Friday, March 28, 2014

PENTINGNYA PENDIDIKAN & KEAHLIAN


Catatan sebuah pengalaman!

Bagaimana pendapatmu akan pentingnya pendidikan? Apakah penting, kurang penting atau tidak penting?

Menurutku, pendidikan itu penting. Perlu digaris-bawahi, penting baget! Hak siapa saja yang ingin maju dan berkembang. Tidak melihat apakah dia kaya, miskin, buruk, cantik, jelek dan sebagainya. Termasuk aku yang TKW/BMI. Ada banyak pembelajaran, hikmah yang bisa ku petik dan ikuti selama berada di Hong Kong, di mana hal tersebut tidak bisa  aku dapatkan di Indonesia. Lebih tepatnya tidak ada kesempatan dan akses kesana. Benar tidak?

Aku jadi ingat kata dosennya M.Rifa'i Rifan, seorang motivator dan penulis buku best seller bahwa "pendidikan itu ibarat sebuah pisau. Pisau itu bisa kau gunakan kapan saja sesuai kebutuhan. Akan menjadi tajam atau tumpul tergantung yang memakainya."

Nah, jika TKW/BMI NGAMPUS? So, what?

Impian adalah sesuatu yang membuat kita lebih hidup. Karena impian membuat kita mempunyai harapan. Selanjutnya harapan itu membuat kita berjuang untuk bisa mewujudkannya. Keinginan untuk sekolah itu selalu membara di dalam dada. Sayang kesempatan dan sarana tidak mendukung ketika masih di Indonesia. But, ketika hidup mengantarkanku menjadi seorang TKW/BMI Hong Kong dan kesempatan itu ada, langsung aku angkut saja. Berbagai alternatif pendidikan bisa kita pilih sesuai dengan passion atau minat. Termasuk kuliah online. Tentu ini memudahkanku yang statusnya TKW dengan ruang dan waktu terbatas. Beruntung aku kenal Mandiri sahabatku, program pendidikan praktis kewirausahaan yang di gagas oleh bank Mandiri. Dari kelas ini pula yang mengentarkanku kenal dengan Ciputra Entrepreneurship Center, lanjut ke kelas ritel dan manajemen Universitas Ciputra Entrepreneurship Online (UCEO), Surabaya.

UCEO, Surabaya
Yuuppp...
Sejak itu mindset-ku jauh berubah. Banyak hal yang bisa aku kembangkan dari berbagai resourches atau sumber daya yang ada. Teori efektuasi by Saraswati, boothstraping, takutiruko, blue ocean, merubah rongsokan menjadi emas, task resking, mengelola kegagalan, dan banyak lagi materi kewirausahaan yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam bisnis kita. Bukan sekedar menjadi pedagang, penulis, atau profesi apa pun. Tetapi dengan jiwa entreprenuership kita mampu mengembangkan seluruh potensi yang ada.

Masa-masa 4 th di Hong Kong adalah masa penggemblengan diri. Ini lompatan mindset yang luar biasa. Di ikuti dengan berbagai tawaran yang tidak kuduga sebelumnya. Dua tahun terakhir menjadi moment yang mengantarkankanku pada satu statment bahwa "nothing imposible, selama kita mau berusaha, belajar dan berdo'a lebih keras." Dengan lantang ku katakan, YES I CAN!

Yang tak kalah penting adalah keahlian. Mungkin kita tidak punya gelar sarjana atau doktor, tetapi dengan mmpunyai keahlian/skill, maka itu juga sebuah pisau yang lain. Kita tidak akan tahu kapan akan menggunakannya. Bisa jadi tidak sekarang, mungkin di butuhkan pada saat kepepet. Jadi, selama 4 th di Hong Kong aku juga membekali diriku dengan berbagai keahlian terutama di bidang kerajinan dan pengembangan diri. Aku tak mau kepergianku meninggalkan anak dan suami menjadi sia-sia. Pulang hanya membawa uang saja, ah itu mah biasa. Tetapi pulang membawa ilmu, ketrampilan, keahlian dan mindset yang berbeda itu membuat aku pribadi jauh lebih percaya diri.

Jadi, jika ada kesempatan, sarana yang menunjang dan kamu abaikan begitu saja, hmmmm.. Nyesel itu tempatnya di belakang loh! So, yuk kita c'mon... Memanfaatkan segala hal untuk pengembangan diri dan aktualisasi diri. Setuju?

Nah, menjadi TKW/BMI yang smart bukanlah omong kosong belaka bukan? Semoga kelak bisa menjadi "the agents of change" atau agen perubahan untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Itu harapan dan impianku yang lain. Its so simple!

Masalah tentu saja banyak sekali dalam perjalanannya. Pun ketika sekarang aku sudah mudik ke kampung halaman, di Indonesia tercinta. Meski rencana sudah di susun matang, persiapan sudah maksimal, toh Indonesia bukanlah Hong Kong yang segala fasilitas publiknya nyaman dan lancar. So, kendala demi kendala terus terang membuatku pusing tujuh keliling. Fasilitas publik, ribetnya birokrasi, tempat di kampung yang cukup jauh dari kota, jaringan net yang lelet, kondisi sosial masyarakat kampung yang psimitif menjadi tantangan yang harus ku taklukkan. Membuatku harus beradaptasi lagi dengan Indonesia-ku (maaf) yang harap maklum dalam berbagai halnya. Mencari solusinya dan alhamdulillah, satu per satu menemukan jalannya.

Ahaaa..
Jaringan net sudah mulai lancar. Kantor my homepreneur sudah bisa di tempati. Peralatan dan harta karun dari Hong Kong juga sudah datang. Keluarga kelinciku juga mulai bertambah, dan saatnya berburu lagi. Dekat dengan Cemplok dan Cinta, nikmat dr Tuhan-MU yang mana yang aku dustakan? Syukurku semakin bertambah, semoga semua di mudahkan oleh-NYA. 

PR masih segunung yang harus ku selesaikan dengan segala permasalahannya. So, bismillah.. 
Say no to malas. Say no tak bisa dengan percaya bahwa setiap maslah ada solusinya. Memulai lagi meski dari nol, so what gitu loh?

Ini pengalamanku. Apa pengalaman-mu kawan?


Inspiratif, kelas Mandiri Sahabatku, Hong Kong.


Training Cerdas Mengelola Keuangan


Me & my mentor

No comments:

Post a Comment