Sunday, July 21, 2013

FAMILY

CEMPLOK OH CEMPLOK

********


Hati ibu yang mana yang tak teriris tatkala harus meninggalkan buah hatinya. Apalagi masih balita yang tentunya membutuhkan lebih dari sekedar materi. Oh, aku kira anak tak akan mengerti arti materi / uang. Karena anak  lebih membutuhkan kasih sayang, sentuhan dekapan dan belaian ibunya, sampai kapan-pun. Sampai ia dewasa dan menjadi ibu sekali-pun, peran ibu tetap di hatinya. Aku baru memahami hal ini ketika aku juga menjadi seorang ibu.

Perih, luka, tercabik !
Perasaan bersalah dan perasaan tak tentu lainnya mengiringi kepergianku ke negeri beton, Hong Kong. Meninggalkan buah hatiku, my Cemplok Violetta Kanaya Tirta ( biasa di panggil Io - baca Iyoo ) di usianya yang baru 14 bulan, di kampung halaman bersama ayahnya yang aku tahu juga  tak kalah pilu. Usapannya yg lembut di pundakku, genggaman tangannya yang hangat, tatap matanya bicara banyak hal, menguatkan langkahku karena kita sama-sama tak bisa bicara saat perpisahan itu terjadi. Dengan alasan meraih asa, sejuta harapan akan perubahan kehidupan lebih baik. Bismillah, kukuatkan hati meski sesak itu menyesak, meski air mata tak hentinya mengalir. Puiiiffttt ! Remuk redam seluruh jiwa raga!

Jangan ditanya malam-malam pertama jauh darinya ? Angin jadi saksi setia. Malam menyisakan sepi dihati. Langit kamar menjadi lukisan kerinduan. Pokoknya sensitif dan lebay banget dech. Yakin, ini pasti dirasakan oleh semua ibu yang ada di negeri beton.

Herannya, makin hari makin banyak ibu yang meninggalkan anaknya demi kesejahteraan lebih baik !
Negeri orang lebih menggiurkan dari negeri sendiri. Maka anak-anak tumbuh besar tanpa ibunya. Janji 2 tahun, bertambah 4 tahun, molor 6 tahun, jadi 8 tahun bahkan sampai anaknya sudah menikah, punya anak lagi dan si anak yang sudah menikah menyusul ibunya dengan alasan yang sama pula. Tentu saja aku tidak menyalahkan mereka. Ada beragam faktor yang memepengaruhinya. Alasan kenapa kami para ibu rela disini, meninggalkan suami dan buah hati di kampung. Alasan memperbaiki ekonomi keluarga, pendidikan ( di luar negeri terutama di Hong Kong akses pendidikan jauh lebih mudah dengan fasilitas yang memadai ), social-budaya ( budaya kawin muda ), patah hati, tergiur tetangga yang sudah sukses dan cerita tentang glamoritas Hong Kong menjadi magnet yang luar biasa hebat. Maka dari tahun ke tahun, naiklah angka pemberangkatan TKI ke luar negeri, termasuk ke Hong Kong.

Inilah hidup kawan...
Mau tidak mau...
Rela tidak rela....
Resiko atas pilihan...

Sekarang my cemplok genap berusia 5 th. Alhamdulillah sudah mau sekolah. Sebelumnya selalu mengancam " tidak akan sekolah sebelum ibu dan tante Evi ( adikku ) pulang ". Susah payah kami membujuknya, tetapi tetap kukuh pada pendiriannya. Ujungnya ngambek, hdweehhh...


Ceria bermain
* Puisi untuk Cemplok!

Terik menyengat kulit
Hujan membasuh bumi
Air mata membanjir kala rindu itu menggoda
Do'a,
Selaksa do'a untukmu disana
Cepat besar engkau, nak
Senyummu adalah matahari ibu
Tawamu adalah penawar luka
Tangismu adalah rindumu pada ibu
Nak,
Janji ibu tak akan lama
Benar-benar tak akan lama
Waktu adalah fatamorgana
Sampai nanti kita bersua
Nak,
Peluk cium ibu biar dibawa udara
Menghantar sepenuh cinta
Sungguh tidak akan lama
Sebentar lg bersua
Promise !

Hong Kong, 21/7/2013
 


Mewarnai

Bersama teman

Bersama kak Jihan





2 comments:

  1. Meski aku blm mnjd ibu, tp aku dapat merasakan Hati yg teriris, perih, luka & tercabik .

    Dikala rindu menghampiri,
    Selaksa do'a-do'a,
    Tawa penawar luka,
    Serta janji yg tak akan lama
    Bravoooooo....!!!!!!!

    *mengharu biru mbak pipiet, nangis bombay dech.... :'(


    ReplyDelete
    Replies
    1. Tisyuuuuu... Handuk... Ember... kemana yua ? Hikkzz....

      * peluk teletabies non Memes....

      Delete