Ada seorang kawan yang mengirim email dan bertanya padaku. Pertanyaannya begini,"bagaimana cara beramal orang-orang muda yang berprestasi?"
Glek!
Aku langsung menelan ludah. Apakah aku orang berprestasi? Pertanyaan itu kembali kuajukan untuk diriku sendiri. Aku merenung cukup lama. Mencoba memutar kembali hal-hal yang terjadi dalam hidupku. Rasanya tak ada prestasi yang patut di banggakan. Aku bukan si otak briliant yang mampu menciptakan hal-hal baru. Bukan seorang yang yang mencapai karier di puncak anak tangga. Ah, rasanya hidupku biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa kecuali punya anak perempuan yang cantik, cerdas, dan InsyaAllah sholeha. Punya suami yang penuh cinta dan selalu mensuport segala kegiatan positifku.
Jika layak di sebut prestasi mungkin si mindset-ku kali ya. Selama 2 tahun terakhir pola pikirku memang jauh melesat di luar perkiraanku. Melakukan hal-hal sederhana, belajar untuk move on dan tak lelah mengembangkan diri. Tak ada yang mustahil asal kita mau belajar, berusaha keras atas izin-NYA.
Apakah ini di sebut prestasi?
Hmmmmm... Rasanya pantas kok. Aku memang perlu memberikan penghargaan atas diriku, pencapaian pada tiap semangat dan pengorbananku. Jika orang lain tidak setuju, ya silahkan saja.
Jujur, ketika temanku yang penulis itu bertanya aku merasa tersanjung. Terlepas apakah aku memang orang muda berprestasi, atau bukan itu tak penting lagi. Maka jawaban atas pertanyaan kawanku itu simple saja. Caraku beramal ya dengan berbagi apa yang aku tahu, apa yang aku bisa. Tidak harus berupa materi atau uang, tapi jika ada kenapa tidak. Bisa jadi itu ilmu, ketrampilan, semangat, buku atau sekedar berbagi info. Yang penting tidak berbagi suami saja, hi hi hiiii..
| Berbagi ketrampilan |
Itu aku lakukan sejak menginjakkan kaki di Hong Kong, bertekad untuk merubah diriku menjadi seseorang yang bermanfaat. Berawal dari hobby pernak-pernik, kemudian belajar berbagai ketrampilan tangan. Membaginya dengan kawan lainnya sehingga ilmu dan ketrampilan itu mengalir tak putus. Memberi manfaat kepada yang lainnya. Setiap libur kuisi dengan belajar bersama ketrampilan (pada awalnya) dari taman ke taman. Tak lelah meski waktu liburku berubah jadi lebih padat jadwalnya, belajar bersama ketrampilan. Itu kujalani selama hampir 2 tahun pertama di Hong Kong.
Pada tahun ke-3 aku belajar lebih banyak untuk pengembangan diriku. Entrepreneurship, berorganisasi, teamwork, jurnalistik dan apa saja yang bisa menambah wawasanku. Dan aku tak segan-segan membaginya melalui tulisan baik di facebook, blog maupun forum diskusi. Cara beramalnya dengan memberikan kailnya dan biarkan ia mendapatkan ikan dengan caranya sendiri. Kreatifitasnya sendiri. Sabar dan terus berproses. Dan yang lebih penting adalah ikhlas lilahi ta'ala.
Berbagi itu indah. Dengan berbagi maka pintu rizki kita yang tertutup akan terbuka dengan caranya sendiri. Dengan berbagi maka saudara kita bertambah banyak. Percaya dech, apa yang kau semai itu yang kau petik. Jika kau menanam padi masih mungkin akan panen padi atau gulma. Tapi jika kau menanam gulma tak akan memetik padi. Begitulah ilmu berbagi seharusnya. Semakin banyak kau semai, semakin banyak pula kau tuai hasilnya. Seringnya tanpa di sangka-sangka. Tak percaya? Coba saja. Jangan lupa sertakan senyum termanis dan sebongkah ikhlas karena-NYA ya.
Semoga kita menjadi insan yang ringan tangan berbagi. Di mudahkan segala niat dan urusan kebaikannya. Allohumma amiien!
*Pesan moralnya adalah berbagi itu indah bukan? Berbagilah meki hanya satu senyum termanis saja...

No comments:
Post a Comment