LELAKI
DALAM BINGKAI JENDELA
DALAM BINGKAI JENDELA
*****************************
Hong Kong, Jum'at ( 21 / 6 / 2013 )
Malam sudah mendekati separuhnya. Si mbok bos sudah terlelap dalam buaian malam yg pengap karena Hongkong sedang menapaki musim panas. Kipas kecil di ujung kepalaku sedikit memberikan angin meski tak mampu mendinginkan hatiku yang meletup-letup. Bikin tambah gerah saja!
"Tunggu aku disana ya, Nay" tulisnya pada inbox chat kemarin malam, sehari sebelum keberangkatannya.
"Tunggu aku disana ya, Nay" tulisnya pada inbox chat kemarin malam, sehari sebelum keberangkatannya.
"Ha ha ha... Aku kan ga kemana-mana, mas " ketikku membalas chat inboknya.
"Aku cuma punya waktu 60 jam disana, singkat banget ya ?"
Aku hendak membalas chat-nya, tetapi kalimatnya sudah muncul duluan.
"Sabtu bisa keluar ga ? Aku ada waktu free malam hari, kita dinner dn jjs yuuk... kemana saja kau bawa, aku ngikut dech. Kan kamu tuan rumahnya, he he he he.... ".
Mendengar tawanya yang renyah, da yang berdenyut dalam dadaku. Rasa apa ini, Tuhan? rintihku masih dalam hati.
"Pinginnya sieh. Sayangnya ga bisa keluar. Ketemu minggu saja ya ? " keluar juga jawabku yang dengan susah payah ku ketikkan kalimat demi kalimat.
" Hmmmm... "
Aku tahu dia kecewa. Tapi apa daya, aku hanya seorang pembantu yang mesti sendiko dawuh sama sabda pandita si mbok bos. Apalagi kondisi si mbok bos yang kuling-ling, janda dengan 2 anak. Jadi ga bisa seenaknya keluar karena ga da yang menggantikan tugasku menjaga anak - anak, kecuali si mbok bos off day. Aku sudah menyepakati semua aturannya, jadi mo panfak ! Bagiku yang penting kerja dengannya dengan sepenuh hati dan dia ( mbok bos ) mengerti kondisiku pula. Hubungan kami baik, sudah seperti kakak adik.
Riiinggggg..... Riiiinggggg.... Riiiingggggg....
Klick... klock......klick... klock ...
Jam ayam di sudut tempat tidurku menjerit. Segera kutekan tombol off-nya. Jam ayam ini otomatis akan berbunyi pada tiap jam 12 siang dan 12 malam. Setelah kupastikan off, kembalilah si jam ayam itu pada tempatnya, disamping bantal, dekat dg kuping. Jam ayam yang selalu setia membangunkanku di pagi hari, supaya aku tidak telat bangun dan si koko juga tidak terlambat sekolah. Oh ya, pekerjaanku adalah menjaga dan merawat 2 anak mbok bos-ku, keduanya sailo cai umur 7 & 5 th.
" Pamit dulu ya, Nay. Besok jam 6 aku mesti sudah di bandara Suta. See u in sunday yaah "
" Take care, mas "
" U too, nice dream, ok ! "
Percakapan terakhir yang memporak-porandakan hatiku. Laman fb tiba - tiba begitu hambar kurasakan. Padahal lewat media social ini aku biasa ber ha ha hi hi, say hallow dengan teman-teman dumay-ku dari belahan dunia berbeda dan koment status yang kuanggap cantik, gokil atau bermanfaat.
Upfftttt...!
Kutiup ujung rambutku yang jatuh menjuntai, menghalangi pandanganku. Ku ambil si Dino, boneka kodok kesayanganku. Si Dino malah meleletkan lidahnya, membuatku sebal dan ku tonjok hidungnya. Dengan tanpa dosa, ku jitak kepalanya. Kemudian membenamkannya dalam pelukanku. Mendekapnya erat.
"What should I say, when I met him the day after tomorrow ? Tell me something, Dino...hikkzzz..."
" Bismika ya allohumma ahya, wabismika ya amuuutt ! Berdo'a dan tidur " jawab suara tak berwujud.
Oh, suara siapakah itu ? Tak ada orang lain di kamarku ini. Hiiihhhhhhh !
Aku nyengir sendiri ketika menyadari yang bicara adalah hati kecilku. Ya, itu lebih baik daripada memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Segera kupejamkan mata. Berusaha mengenyahkan semua bayangan tentangnya. Pertanyan-pertanyaan seperti apakah dia? Bagaimana penampilannya, tutur katanya ? Aku mulai meraba-raba tentangnya sampai berdenyut kepalaku. Mas Jey yang belum pernah kutemui. Mas Jey yang hanya ku kenal lewat dumay. Mas Jey yang seorang wartawan ( itu akunya ) tiba-tiba menyempatkan diri mampir Hong Kong hanya untuk bertemu denganku. Seorang Buruh migrant Indonesia / BMI, sebutan untuk TKW Hong Kong. Tapi tak kutemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri.
Sabtu, 22 Juni 2013
Tumben hari sabtu berlalu dengan lambat. Seperti keong kena racun yang semaput enggak, mati juga enggak. Setiap buka laman Fb, cek chat inbok, whatsup, dan email tak kutemukan sedikitpun pesan darinya membuatku menjadi uring-uringan. Males untuk ngapa-ngapain. Moody-ku tiba-tiba menguap entah kemana.
Rumah seperti kapal pecah, aneka mainan terserak sepanjang ruang tamu. Kubiarkan ke-2 anak asuhku bermain sesuka hatinya. Tak ada larangan main, tak ada teriakan . Hari ini kamu merdeka, nak. Cece lagi bad mood. Nikmatilah !
Jam 2 siang tiba-tiba si mbok bos telepon.
" Wai, Cece. Kamu bawa anak-anak ke rumah pakdenya ya. Sudah makan belum ? "
" Sek kan, mami..."
" Oh! Habis makan, istirahat bentar, trus kamu beresi rumah dan segera ke Chai Wan ya ? "
" Hooaakk "
" Jangan lupa matikan semua alat listrik, kompor dan jangan lupa perlengkapan anak-anak ".
" Okeey. Ngo wui-lah, fongsam "
" Emkosai "
" Emsai hak hei "
"Aku cuma punya waktu 60 jam disana, singkat banget ya ?"
Aku hendak membalas chat-nya, tetapi kalimatnya sudah muncul duluan.
"Sabtu bisa keluar ga ? Aku ada waktu free malam hari, kita dinner dn jjs yuuk... kemana saja kau bawa, aku ngikut dech. Kan kamu tuan rumahnya, he he he he.... ".
Mendengar tawanya yang renyah, da yang berdenyut dalam dadaku. Rasa apa ini, Tuhan? rintihku masih dalam hati.
"Pinginnya sieh. Sayangnya ga bisa keluar. Ketemu minggu saja ya ? " keluar juga jawabku yang dengan susah payah ku ketikkan kalimat demi kalimat.
" Hmmmm... "
Aku tahu dia kecewa. Tapi apa daya, aku hanya seorang pembantu yang mesti sendiko dawuh sama sabda pandita si mbok bos. Apalagi kondisi si mbok bos yang kuling-ling, janda dengan 2 anak. Jadi ga bisa seenaknya keluar karena ga da yang menggantikan tugasku menjaga anak - anak, kecuali si mbok bos off day. Aku sudah menyepakati semua aturannya, jadi mo panfak ! Bagiku yang penting kerja dengannya dengan sepenuh hati dan dia ( mbok bos ) mengerti kondisiku pula. Hubungan kami baik, sudah seperti kakak adik.
Riiinggggg..... Riiiinggggg.... Riiiingggggg....
Klick... klock......klick... klock ...
Jam ayam di sudut tempat tidurku menjerit. Segera kutekan tombol off-nya. Jam ayam ini otomatis akan berbunyi pada tiap jam 12 siang dan 12 malam. Setelah kupastikan off, kembalilah si jam ayam itu pada tempatnya, disamping bantal, dekat dg kuping. Jam ayam yang selalu setia membangunkanku di pagi hari, supaya aku tidak telat bangun dan si koko juga tidak terlambat sekolah. Oh ya, pekerjaanku adalah menjaga dan merawat 2 anak mbok bos-ku, keduanya sailo cai umur 7 & 5 th.
" Pamit dulu ya, Nay. Besok jam 6 aku mesti sudah di bandara Suta. See u in sunday yaah "
" Take care, mas "
" U too, nice dream, ok ! "
Percakapan terakhir yang memporak-porandakan hatiku. Laman fb tiba - tiba begitu hambar kurasakan. Padahal lewat media social ini aku biasa ber ha ha hi hi, say hallow dengan teman-teman dumay-ku dari belahan dunia berbeda dan koment status yang kuanggap cantik, gokil atau bermanfaat.
Upfftttt...!
Kutiup ujung rambutku yang jatuh menjuntai, menghalangi pandanganku. Ku ambil si Dino, boneka kodok kesayanganku. Si Dino malah meleletkan lidahnya, membuatku sebal dan ku tonjok hidungnya. Dengan tanpa dosa, ku jitak kepalanya. Kemudian membenamkannya dalam pelukanku. Mendekapnya erat.
"What should I say, when I met him the day after tomorrow ? Tell me something, Dino...hikkzzz..."
" Bismika ya allohumma ahya, wabismika ya amuuutt ! Berdo'a dan tidur " jawab suara tak berwujud.
Oh, suara siapakah itu ? Tak ada orang lain di kamarku ini. Hiiihhhhhhh !
Aku nyengir sendiri ketika menyadari yang bicara adalah hati kecilku. Ya, itu lebih baik daripada memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Segera kupejamkan mata. Berusaha mengenyahkan semua bayangan tentangnya. Pertanyan-pertanyaan seperti apakah dia? Bagaimana penampilannya, tutur katanya ? Aku mulai meraba-raba tentangnya sampai berdenyut kepalaku. Mas Jey yang belum pernah kutemui. Mas Jey yang hanya ku kenal lewat dumay. Mas Jey yang seorang wartawan ( itu akunya ) tiba-tiba menyempatkan diri mampir Hong Kong hanya untuk bertemu denganku. Seorang Buruh migrant Indonesia / BMI, sebutan untuk TKW Hong Kong. Tapi tak kutemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri.
*****
Sabtu, 22 Juni 2013
Tumben hari sabtu berlalu dengan lambat. Seperti keong kena racun yang semaput enggak, mati juga enggak. Setiap buka laman Fb, cek chat inbok, whatsup, dan email tak kutemukan sedikitpun pesan darinya membuatku menjadi uring-uringan. Males untuk ngapa-ngapain. Moody-ku tiba-tiba menguap entah kemana.
Rumah seperti kapal pecah, aneka mainan terserak sepanjang ruang tamu. Kubiarkan ke-2 anak asuhku bermain sesuka hatinya. Tak ada larangan main, tak ada teriakan . Hari ini kamu merdeka, nak. Cece lagi bad mood. Nikmatilah !
Jam 2 siang tiba-tiba si mbok bos telepon.
" Wai, Cece. Kamu bawa anak-anak ke rumah pakdenya ya. Sudah makan belum ? "
" Sek kan, mami..."
" Oh! Habis makan, istirahat bentar, trus kamu beresi rumah dan segera ke Chai Wan ya ? "
" Hooaakk "
" Jangan lupa matikan semua alat listrik, kompor dan jangan lupa perlengkapan anak-anak ".
" Okeey. Ngo wui-lah, fongsam "
" Emkosai "
" Emsai hak hei "
*****
Minggu, 23 Juni 2013
Bangun kesiangan !
Terkejut setelah melihat jam beker ayamku, jarum jamnya menunjuk angka 9. MasyaAllah ! Panik segera menyergapku. Janji dengan mas Jey jam 10 di hotel Exelcior, Causewaybe. Padahal perjalanan via MTR 40 menit. Rumah belum aku bersihkan. Oh, God.... Help me please !
Tak sabar ku chek chat Inbok. Ada beberapa pesan masuk. Termasuk dari mas Jey.
" Morning, cantik ! I'm so sorry. Mendadak aku harus mengerjakan sesuatu, jadi janji ketemu kamu jam 10 harus batal. Aku tunggu kamu di hotel jam 3 sore ya. Lantai 5 Hotel Exelcior, Causewaybe, room 216. See yaahh..."
Aku tak tahu apakah harus bahagia atau senang dengan penundaan ini. Sesaat aku menatap diri dalam cermin. Raut mukaku tak bisa dijabarkan dengan kata. Campuran antara terkejut, sebel, kecewa dan lega. Padahal sudah banyak rencana hari ini, guna menghabiskan satu hari bersama Mas Jey. Sahabat dumay-ku yang sebentar lagi akan kutemui dalam dunia nyata. Seaat kupejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Memberi rongga udara yang tiba-tiba menyesak.
" Nomor telpon, emkooiii... " tulisku membalas inbok mas Jey setelah seluruh kesadaran aku kuasai. Setelahnya, kulakukan kewajibanku mengurus rumah sebagaimana rutinitasku sebelum berangkat libur.
Karena jadwal mendadak berubah, maka aku berjalan menuju Victoria Park. Taman terbesar di Hong Kong yang terletak di jantung kota Causewaybe. Taman yang telah menjadi rumah kedua bagi kami para BMI Hong Kong, tempat meleburkan segala aktifitas dikala libur. Silaturrohmi ke perpus lesehan di sepanjang jalan Victoria Park, mampir di UB Biola ( kelas biola yang diasuh kawan saya Kang Din ), menikmati libur yang tidak padat janji atau acara seperti libur biasanya. Hidup ini indah, kawan !
Kini aku berada didepan kamar 216, lantai 5 Hotel Exelcior, Causewybe. Kulirik jam mungil di pergelangan tangan kiriku. Jam 14.50 menit. lebih cepat 10 menit dari waktu yang di janjikan mas Jey. Tidak ada balasan setelah inbok chat-nya tadi pagi. Begitu pula dengan no telepon yang kuminta. Jadilah aku buta informasi, antara yakin dan tak yakin. Tetapi langkah kakiku sudah sampai disini, tepat dipintu no 216.
Ku tekan bel pintu. Ting tong.... !
Kepalanya menyembul dari balik pintu. Satu senyum manies, menunjukkan deretan giginya yang berbaris rapi dan putih. Senyumnya masih tetap lebar pun saat aku sedikit kikuk dengan suasana ini. Perjumpaan pertama dari pertemanan kami yang hampir 1 tahun di dunia maya.
" Hai Nay... Mau berdiri disitu sampai kapan ? " sapanya ramah, masih dengan senyuman itu. Aku nyengir kuda, masih dengan kikuk yang sama pula.
" Masuk yuuk... Tapi maaf, berantakan kayak gini. Mendekati deadline dan aku butuh banyak referensi, belum sempaet beresin " dia menjelaskan tanpa kuminta.
Secara fisik dia cukup jangkung. Rambut gondrong menyentuh bahu. Memakai kaca mata bening yang membingkai indah matanya yang tajam dan hitam. Dengan celana Cardigan, kaos putih bergambar wayang, Mas Jey terlihat lebih dari lumayan.
Mataku berputar menyapu ruangan, setelah puas mendefisinikan sosok Mas Jey. Ruangan ini memang lebih mirip gudang daripada kamar hotel. Kertas disana-sini, peta Hong Kong di atas tempat tidur, majalah, buku, koper, jas, kaos dan barang-barang lainnya yang ga bisa kusebutkan satu persatu berserakan di segala penjuru kamar.
" Ya, Tuhan ! " Aku berseru tertahan. Hanya itu yang keluar dari mulutku.Tanganku mulai bergerak merapikan tanpa bisa kucegah.
" Oh, Nay. Kamu ga perlu lakukan itu. Duduk aja yang manies " Mas Jey menyodorkan kursi dan menyuruh aku duduk. " Biar aku yang beresin setelah aku selesai menyelesaikan kerjaanku. Give me ten minutes, ok !"
" Ok ! " jawabku pendek.
" Selesaikan sj kerjaan Mas dan dalam 10 menit itu aku sudah selesai merapikan kamar ini, Ok ? "
Mas Jey hanya mengangkat bahu, tidak berhasil membujukku. Mengambil 2 soft drink dari kulkas, mengangsurkannya 1 untukku dan 1 untuk dirinya sendiri. Setelah itu kembali duduk di meja, pas di depan jendela dengn posisi membelakangiku. Menekuri lap top-nya yang masih menyala, kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Aku segera bergerak membereskan ruangan, supaya rapi dan sedap di pandang mata. Pekerjaan yang tidak susah karena itulah tugas sehari-hariku sebagai penata laksana rumah tangga untuk wilayah kerja Hong Kong. Sejenak ku tatap Mas Jey dari balik punggungnya. Aku belum mengenalnya, kecuali lewat dunia maya. Lewat chat inbok email / chat Fb dan belum pernah melihatnya secara langsung kecuali foto-fotonya. Kadang dia datang seperti angin dengan membawa cerita-cerita segar, diskusi-diskusi panjang juga anekdot lucu yang bikin aku senyum sendirian. Kadang tidak ada kabar beritanya untuk sekian lama yang membuatku bertanya-tanya bahkan khawatir. Semua mengalir begitu saja. Pertemuan ini tidak jauh beda dengan gayanya di dunia maya. Dan begitu saja aku merasa nyaman di dekatnya.
Lelaki dalam bingkai jendela !
( Hong Kong, 7 Juli 2013 - end )
Tak sabar ku chek chat Inbok. Ada beberapa pesan masuk. Termasuk dari mas Jey.
" Morning, cantik ! I'm so sorry. Mendadak aku harus mengerjakan sesuatu, jadi janji ketemu kamu jam 10 harus batal. Aku tunggu kamu di hotel jam 3 sore ya. Lantai 5 Hotel Exelcior, Causewaybe, room 216. See yaahh..."
Aku tak tahu apakah harus bahagia atau senang dengan penundaan ini. Sesaat aku menatap diri dalam cermin. Raut mukaku tak bisa dijabarkan dengan kata. Campuran antara terkejut, sebel, kecewa dan lega. Padahal sudah banyak rencana hari ini, guna menghabiskan satu hari bersama Mas Jey. Sahabat dumay-ku yang sebentar lagi akan kutemui dalam dunia nyata. Seaat kupejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Memberi rongga udara yang tiba-tiba menyesak.
" Nomor telpon, emkooiii... " tulisku membalas inbok mas Jey setelah seluruh kesadaran aku kuasai. Setelahnya, kulakukan kewajibanku mengurus rumah sebagaimana rutinitasku sebelum berangkat libur.
Karena jadwal mendadak berubah, maka aku berjalan menuju Victoria Park. Taman terbesar di Hong Kong yang terletak di jantung kota Causewaybe. Taman yang telah menjadi rumah kedua bagi kami para BMI Hong Kong, tempat meleburkan segala aktifitas dikala libur. Silaturrohmi ke perpus lesehan di sepanjang jalan Victoria Park, mampir di UB Biola ( kelas biola yang diasuh kawan saya Kang Din ), menikmati libur yang tidak padat janji atau acara seperti libur biasanya. Hidup ini indah, kawan !
****
Kini aku berada didepan kamar 216, lantai 5 Hotel Exelcior, Causewybe. Kulirik jam mungil di pergelangan tangan kiriku. Jam 14.50 menit. lebih cepat 10 menit dari waktu yang di janjikan mas Jey. Tidak ada balasan setelah inbok chat-nya tadi pagi. Begitu pula dengan no telepon yang kuminta. Jadilah aku buta informasi, antara yakin dan tak yakin. Tetapi langkah kakiku sudah sampai disini, tepat dipintu no 216.
Ku tekan bel pintu. Ting tong.... !
Kepalanya menyembul dari balik pintu. Satu senyum manies, menunjukkan deretan giginya yang berbaris rapi dan putih. Senyumnya masih tetap lebar pun saat aku sedikit kikuk dengan suasana ini. Perjumpaan pertama dari pertemanan kami yang hampir 1 tahun di dunia maya.
" Hai Nay... Mau berdiri disitu sampai kapan ? " sapanya ramah, masih dengan senyuman itu. Aku nyengir kuda, masih dengan kikuk yang sama pula.
" Masuk yuuk... Tapi maaf, berantakan kayak gini. Mendekati deadline dan aku butuh banyak referensi, belum sempaet beresin " dia menjelaskan tanpa kuminta.
Secara fisik dia cukup jangkung. Rambut gondrong menyentuh bahu. Memakai kaca mata bening yang membingkai indah matanya yang tajam dan hitam. Dengan celana Cardigan, kaos putih bergambar wayang, Mas Jey terlihat lebih dari lumayan.
Mataku berputar menyapu ruangan, setelah puas mendefisinikan sosok Mas Jey. Ruangan ini memang lebih mirip gudang daripada kamar hotel. Kertas disana-sini, peta Hong Kong di atas tempat tidur, majalah, buku, koper, jas, kaos dan barang-barang lainnya yang ga bisa kusebutkan satu persatu berserakan di segala penjuru kamar.
" Ya, Tuhan ! " Aku berseru tertahan. Hanya itu yang keluar dari mulutku.Tanganku mulai bergerak merapikan tanpa bisa kucegah.
" Oh, Nay. Kamu ga perlu lakukan itu. Duduk aja yang manies " Mas Jey menyodorkan kursi dan menyuruh aku duduk. " Biar aku yang beresin setelah aku selesai menyelesaikan kerjaanku. Give me ten minutes, ok !"
" Ok ! " jawabku pendek.
" Selesaikan sj kerjaan Mas dan dalam 10 menit itu aku sudah selesai merapikan kamar ini, Ok ? "
Mas Jey hanya mengangkat bahu, tidak berhasil membujukku. Mengambil 2 soft drink dari kulkas, mengangsurkannya 1 untukku dan 1 untuk dirinya sendiri. Setelah itu kembali duduk di meja, pas di depan jendela dengn posisi membelakangiku. Menekuri lap top-nya yang masih menyala, kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Aku segera bergerak membereskan ruangan, supaya rapi dan sedap di pandang mata. Pekerjaan yang tidak susah karena itulah tugas sehari-hariku sebagai penata laksana rumah tangga untuk wilayah kerja Hong Kong. Sejenak ku tatap Mas Jey dari balik punggungnya. Aku belum mengenalnya, kecuali lewat dunia maya. Lewat chat inbok email / chat Fb dan belum pernah melihatnya secara langsung kecuali foto-fotonya. Kadang dia datang seperti angin dengan membawa cerita-cerita segar, diskusi-diskusi panjang juga anekdot lucu yang bikin aku senyum sendirian. Kadang tidak ada kabar beritanya untuk sekian lama yang membuatku bertanya-tanya bahkan khawatir. Semua mengalir begitu saja. Pertemuan ini tidak jauh beda dengan gayanya di dunia maya. Dan begitu saja aku merasa nyaman di dekatnya.
Lelaki dalam bingkai jendela !
( Hong Kong, 7 Juli 2013 - end )
ceritanya diambil dari pengalaman nyata yach??? :-D
ReplyDelete*nice...... mbak Nay..... hihi
Sebagian kecil / ide-nya sich iya.... selebihnya just fantasi....
Delete* tengkyuuuuu.... Nay emang manies kok....he he he