BELAJAR DARI MUSIK ANGKLUNG
Minggu (19/1/14), Gedung KITEC, Kowloon Bay menjadi saksi symponi musik angklung yang di mainkan dadakan oleh para BMI Hong Kong. Bank Mandiri secara cuma-cuma membagikan 700 angklung kepada para peserta di acara penutupan kelas wirausaha Mandiri Sahabatku angkatan ke-5. Aku yakin, sebagian besar yang hadir belum pernah memainkan. Wong cara pegangnya saja pada salah? Nah loh?
Namun dengan sabar Kang Hari dari Saung Angklung Udjo (http://www.angklung-udjo.co.id/), Bandung membimbing kami untuk memahami, mengerti kemudian bisa memainkan alat musik angklung. Tentu dengan arahan nada yang sedikit-demi sedikit kami pelajari dengan konsentrasi penuh. Rasanya seperti anak kecil, ketika nada-nada itu menyatu menjadi harmonisasi yang indah. Mulai dari lagu balonku ada lima, kasih ibu, bengawan solo, cucak rowo, beri aku kekasih, dangdut dan di tutup dengan lagu tanah airku. Seperti anak kecil, aku dan lainnya memekik gembira. Tanpa sadar aku sempat melompat-lompat kegirangan saat itu.
Yup, inilah pengalaman pertamaku memainkan alat musik bambu bernama angklung dalam formasi lengkap. Selama ini aku pikir susah ya main angklung. Sama susahnya dengan main gamelan jawa sebagai salah satu alat musik tradisional. Sama halnya dengan belajar entreprenuership atau pelajaran lainnya yang aku anggap susah, sangat susah atau tidak mungkin.
Lebih dari itu, filosofi Angklung-lah yang membuatku tercenung. Sebuah angklung di buat dengan nada yang berbeda. Ada 8 angklung dengan nada berbeda pda setiap angklungnya. Do (1), re (2), mi (3), fa (4), sol (5), la (6), si (7), do tinggi (i), itulah pembeda nada yang tertera di setiap angklung. Sebuah angklung jika di mainkan sendiri, bunyinya sungguh tak merdu. Tetapi jika di mainkan bersama-sama dengan arahan seorang konduktor maka sebuah angklung itu membentuk harmonisasi yang indah.
Inilah filosofi teamwork! Satu angklung tak akan ada artinya. Banyak angklung dengan mengikuti arahan konduktor menjadi kolaborasi nada yang luar biasa. Nada rendah dan tinggi tak pernah iri. Saling mengisi sehingga menjadi satu lagu nan merdu.
Aku termenung cukup lama. Mengurai kembali benang-benang yang carut marut. Mungkin di antara aku, kamu atau siapa saja sulit melebur menjadi satu team yang solid. Saling egois, eyel-eyelan, iri dengan kerja temannya yang lain. Padahal sesungguhnya jika kita mengerjakan bagian kita dengan ikhlas, betapa kerja seberat apa pun jika di usung bersama bukankah menjadi ringan?
Mari saling menghargai, saling percaya dan terus mau belajar saling menguatkan teamwork kita. Seperti konduktor yang begitu sabar mengarahkan orkestra yang di pimpin-nya, meski awalnya tumpang tindih dan tidak enak di dengar telinga. Seperti para angklung yang disiplin mengikuti arahan sang konduktor. Ada timbal balik yang seirama antara keduanya. Ada hal yang harus kita patuhi, ada hal yang menuntut kita belajar lebih keras lagi. Menyelaraskan hak dan kewajiban sehingga tercipta nada indah, menjadi lagu dan musik yang merdu.
*** Pesan moralnya adalah jangan menyerah untuk terus belajar, sesulit apa pun itu. Di tambah iri dalam kebaikan adalah pemacu semangat. Setuju?
Namun dengan sabar Kang Hari dari Saung Angklung Udjo (http://www.angklung-udjo.co.id/), Bandung membimbing kami untuk memahami, mengerti kemudian bisa memainkan alat musik angklung. Tentu dengan arahan nada yang sedikit-demi sedikit kami pelajari dengan konsentrasi penuh. Rasanya seperti anak kecil, ketika nada-nada itu menyatu menjadi harmonisasi yang indah. Mulai dari lagu balonku ada lima, kasih ibu, bengawan solo, cucak rowo, beri aku kekasih, dangdut dan di tutup dengan lagu tanah airku. Seperti anak kecil, aku dan lainnya memekik gembira. Tanpa sadar aku sempat melompat-lompat kegirangan saat itu.
| Memainkan musik angklung |
Yup, inilah pengalaman pertamaku memainkan alat musik bambu bernama angklung dalam formasi lengkap. Selama ini aku pikir susah ya main angklung. Sama susahnya dengan main gamelan jawa sebagai salah satu alat musik tradisional. Sama halnya dengan belajar entreprenuership atau pelajaran lainnya yang aku anggap susah, sangat susah atau tidak mungkin.
Lebih dari itu, filosofi Angklung-lah yang membuatku tercenung. Sebuah angklung di buat dengan nada yang berbeda. Ada 8 angklung dengan nada berbeda pda setiap angklungnya. Do (1), re (2), mi (3), fa (4), sol (5), la (6), si (7), do tinggi (i), itulah pembeda nada yang tertera di setiap angklung. Sebuah angklung jika di mainkan sendiri, bunyinya sungguh tak merdu. Tetapi jika di mainkan bersama-sama dengan arahan seorang konduktor maka sebuah angklung itu membentuk harmonisasi yang indah.
Inilah filosofi teamwork! Satu angklung tak akan ada artinya. Banyak angklung dengan mengikuti arahan konduktor menjadi kolaborasi nada yang luar biasa. Nada rendah dan tinggi tak pernah iri. Saling mengisi sehingga menjadi satu lagu nan merdu.
| Kang Hari, konduktor dari Saung Udjo |
Aku termenung cukup lama. Mengurai kembali benang-benang yang carut marut. Mungkin di antara aku, kamu atau siapa saja sulit melebur menjadi satu team yang solid. Saling egois, eyel-eyelan, iri dengan kerja temannya yang lain. Padahal sesungguhnya jika kita mengerjakan bagian kita dengan ikhlas, betapa kerja seberat apa pun jika di usung bersama bukankah menjadi ringan?
Mari saling menghargai, saling percaya dan terus mau belajar saling menguatkan teamwork kita. Seperti konduktor yang begitu sabar mengarahkan orkestra yang di pimpin-nya, meski awalnya tumpang tindih dan tidak enak di dengar telinga. Seperti para angklung yang disiplin mengikuti arahan sang konduktor. Ada timbal balik yang seirama antara keduanya. Ada hal yang harus kita patuhi, ada hal yang menuntut kita belajar lebih keras lagi. Menyelaraskan hak dan kewajiban sehingga tercipta nada indah, menjadi lagu dan musik yang merdu.
*** Pesan moralnya adalah jangan menyerah untuk terus belajar, sesulit apa pun itu. Di tambah iri dalam kebaikan adalah pemacu semangat. Setuju?
No comments:
Post a Comment