kok. Hanya butuh keberanian yang cukup. Berani menulis, mengeluarkan ide, gagasan dan fikiran. berani untuk mempublikasikan. Berani untuk belajar dan dan di kritik. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa tulisanku masih jauh dari bagus. Meski begitu aku siap untuk terus belajar dari berbagai sumber literatur, buku, mentor, komunitas dan ahlinya. Terus move on dan do the best!

Yuuukkk, tarikan penamu, kawan..
Ikatlah ilmu dengan penamu, teman..
InsyaAllah sukses, mulia di gengganman...
Amiienn yaa Robbal 'alamin..

No comments:

Post a Comment